Penjagalan dan Penjualan Daging Kucing Gegerkan Warga Medan

sentralberita | Medan ~ Jagat media sosial (Medsos) dihebohkan dengan maraknya kasus penjagalan kucing oleh sekelompok pihak tidak beranggungjawab di Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Hewan yang banyak diperlihara masyarakat itu dicuri, dipotong dan dikuliti. Kemudian kepala kucing dipenggal, dan dagingnya dijual kepada orang lain dengan harga Rp 70.000/kilogram (kg).

Peristiwa ini kembali menggegerkan setelah pemilik akun Instagram @soniarizkikarai memposting kejadian ini. Dalam postingan itu, Sonia mengaku sebagai pemilik akun sekaligus pihak yang dirugikan.

Sonia menceritakan, kejadian ini berawal dari kehilangan kucing kesayangannya jenis bigbone bernama Tayo. Selama tiga hari, wanita berusia sekitar mencari hewan peliharaannya tersebut.

“Saya cari – cari tidak ketemu. Kemudian saya bertanya kepada anak – anak, dan mereka mengaku melihat ada orang yang mengambil kucing Sonia, yang kemudian dimasukkan ke dalam karung,” ujar Sonia, Jumat (29/1).

Berdasarkan pengakuan anak – anak itu, dan dikuatkan keterangan dari kalangan ibu – ibu, pelaku pencurian kucing itu ternyata tinggal yang tidak jauh dari rumahnya di kawasan Tangguk Bongkar 7 Medan, Mandala, Medan Denai.

Ditemani tetangganya bernama Wulan, Sonia mendatangi pria yang mengambil kucingnya tersebut. Pada awal berbicara, Sonia tidak menyinggung pembicaraan tentang kucingnya yang diambil pelaku. Sonia hanya pura – pura bertanya tentang hal lain.

Saat Sonia berbicara dengan pelaku, temannya Wulan secara diam – diam mencoba membuka karung yang terlihat kotor karena darah. Wulan terkejut karena melihat banyak kepala dan tulang belulang kucing. “Sonia, ini ada kepala si Tayo,” teriak Wulan kepada Sonia. Ketika itu, Sonia langsung melihat isi karung. Sedangkan pria pemenggal kepala kucing itu menyangkal. Pria itu menyebutkan bahwa itu kepala anjing,” katanya.

Menurut Sonia, sempat terjadi pertengkaran mulut antara mereka dengan pembunuh kucing itu. Tidak mau terima dan berusaha menutupi kesalahannya, pria pencuri kucing itu kemudian mengancam kedua wanita itu. “Lelaki itu mengancam mau memukul dan meludahi muka kami. Terakhir, saya ambil kepala kucing itu. Saya bawa kepala kucing itu ke kantor Polsek. Niat saya mau melaporkan pria itu,” terang Sonia.

Sayangnya, sambung Sonia, laporan yang mau disampaikannya malah tidak diterima oleh petugas. Alasannya, tidak ada pasal yang bisa diterapkan terhadap pelaku yang banyak membunuh kucing.

Petugas juga beralasan bahwa kasus pencurian dan pembunuhan kucing itu tidak berada di dalam wilayah hukumnya. Sehingga, Sonia dengan rasa kecewa meninggalkan kantor polisi tersebut. “Niat saya membuat laporan pengaduan itu bukan untuk mendapatkan ganti rugi dari pelaku. Sebaliknya saya melaporkan ini agar tidak ada lagi kasus penjagalan dan pemenggalan kepala kucing,” sebutnya.
(bs/ras)