Rosmansyah: Rp 1,7 T Tak Satupun Anak Asahan Dibiayai Pendidikannya Pemerintah Daerah, ke Depan Satu Rumah Satu Sarjana

Sentralberita-Kisaran : Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Asahan, Rosmansyah-Hj.Winda Fitrika (ROSWIN) menjamin tidak akan ada lagi putra-putri Asahan dari keluarga tidak mampu yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. 

“Modalnya yang penting asal punya kemauan,”ujar Rosmansyah kepada sentralberita.com saat di hubungi Via Celuller,Kamis (8/10/2020).
Dia siap menandatangani MOU dengan anak-anak muda yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi jika dia terpilih menjadi Bupati Asahan. 

“Kita teken MOU, kita teken kesepakatan, kita biayai sampai sarjana.Tamat kuliah, mengabdi ke daerah,”ujarnya. 

Dengan MOU ini, pemerintah daerah bukan saja mengatasi masalah kualitas sumber daya manusia yang rendah, tapi juga sekaligus  akan mengatasi masalah pengangguran dan mengatasi  persoalan kemiskinan. 

Rosmansyah menegaskan, keberhasilan dalam membangun dunia,adalah menjadi tolok ukur keberhasilan pembangunan daerah. Dia punya konsep jika terpilih menjadi Bupati Asahan bersama pasangannya bagaimana anak-anak muda  bisa melanjutkan studinya.

Sangat menyedihkan, dengan APBD kabupaten Asahan sebesar Rp1,7 triliun tak satupun anak Asahan yang dibiayai pendidikannya oleh pemerintah daerah selama ini. Dengan anggaran sebesar itu tak satu sarjanapun yang dibiayai dari anggaran daerah. 

Target pendidikan bukan lagi 9 tahun. Kalau ini yang menjadi target maka daerah ini akan terus ketinggalan dengan kabupaten lain. Tapi yang seharusnya menjadi target pemerintah daerah adalah menjadikan anak-anak daerahnya berpendidikan tinggi. 

Selama ini kabupaten Asahan masih kekurangan dokter spesialis, masih kekurangan ahli farmasi, masih kekurangan sarjana planologi dan sarjana-sarjana dari berbagai disiplin ilmu lainnya. 

RSUD H.Abdul Manan Simatupang Kisaran saja masih sangat kekurangan dokter spesialis. Sebagian besar terpaksa harus didatangkan dari luar daerah. Ini akibat karena pemerintah daerah tidak memiliki konsep yang jelas dalam membangun dunia pendidikan. 

Padahal menurutnya tidak ada yang sulit, tidak ada yang tidak mungkin jika pemerintah daerah mau dan bersungguh-sungguh membangun.

“Islam mengajarkan konsep manjadda wa Jadda,  tapi kenapa pemerintah daerah ini gagal, karena persoalannya yang terjadi saat ini adalah ketidakseriusan, ketidaksungguhan, dan tidak punya konsep yang jelas dalam membangun daerah. 

“Saya janji akan ciptakan satu rumah, satu sarjana, karena kita cinta anak-anak muda, dan karena kita memang butuh untuk membangun daerah,’ tegasnya.( SB/ZA