Utang BUMN Tembus Rp 1.682 Triliun

sentralberita | Jakarta ~ Kinerja BUMN terpukul karena dampak pandemi COVID-19. Utang perusahaan pelat merah pun melambung tinggi.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoartmodjo mengatakan, utang BUMN 9 bulan di 2020 mencapai Rp 1.682,9 triliun. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding tahun 2019 sebesar Rp 1.393,7 triliun. Artinya ada pertambahan sekitar Rp 289 triliun dalam setahun.

Di tahun 2017 sendiri utang BUMN Rp 942,9 triliun dan tahun 2018 sebesar Rp 1.251,7 triliun.

“Pertumbuhan utang BUMN selama 5 tahun terakhir karena memang kita sangat diharapkan untuk membangun infrastruktur dasar seperti jalan tol, airport pelabuhan dan sebagainya membuat secara posisi utang BUMN meningkat mencapai Rp 1.682 triliun di bulan 9-2020,” paparnya, Jumat (29/1).

Sejumlah sektor mengalami tekanan yang dalam karena dampak pandemi. Sektor yang paling dalam di antaranya ialah sektor energi, infrastruktur dan pariwisata (tourism).

“Dan kalau kita lihat growth revenue di mana yang paling berdampak sektor energi, di mana konsumsi dari pada BBM dan listrik selama 9 bulan lalu karena COVID ini membuat demand dan pembelian energi menurun drastis,” terangnya.

“Dan revenue infrastruktur karena perlambatan pembangunan infrastruktur fisik membuat pendapatan perusahaan-perusahaan karya menurun dan pada sektor tourism pendukung termasuk airport. Garuda, hotel ITDC yang terdampak signfiikan COVID,” jelasnya.

Laba Bank Mandiri Anjlok

PT Bank Mandiri Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp 17,1 triliun di tahun 2020. Angka ini minus 37,71% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 27,48 triliun.

Kemudian penyaluran kredit sepanjang 2020 tercatat Rp 892,8 triliun atau minus 1,61%. Lalu perolehan dana pihak ketiga (DPK) Rp 871,2 triliun atau tumbuh 7,08%.

Direktur Keuangan Bank Mandiri Sigit Prastowo mengungkapkan non performing loan (NPL) secara gross 3,09%. “Aset Bank Mandiri tercatat Rp 1.429,3 triliun atau tumbuh 8,43%,” kata Sigit dalam konferensi pers, Kamis (28/1/2021).

Coverage Ratio tercatat 229,1% naik 84,85% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 144,25%.

Net Interest Margin (NIM) tercatat 4,65% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 5,56%. Pendapatan bunga bersih dan premi bersih tercatat Rp 58,02 triliun atau minus 5,27%. Fee based income tercatat Rp 28,69 triliun tumbuh 4,92% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 27,35 triliun.

Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengungkapkan situasi pandemi memang mempengaruhi kinerja keuangan.

“Kami cukup confident dengan respons yang kami lakukan pada situasi pandemi ini. Oleh karena itu, meski laba bersih tahun lalu terkontraksi 38% menjadi Rp 17,1 triliun, kami optimis kinerja Bank Mandiri akan mengalami rebound pada tahun ini,” katanya.

Lebih lanjut, Darmawan mengatakan, pencapaian laba di 2020 didorong oleh pertumbuhan fee based income yang tumbuh sebesar 4,9% yoy menjadi Rp 28,7 triliun, dengan salah satu penyumbang utama adalah pendapatan dari transaksi online. Tercatat, frekuensi transaksi aplikasi Mandiri Online sepanjang 2020 mencapai lebih dari 600 juta transaksi dengan nilai transaksi mencapai lebih dari Rp 1.000 triliun.
(dtf/ras)