Kolaborasi Mahasiswi Fisip USU-Yayasan AHA Ajari Anak di Sekolah Pintar

sentraberita | Medan~ Setelah munculnya wabah Covid-19 di Indonesia terhitung sejak awal maret 2020 dan masih berlangsung hingga saat ini memberikan dampak yang signifikan di berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Tidak hanya pada aspek ekonomi, kesehatan, pekerjaan tetapi juga salah satunya pada bidang pendidikan. Pada ranah pendidikan kebijakan pemerintah ialah dengan melaksankan sekolah daring guna menghindari penularan virus yang lebih cepat. Namun tampaknya sekolah daring belum dapat menjadi solusi yang efektif pada anak-anak karena menimbulkan kejenuhan dalam proses belajar mengajar serta tidak dapat menyerap pelajaran dengan cukup baik.

Begitu juga dengan anak-anak yang ada di desa Percut kecamatan Bagan Percut Sei Tuan. Mayoritas anak-anak disana adalah anak-anak nelayan dengan tingkat pendidikan yang masih minim, seperti yang dikatakan oleh ibu Darmayanti selaku pendiri sekolah pintar bahwa jumlah sekolah di desa Percut masih sangat terbatas bahkan beliau mendirikan Sekolah Pintar sebagai sekolah non-formal atas bentuk keprihatinannya terhadap anak-anak, dengan keadaan tersebut serta sejak dibelakukannya sekolah daring membuat motivasi anak-anak akan belajar menjadi kian menurun.

Atas latar belakang permasalahan tersebut, melalui hasil observasi serta assesment yang dilakukan selama praktikum yaitu selama empat bulan terhitung sejak september 2020 hinggga saat ini januari 2021, Ridha Nurhaliza selaku mahasiswi program studi Ilmu kesejahteraan sosial FISIP USU dengan Surpervisior Sekolah Dra. Berlianti, M.SP, membuat sebuah program inovasi bertemakan “One Day in Village” sebagai salah satu kegiatan pratikum dengan tujuan untuk menumbuhkan kembali motivasi dan minat belajar serta meningkatkan kreatifitas anak-anak di desa Percut pada masa pandemi.

Berkolaborasi dengan yayasan AHA (Amanah Hamba Allah) sebagai yayasan charity dalam kegiatan tersebut, Ridha Nurhaliza menggagas beberapa kegiatan di antaranya:

Melakukan open donasi untuk pembangunan Sekolah Pintar Bagan Percut, melakukan kegiatan bersama anak-anak dengan menyusun puzzel pulau dan provinsi Indonesia dengan tujuan untuk menambah pengetahuan umum mengenai kepulauan Indonesia, agar lebih mengenali provinsi yang ada di Indonesi serta untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan jiwa cinta tanah air.

Membuat pohon impian, anak-anak akan menuliskan mimpi dan cita-cita mereka kemudian menceritakan apa mimpi mereka untuk me-recharging semangat mereka kembali agar lebih giat dalam belajar serta memberikan motivasi bagaimana menggapai mimpi serta cita-cita tersebut.


Melukis tong sampah, kegiatan ini dilakukan selain untuk menumbuhkan kreatifitas tapi juga untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya untuk menjaga lingkungan dari sampah, di mana pada saat kegiatan berlangsung sedang terjadi banjir sehingga hal tersebut di rasa sangat releven untuk dilakukan.

Pada kegiatan di atas metode yang digunakan adalah project based learning di mana Project based learning ini memiliki tujuan utama untuk memberikan pelatihan kepada pelajar untuk lebih bisa berkolaborasi, gotong royong, dan empati dengan sesama. Project based learning ini sangat efektif diterapkan untuk para pelajar dengan membentuk kelompok belajar kecil dalam mengerjakan projek, eksperimen, dan inovasi. Metode pembelajaran ini sangatlah cocok bagi pelajar yang berada pada zona kuning atau hijau.


Yayasan AHA sebagai yayasan amal berperan untuk membuka donasi serta menjadi platform bagi siapa saja yang ingin berdonasi untuk kemudikan disalurkan ke Sekolah Pintar yang merupakan salah satu wadah belajar non-formal anak-anak di desa Percut, Bagan Percut Sei Tuan serta sebagai sasaran program praktikan.

Setelah kurang lebih empat bulan melakukan praktikum yaitu terhitung sejak september 2020 hingga saat ini januari 2021, dimulai dari obsevasi, assement hingga pemilihan program, dampak yang didapatkan yaitu, dari pihak Sekolah Pintar dengan adanya open donasi yang dilakukan bersama Yayasan AHA dapat membantu proses pembangunan sekolah pintar sehingga dapat membanggun fasiltas sekolah pintar, semetara dari anak-anak dirasakan timbulnya motivasi dan semangat belajar kembali ditengah-tengah kejenuhan dalam menjalankan sekolah daring.

Terminasi dilakukan diakhir program dengan menyerahkan donasi kepada sekolah pintar serta memberikan motivasi kembali pada anak-anak di desa Percut untuk terus mengingat mimpi mereka yag telah dituliskan dipohon impian dan menggapai dengan belajar yang giat walau di tengah-tengah masa pandemi Covid-19.

Diharapkan dengan berlangsungnya kegiatan tersebut dapat memberikan dampak yang postif mengenai motivasi anak-anak untuk terus belajar di masa pandemi covid-19 dan berharap Covid-19 dapat segera berakhir agar seluruh kegiatan kita dapat normal kembali. (01/ras)