8 Emak-emak Masuk Rumah Sakit Pasca Bentrok dengan Satpam Perkebunan di Langkat

sentralberita | Langkat ~ Sebanyak delapan orang emak-emak warga Langkat harus dilarikan ke Rumah Sakit Pertamina Brandan karena mengalami luka-luka diduga akibat dipukul satpam perkebunan usai bentrok dalam aksi demo warga yang berakhir ricuh, dikutip Sabtu (3/4).

Sebelumnya, Jumat siang terjadi bentrok antara satpam perkebunan dengan warga yang pada umumnya terdiri dari emak emak ini.

Mereka diduga dipukul dan ditendang oleh satpam gabungan perkebunan swasta yang ada di seputaran Kabupaten Langkat. Dalam aksi tersebut diperoleh informasi tiga satpam juga mengalami luka luka dan juga dirawat di RS Pertamina Brandan

Tugiem salah seorang warga menyebutkan, awalnya ibu ibu membuat orasi damai duduk di tenda. Lalu saat itu datang dua mobil orang berteriak yel yel dan langsung turun menyerang warga.

“Kami kan hanya orasi damai, yang duduk-duduk di tenda lalu tiba tiba diserang. Kami ini perempuan tapi diserang ada yang kena pukul dan tendang. Kami harap keadilan bagi masyarakat kecil jangan pakai kekerasan dengan perempuan,” kata Tugiem yang dirawat di RS Pertamina Brandan.

Berdasarkan informasi saat demo kali ini kali ini satpam gabungan kebun PT Sri Timur, PT Rapala dan PT Lintong turun tangan untuk memukul mundur ratusan masyarakat Desa Sungai Tualang.

Puncak kemarahan perusahaan perkebunan swasta ini disebabkan oleh demo masyarakat yang sudah dilakukan selama dua bulan di pinggir jalan dan memasang portal tempat keluarnya hasil panen perkebunan.

Peristiwa ini juga merupakan buntut panjang sengketa lahan seluas 500 hektare lebih antara masyarakat Desa Sungai Tualang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat dengan perusahaan swasta PT Sri Timur.

Dimana sekitar kurang lebih dua bulan warga menggelar aksi demonstrasi di tepi jalan menuntut pengembalian 500 hektare lahan yang kini dikuasai perusahaan swasta.

Warga marah, dan menggelar aksi demonstrasi karena tanah yang selama ini menjadi penghidupannya dirampas oleh perusahaan swasta. Dan kasus tersebut, hingga kini tidak ada penyelesaian baik dari aparat penegak hukum maupun Pemkab Langkat.

Sebelumnya mediasi warga dengan pihak perusahaan sudah berulang kali dilakukan namun tidak ada penyelesaian. Pihak perusahaan juga telah melapor ke Polres Langkat terkait demo yang dilakukan masyarakat dan sudah ditetapkan lima orang warga sebagai tersangka.

Hingga kini masyarakat masih terus mempertahankan haknya dan jika sembilan tuntutan masyarakat tidak dipenuhi maka ratusan warga desa akan menempuh jalur hukum dengan tuntutan mencabut HGU PT Sri Timur.
(Si)