Kongres HMI Memanas, Hingga Kamis Dinihari Ramai Orasi Kader

sentralberita | Surabaya ~ Kongres XXXI Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Gedung Islamic Centre, Surabaya, masih berlangsung hingga Kamis (25/3) dini hari. Agenda sidang kini memasuki pleno ke IV atau pemilihan ketua umum baru.

Sejumlah kandidat mulai berdatangan dengan disambut sorak-sorai pendukung masing-masing. Mereka berkerumun, tanpa jarak, sebagian bahkan tak mengenakan masker.

“Menang, menang, menang,” teriak para kader.

Sementara itu, di luar gedung sejauh radius 300 meter, puluhan kader HMI nonpeserta kongres kembali memaksa masuk ke arena.

Mereka kemudian diadang aparat kepolisian. Para kader HMI itu lalu bergantian berorasi menggunakan pengeras suara. Salah di antaranya bahkan memprovokasi polisi yang berjaga.

“Kalian [polisi] di sini malam-malam kenapa?” teriak salah seorang orator.

Ia melanjutkan bahwa maksud kedatangan mereka adalah untuk menyampaikan aspirasi tanpa mengganggu ketertiban umum.

Sementara mereka berorasi pada pukul 03.00 WIB dini hari di tengah pemukiman warga.

“Kami tidak mengganggu ketertiban umum. Lebih baik kalian tidur saja, kami di sini datang dengan intelektual. Bukan dengan kekerasan,” ucapnya.

Pantauan di lokasi, situasi Kongres XXXI HMI baik di dalam maupun di luar gedung, terpantau kondusif.

Dugaan Penyusup Kongres
Sejumlah kandidat Ketua Umum PB HMI menduga gelaran Kongres XXXI HMI telah disusupi pihak eksternal.

Para kandidat ketua umum yang mengungkap temuan itu yakni, Hassan Basri Basso yang diusung HMI Cabang Makassar, Taufan Iksan Tuarita juga dari Makassar, dan M Nur Aris Shoim diusung HMI Cabang Yogyakarta.

Menurut mereka kongres adalah forum tertinggi dalam organisasi. Orang-orang yang boleh hadir dalam acara itu adalah para kader internal HMI.

“Tapi kenyataannya peserta kongres itu dihadiri oleh pihak eksternal,” kata Hassan di Surabaya.

Pihak eksternal itu, kata Hasan, duduk di antara para peserta kongres. Mereka mengikuti jalannya forum, padahal orang tersebut bukanlah kader HMI cabang manapun.

Ia juga menyebut ciri-ciri penyusup tersebut. Mereka memakai kaus, menggunakan sandal dan tak berpakaian resmi. Hal itu kontras dengan penampilan peserta kongres yang mengenakan setelan resmi.

“Mereka duduk bersama para peserta. Jadi di HMI itu punya ciri khas tersendiri ketika berkongres. Dia memakai sepatu, memakai kemeja dan itu menjadi aturan tersendiri bagi kami,” kata dia.

“Sementara yang masuk dalam forum ini pakai sandal, kaus, topi kemudian badannya tinggi besar. Kami tidak menyebut siapa-siapa,” sambungnya.

Kehadiran penyusup itu, kata Hasan, menjadi salah satu faktor yang membuat sejumlah peserta tak nyaman dan berbuntut kericuhan.

Meski begitu, Hassan mengaku tidak tahu siapa pihak eksternal dalam kongres HMI tersebut. Pihaknya kini tengah menghimpun sejumlah bukti foto orang-orang tersebut.

“Kami tidak tahu pasti pihak siapa yang masuk ke dalam. Tapi foto itu sudah beredar dan kita dapat dan itu bukan peserta yang menjadi utusan dari cabang-cabang,” ujarnya.

Atas temuan ini, tiga kandidat Ketum HMI ini pun mendesak agar panitia penyelenggara kongres dievaluasi oleh Majelis Pengawas dan Konstitusi (MPK) sesuai dengam ADART dan tata tertib yang telah disepakati.

“Sehingga perlu MPK mengevaluasi pelaksanaan kongres ini,” lanjutnya.

Sebelumnya, situasi Kongres XXXI Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dilaporkan ricuh, Selasa (23/3) malam. Sejumlah peserta kongres mengamuk, akibatnya pintu kaca Gedung Islamic Centre pecah.
(cnn)