Perajin Tempe dan Tahu di Medan Stop Produksi

sentralberita | Medan ~ Sejumlah pabrik tahu dan tempe yang berada di Kota Medan memberhentikan aktivitas produksi mereka dalam beberapa hari terakhir.

Hal itu didasari keluhan para pengusaha maupun perajin terhadap harga kacang kedelai yang sejak Desember tahun lalu terus melonjak naik.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi B DPRD Sumut, Zeira Salim Ritonga menyarankan agar pemerintah, baik itu Menteri Pertanian dan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Sumut untuk bisa segera mengimpor kacang kedelai, dengan harapan agar harga komoditas tersebut kembali stabil di pasaran.

“Kita ketahui bahwa produksi kacang kedelai dari para petani kita di daerah kurang dapat memenuhi kebutuhan pasar. Sehingga harga naik, akibat tidak seimbangnya permintaan dengan produksi kedelai kita. Jadi dengan kondisi ini, saya harap kran impor khususnya kacang kedelai ini dibuka, untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal,” kata Zeira, Kamis (11/2).

Apalagi, kata Zeira, Indonesia khususnya Sumut masih bergantung dengan kacang kedelai impor untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.

Belum lagi pandemi covid-19, ia nilai turut mempengaruhi kondisi pasar global, termasuk negara asal penghasil kacang kedelai seperti Amerika.

Sehingga ia berharap ke depan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Sumut mulai memikirkan untuk meningkatkan produksi kacang kedelai, yakni dengan mulai memperhatikan para petani dengan memberikan fasilitas bibit, pupuk dan peralatan yang memadai lainnya.

Hingga akhirnya, Indonesia tidak lagi bergantung dengan impor kacang kedelai dari luar negeri.
“Supaya pengusaha bisa dapat memproduksi lagi tahu dan tempe, saat ini impor kacang kedelai yang harus dilakukan. Baru solusi setelah itu, petani kacang kedelai ini harus menjadi prioritas dan mendapat perhatian pemerintah untuk dibudidayakan,” jelas politisi PKB itu.

Sementara itu, salah seorang pemilik pabrik tahu, Gopaldas mengatakan bahwa harga kacang kedelai yang biasanya Rp 6.400 per kilo, kini naik menjadi sekitar Rp 10 ribu per kilo.

Kondisi ini membuat para perajin tahu dan tempe menderita dengan kenaikan harga kacang kedelai itu. Imbasnya juga kepada para pekerja mereka.
“Kami mohon pada Bapak Presiden, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, tolong perhatikan kami para pengrajin tahu dan tempe ini. Para pekerja kami sudah tidak bekerja, mereka sudah berkeluarga semua, mereka sangat menderita,” kata Gopaldas. (tc/red)