Spanduk Calon Pilkada Nempel di Area Masjid, Pengamat: Ini Pembelahan Umat

sentralberita|Medan ~Warga temukan baliho Akhyar-Salman menempel di pagar masjid. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) perintahkan bongkar, sementara pengamat sebut ini upaya pembelahan umat.

Video dan foto baliho Pasangan Calon (Paslon) No Urut 1 di pagar masjid itu sampai ke wartawan lewat jejaring WhatsApp. Lokasinya berada di Jalan Panglima Denai, tak jauh dari Simpang Jalan Selambo, Medan Amplas.

Menyikapi ini, Komisioner Bawaslu Medan Taufiqurrahman Munthe, yang dikonfirmasi Kamis petang (5/11/2020), menegaskan akan meneruskan temuan masyarakat ini ke Panwascam Medan Amplas.

“Terima kasih atas informasinya. Kita akan tindaklanjuti dengan memerintahkan panwascam untuk mengecek langsung keberadaan baliho tersebut,” ujarnya.

Dijelaskan Taufiq, pemasangan alat peraga kampanye di tempat ibadah, meskipun hanya di halaman, adalah sebuah pelanggaran. “Kalau memang begitu, jelas sebuah pelanggaran.

Kita minta panwascam untuk menindaklanjutinya dan berkoordinasi dengan pihak kecamatan setempat untuk menurunkannya. Karena kewenangan mencopot itu ada di mereka, kita hanya memberikan rekomendasi,” paparnya.

Pengamat politik Universitas Sumatera Utara (USU), Indra Fauzan, Ph.D menilai di Pilkada 2020 ini masih ada upaya pembelahan. Pembelahan dengan mengedepankan politik identitas ini juga terjadi pada Pilgubsu 2018 dan Pilpres 2019.

“Warga jangan terpecah dengan politik identitas karena ini sangat tidak baik bagi demokrasi dan pilkada kita kali ini,” ujarnya.

Menurut Indra, Pilkada Medan kali ini jelas berbeda dengan 2015 lalu atau Pilgubsu 2018. Sebab, kedua paslon beragama Islam. Dengan demikian, narasi-narasi politik identitas tidak bisa dikedepankan.

“Jadi narasi bahwa satu paslon kurang baik ke-Islamannya tidak bisa berlaku di Pilkada Medan 2020 ini. Intinya kedua paslon berkontestasi dengan baik saja, kedepankan program pembangunan yang bisa menyentuh masyarakat.

Jangan menganggap dirinya lebih baik dalam keagamaan karena itu bisa memecah belah dan tidak baik dalam perkembangan demokrasi kita,”

Untuk itu, Indra Fauzan meminta penyelenggara pemilu, khususnya Bawaslu, bisa tegas dalam menangani berbagai kasus pelanggaran kampanye yang kerap terjadi saat ini.

Diketahui sebelumnya, Pasangan Akhyar-Salman beberapa kali dilaporkan ke Bawaslu Medan terkait dugaan pelanggaran kampanye. Pertama oleh Hasan Basri Sinaga yang melaporkan kalau Akhyar Nasution melakukan kampanye di Rumah Tahfiz Anwar Saadah, Jalan Persamaan Gang Aman No 62, Simpang Limun.

Selain itu, Panwascam Medan Perjuangan juga sempat mendapati istri dari Akhyar Nasution, Nurul Khairani membagi-bagi jilbab dan kalender kampanye di Masjid Ikhsaniyah, Jalan Gurilla Medan.

Namun, kedua kasus dugaan pelanggaran kampanye yang mengedepankan simbol agama ini dihentikan oleh Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu) Pilkada Medan. (SB/FS)