Biang Darah Menggumpal, Vaksin AstraZeneca Disetop di Thailand, Indonesia Lanjut

sentralberita | Jakarta ~ Beberapa negara di Eropa hingga Asia Tenggara, seperti Thailand, menghentikan sementara penggunaan vaksin virus Corona (Covid-19) asal perusahaan farmasi Inggris AstraZeneca terkait dugaan kasus penggumpalan darah.

Thailand resmi menunda vaksinasi menggunakan AstraZeneca pada Jumat (12/3) kemarin, menyusul Denmark, Norwegia dan Islandia yang juga telah menghentikan penggunaan vaksin Oxford/AstraZeneca pada Kamis (11/3).

“Injeksi vaksin untuk warga Thailand harus aman, tidak perlu terburu-buru,” kata penasihat komite vaksin Covid-19 Thailand Piyasakol Sakolsatayadorn dalam konferensi pers seperti dikutip dari AFP.

Austria pada minggu lalu juga dilaporkan menghentikan penggunaan dosis batch suntikan pertama, usai seorang perawat berusia 49 tahun meninggal karena masalah pembekuan darah beberapa hari setelah disuntik vaksin tersebut.

Kendati demikian, Juru Bicara Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan Indonesia Siti Nadia Tarmizi menyebut sejauh ini vaksin AstraZeneca aman digunakan untuk populasi Indonesia.

Nadia berpedoman kepada hasil evaluasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan izin penggunaan darurat (EUA) AstraZeneca, pada Selasa (9/3).

“Bahwa kalau sudah ada EUA, ini artinya aspek safety penggunaan vaksin sudah dikaji dan mendapat masukan dari ITAGI, para ahli dari spesialis yang berkecimpung di bidang tersebut,” kata Nadia dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB Indonesia, Jumat (12/3).

Senada, Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyatakan pihaknya tak menemukan indikasi bahwa vaksin AstraZeneca dapat menyebabkan pembekuan darah.

Wiku ikut memastikan AstraZeneca aman digunakan di Indonesia, sesuai pernyataan dari European Medicines Agency (EMA) beberapa waktu lalu.

Wiku menyebut sebanyak 10 juta dosis vaksin AstraZeneca yang saat ini telah digunakan negara lain tak menyebabkan emboli paru atau penggumpalan darah.

Dengan demikian, menurut Wiku, kasus penggumpalan darah seperti dilaporkan belakangan, relatif lebih rendah dibandingkan kasus pada umumnya.

Merespons polemik global itu, Badan kesehatan Dunia (WHO) mengatakan tidak ada alasan untuk tidak menggunakan AstraZeneca.

Komite penasihat vaksin WHO saat ini sedang memeriksa data keamanan yang masuk. WHO menekankan bahwa tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin dan pembekuan darah.

“AstraZeneca adalah vaksin yang sangat baik, seperti juga vaksin lain yang sedang digunakan,” kata juru bicara WHO Margaret Harris, Jumat (12/3) seperti dikutip dari AFP.

Badan kesehatan PBB itu juga mengatakan bahwa dari 260 juta dosis vaksin corona yang telah diberikan di seluruh dunia, belum ada kematian yang terkait dengan suntikan Covid-19.

Selain WHO, sejumlah otoritas kesehatan di seluruh dunia bersikeras bahwa vaksin itu aman, salah satunya yakni EMA. (cnn)