RE-BORN Jemput Aspirasi: ” Garis Hidup Belum Berpihak Kepada Pedagang, Butuh Pemimpin Berpihak Kepada Pedagang”

sentralberita|Medan~Berdagang ternyata tidak menjamin nasib seseorang bisa lebih baik. Terlebih di masa pandemi covid-19 ini, di mana pedagang justru menjadi salah satu pekerjaan yang paling terimbas.

Ini diketahui saat tim Relawan Bobby Nasution (Re-Born) menggelar jemput aspirasi ke Pasar Halat dan Pasar Bakti, Kamis (25/9).

Ketua Umum Re-Born Suwarno menjelaskan di kesempatan itu mereka bertemu dengan Halimah, penjual sendal di Pasar Halat Medan.

Halimah bercerita mengalami titik terendah selama menjalani hidup sebagai pedagang.

Kepada tim RE-BORN, salah satu relawan Bobby Nasution-Aulia Rahman, janda satu anak ini mengeluhkan nasibnya. Sambil terbata menahan tangis, wanita ini bertutur sepanjang hari baru memperoleh Rp65 ribu. Padahal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, ia harus memperoleh uang Rp75 ribu.

“Apalagi hari ini, saya harus membayar tagihan rekening air sebesar Rp150 ribu. Dari mana saya mencari kekurangannya. Belum lagi untuk memenuhi kebutuhan makan saya dan anak,” ujar Halimah yang sudah empat tahun lebih hidup menjanda.

Tingginya biaya kebutuhan itu, karena putra satu-satunya itu berkebutuhan khusus.

“Anak saya putus satu kakinya karena terjatuh dari sepeda motor saat masih duduk di bangku SMP. Sehingga kebutuhannya pun lebih besar dari anak-anak normal lainnya,” ujarnya, sembari menambahkan kecelakaan itulah yang membuat penyakit jantung suaminya kambuh dan meninggal dunia.

Kondisi seperti ini sudah dialaminya sejak pandemi covid-19 melanda. Sebelumnya, Halimah mengaku, masih dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, meski tidak berlebihan.

“Untuk memenuhi kebutuhan hidup saya dan anak sehari-hari, cukuplah. Namun sejak pandemi covid-19, penjualannya terus menurun. Terkadang malah hanya laku sepasang sendal. Sehingga untuk membeli ayam goreng permintaan anak saja, saya tak sanggup,” ujarnya.

Sejauh ini, Halimah belum tersentuh bantuan apapun dari pemerintah, karena dia tidak bisa mengurus persyaratannya.

“Sampai saat ini satupun bantuan dari pemerintah belum pernah saya nikmati. Saya nggak mungkin meninggalkan dagangan saya untuk mengurus persyaratan agar mendapat bantuan dari pemerintah. Kalau saya tinggalkan sehari saja, alamat anak saya tidak makan. Sementara tetangga saya yang lebih mampu ada yang dapat. Saya tidak tahu entah seperti apa Pemko Medan mendata warganya,” keluhnya.

Halimah tidak sendirian. Nasib nyaris sama dialami oleh Murniati. Wanita 57 tahun ini harus berpacu dengan kondisi tubuhnya demi menghidupi keluarga. Suami yang tak lagi mampu berbuat akibat didera berbagai penyakit.

Murniati sendiri sebenarnya sudah dibekap penyakit rematik. Namun nyeri berkepanjangan di kaki harus dikalahkannya agar anak-anaknya bisa makan.

“Setiap hari saya harus keliling. Berangkat dari rumah di Jalan HM Joni ke Jalan AR Hakim dan Jalan Halat, hingga keliling ke Pasar Halat Medan,” ujarnya.

Murni, demikian sapaan wanita ini, nggak tau sampai kapan dia bisa bertahan seperti ini. Yang pasti Murni harus terus berjuang, agar dia bisa tetap menempati rumah sewa dan keluarganya bisa makan. “Meski hari ini baru dua pasang kaos kaki yang laku, saya tidak boleh menyerah. Itulah perjuangan hidup sembari berharap pemimpin Kota Medan ke depan lebih peduli dengan orang-orang seperti kami,” ujarnya.

Kepada tim Re-Born, keduanya berharap pemimpin Kota Medan ke depan lebih memperhatikan nasib pedagang seperti mereka.

“Masih banyak orang-orang seperti kami. Tapi garis hidup sepertinya tak pernah memihak kami. Kami berharap pemimpin Kota Medan ke depan, bisa lebih berpihak kepada orang-orang seperti kami. Yang bisa mengangkat nasib pedagang sehingga bisa hidup lebih layak.

Karena kamilah sebenarnya pengawal perekonomian Kota Medan. Kalau nasib kami, para pedagang terpuruk, maka terpuruklah perekonomian suatu daerah,” harapnya.

Di area itu juga Ketua Re-Born menerima keluhan pedagang yang menuggak pembayaran. Hanya saja, ia mendapatkan surat tagihan berbeda. “Tagihan pertama dan kedua sama sebesar Rp600 ribuan, tapi malah melonjak diatas Rp600 ribu. Lapak saya berjualan pun kecil tapi tagihan kok besar, sudah tidak ada yag beli sejak Corona,” kata salah satu pedagang sayur yg menunjukkan surat tagihan dari PD Pasar.

Pasar Bakti Kumuh

Sedangkan di Pasar Bakti, Ketua Umum Re-Born melihat kondisi pasar yang kumuh dan kurang terawat. Bahkan cenderung tidak layak. Sebab di paritnya terdapat sampah yang menumpuk.

Menanggapi ini, Suwarno menilai inilah yang dihadapi pedagang selama ini. Mulai dari persoalan modam hingga fasilitas sarana dan prasarana.

Tentunya fakta di lapangan ini akan disampaikan ke Bobby Nasution-Aulia Rahman. Sehingga nantinya bisa diambil langkah tepat untuk mensejahterakan pedagang.

“Kita berharap agar keluhan pedagang ini bisa jadi acuan bagi Bang Bobby-Aulia untuk membuat satu kebijakan bagi para pedagang di pasar tradisional agar benar-benar total berpihak ,” ujar Suwarno didampingi Penasehat Susilo, dan Romulo Sinaga jajaran pengurus lainnya. (SB/01)