Tampil Dengan Gaya Rambut Baru, Robert Hutahean Divonis Bebas

sentralberita|Medan~Robert Hutahean (54) terdakwa kasus dugaan pemalsuan akta notaris terkait saham Hotel Griya Medan divonis bebas. Putusan tersebut dibacakan majelis hakim yang diketuai Deson Togatorop di ruang Cakra 9 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (22/12/2020).

“Menyatakan terdakwa Robert Hutahean tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan penuntut umum. Membebaskan terdakwa dari seluruh dakwaan dan memulihkan hak terdakwa dalam kedudukan, harkat, dan martabatnya,” kata majelis hakim Deson Togatorop.

Sebelumnya, JPU Riwayati Tarigan menuntut pengusaha hotel di Medan ini dengan hukuman 3 tahun 6 bulan penjara. JPU menilai terdakwa Robert melanggar Pasal 263 ayat (2) KUHPidana.

Yakni membuat surat palsu atau memalsukan surat, yang dapat menerbitkan sesuatu hak, sesuatu perjanjian atau sesuatu pembebasan utang, atau yang boleh dipergunakan sebagai keterangan bagi sesuatu perbuatan, dengan maksud akan menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakan surat-surat itu seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, kalau mempergunakannya dapat mendatangkan sesuatu kerugian.

Atas putusan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Riwayati Tarigan langsung menyatakan Kasasi.

“Kami langsung mengajukan kasasi yang mulia,” ujar JPU Riwayati Tarigan.

Sementara itu, dari pantauan di ruang persidangan, usai majelis hakim membacakan putusan, terdakwa Robert yang mengenakan baju bermotif warna merah beranjak dari kursi pesakitan dan disambut suka cita keluarganya yang setia menunggu sidang.

Mengutip dakwaan JPU Riwayati Tarigan mengatakan kasus bermula Aini Sugoto (saksi korban) membeli tanah di Jalan Tengku Amir Hamzah, Blok A Nomor 38,40,42,44-48 Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan yang diatasnya terdapat 4 ruko, yang diubah menjadi Griya Hotel Medan yang memiliki 36 kamar.

Tahun 2008, Aini Sugoto sepakat dengan terdakwa membuat Akta CV Berlian Sarana Wisata (BSW). Kemudian ditingkatkan menjadi PT Berlian Sarana Wisata (BSW).

Akta Pendirian, melalui Notaris Ratna Dewi, lalu terbitlah Akte No 10 Tanggal. 16 September 2011 tentang pendirian PT BSW. Modal dasar 100 lembar saham dengan nilai per lembar Rp1 juta sehingga seluruhnya berjumlah Rp 100 juta.

Modal disetor 25 persen dari 100 lembar saham. Terdakwa memiliki saham 12 lembar Rp12 juta, sedangkan Aini Sugoto memiliki saham 13 lembar Rp13 juta. Jabatan terdakwa di PT BSW sebagai Direktur, dan Aini Sugoto sebagai Komisaris.

Kemudian disepakati pula perubahan jumlah saham, sesuai Akta No 14 yang diterbitkan notaris Ratna Dewi tanggal 16 Agustus 2918, modal perseroan menjadi 300 lembar, saham dengan nilai per lembarnya Rp1 juta, sehingga seluruhnya sebesar Rp300 juta. Lalu disetor sejumlah 80 lembar saham dengan nominal seluruhnya Rp80 juta.

Saham yang masih dalam simpanan sejumlah 220 lembar dan akan dikeluarkan oleh perseroan bila diperlukan tambahan modal atas persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Sejak berdiri tahun 2011 sampai 2019, terdakwa tidak pernah membuat laporan keuangan. Maka tanggal 10 Juni 2019, diadakan RUPS Luar Biasa.

Hebohnya, RUPS Luar Biasa itu bubar sebelum waktunya, Aini Sigoto tidak berkenan melanjutkan rapat, sebab terdakwa menghadirkan beberapa orang pemegang saham yang tidak dikenal oleh Aini Sugoto.

Rupanya, saham PT. BSW yang disimpan berjumlah 220 lembar tersebut telah dijual terdakwa kepada Irfandi sebanyak 70 lembar, Darsono Sormin sebanyak 20 lembar dan kepada Syahrial sebanyak 10 lembar.

Dalam RUPS Luar Biasa yang tidak dihadiri Aini Sugoto, terdakwa diangkat sebagai Direktur, saksi Irfandi selaku Wakil Direktur, serta saksi Darsono Sormin selaku Komisaris dan Syahrizal serta Aini Sugoto sebagai anggota komisaris.

Kemudian terdakwa meminta Notaris Gordon Eliwon Harianja untuk membuat Akta Penegasan RUPS Luar Biasa PT. BSW, sesuai dengan hasil rapat 10 Juni tahun 2019. Akibat perbuatan terdakwa, Aini Sugoto mengalami kerugian Rp 10 miliar.(SB/FS)