Jamin Kenyamanan Hidup Lansia, Bobby Nasution Janjikan Medan Universal Desain

sentralberita|Medan~Kota Medan belum memberikan kenyamanan bagi kalangan, lansia (lanjut usia). Salah satu indikatornya adalah kondisi infrastruktur.

Hal tersebut terpantau oleh Calon Walikota Medan, Muhammad Bobby Afif Nasution saat bersilaturahmi dengan sejumlah emak-emak di Jalan Selamat, Gang Ikhlas, Kelurahan Sitirejo III, Medan Amplas, Kamis (8/10/2020).

“Seperti trotoar-trotoar disisi jalan yang terlalu tinggi, bahkan ada yang setinggi meja, jauh dari badan jalan. Padahal orangtua, untuk melangkah agak tinggi cukup susah,” ucap Bobby Nasution kepada salah satu warga disana, Hj. Wahana Lubis.

Hj. Wahana juga mengeluhkan kinerja Pemko Medan yang selama ini tidak memiliki program dalam memberdayakan lansia. Padahal, pemerintah sudah mengatur tentang kesejahteraan lansia dalam Undang-undang. Menurutnya, Pemko Medan tidak berupaya menjalankan Undang-undang tersebut dengan maksimal.

“Tiap pada calon wali kota yang datang ke lingkungan ini, saya ajukan pertanyaan pemberdayaan lansia. Tapi hasilnya selalu tidak memuaskan,” ungkap Hj. Wahana.

Keluhan lansia berusia 70 tahun itu pun diserap oleh Calon Walikota Medan yang berpasangan dengan H. Aulia Rachman. Bobby Nasution menjelaskan, dalam program prioritas yang telah disusun untuk pembenahan Medan, akan dibuat suatu skema pembangunan yang ramah dan nyaman bagi difabel, anak dan lansia yang berbasis Universal Desain.

“Dengan Medan Universal Desain, kita akan buat fasilitas bangunan fisik yang ramah difabel, lansia juga anak,” terangnya.

Selain itu, Bobby juga berkomitmen membantu Wahana dan kelompok taninya untuk mengembangkan pertanian.

“Kebetulan saya lulusan IPB bu, dan dua bulan saya mengani masalah kelompok tani. Masalah utamannya lahan yang kurang. Karena itu untuk mengatasi masalah ini, saya ingin buat peraturan, masifkan, ruko-ruko atau rooftop di Kota Medan untuk dimanfaatkan jadi lahan pertanian,” ungkap dia.

Namun, jelas calon wali kota dengan nomor urut 2 ini, meski aturan dibuat Pemko Medan, namun yang menjalankannya harus kelompok-kelompok tani di masyarakat, termasuk kelompok tani lansia.

Selain ditanya terkait kelompok tani, warga juga mengeluhkan masalah PBB, belajar daring, birokrasi pengurusan KIP yang dioper-oper serta masalah UMKM. Lantaran, emak-emak yang hadir rata-rata merupakan UMKM yang bergerak dibidang kuliner. (SB/01)