Awas Virus Nipah Masuk Indonesia

sentralberita | Jakarta ~ Menanggapi kekhawatiran ilmuwan soal virus Nipah menjadi pandemi baru di Asia, Prof Zubairi Djoerban, Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebut besar kemungkinan virus Nipah bisa masuk ke Indonesia. Hal ini berkaitan dengan banyaknya peternakan babi.

“Mungkin sih mungkin banget karena banyak babi juga di Indonesia, apakah akan menjadi masalah serius, saya kira kemungkinannya kecil ya,” jelas Prof Zubairi saat dihubungi Sabtu (30/1/2021).

Menurutnya, penularan virus Nipah sangat jarang terjadi antarmanusia. Dalam catatan kasus wabah Nipah sebelumnya, penularan antarmanusia hanya terjadi di India dan Bangladesh dengan catatan kasus sedikit.

Namun, jika tertular, angka kematian virus Nipah sangat tinggi dan tentu bisa mengkhawatirkan.

Konsumsi babi

Maka dari itu, kewaspadaan terkait penularan virus Nipah dan masuknya ke Indonesia, tetap perlu diperketat. Khususnya bagi orang yang terbiasa mengonsumsi babi.

“Untuk yang terinfeksi mestinya mengkhawatirkan, tingkat kematian lumayan tinggi, dan penularan ke manusia itu kan yang ada di peternakan babi, kemudian yang kebiasaan makan babi masih bisa (tertular),” katanya.

Kontaminasi virus di buah-buahan

Penularan virus Nipah juga disebut Prof Zubairi bisa terjadi saat makan buah-buahan yang terkontaminasi virus dari kelelawar.

“Namun secara teori kelelawar juga kan ada makan buah-buahan. Nah buah-buahan yang dimakan itu kan kadang nggak habis, nah itu kalau sudah ada virusnya, sudah ada risiko penularan,” bebernya.

Apa yang harus diperketat demi mencegah masuknya virus Nipah?

Prof Zubairi menyarankan untuk melakukan skrining pada babi-babi di peternakan. Begitu juga dengan pengetatan soal pakan dan kebersihan peternakan.

“Jadi menjadi sistem menjadi sistem yang mengawasi peternakan kita yang harus waspada banget, harusnya keras mengawasi kebersihan, mengenai pakan, mengenai kontaminasi dari babi,” katanya.

“Itu ada pegawai-pegawai peternakan babi harus lebih ketat,” pesannya.

Prof Zubairi mengingatkan agar tidak kecolongan seperti pada pandemi COVID-

Zubairi menekankan, masih ada risiko-risiko penularan lain yang mungkin bisa terjadi tapi tak disadari. Hal ini tetap perlu diperhatikan agar tak kecolongan seperti COVID-19.

“Kemungkinan paling kecil ada sih mirip-mirip seperti kelelawar dimakan ular, ular dimakan manusia, manusia menular ke manusia tahu-tahu di Indonesia sudah 1 juta,” pungkasnya. (dth/ras)