Polisi Usut Tuntas Dalang Dibalik Penusukan Syekh Ali Jaber

Praktisi Hukum Kota Medan Rahmad Yusuf Simamora

sentralberita|Medan ~Penegak hukum diminta mengusut tuntas siapa dalang dibalik penusukan Syekh Ali Jaber. Jikapun orangtua pelaku penusukan menyebutkan anaknya alami gangguan jiwa, penegak hukum harus berhati-hati menyimpulkannya.

“Jangan terlalu cepat menerima kesimpulan itu, sebelum ada pihak yang kompeten memberikan keterangan misalnya dari kedokteran atau psikolog. Karena itu, kita dukung kepolisian yang bekerjasama dengan para ahli terkait peristiwa tersebut, ” kata Praktisi Hukum Kota Medan Rahmat Yusuf Simamora SH MH, kepada wartawan, Senin (14/9/2020).

Pengacara yang sering mengadvokasi umat Islam ini berpandangan, peristiwa penyerangan terhadap ulama sudah sering terjadi di Indonesia dan begitu cepat penegak hukum mencap pelakunya orang yang mengalami gangguan jiwa.

Namun, bedanya dengan penusukan Syekh Ali Jaber, justru orangtua pelaku sendiri yang menyebutkan anaknya gangguan kejiwaan sudah empat tahun lamanya. Hal ini, kata dia orangtua pelaku juga perlu dilakukan pemeriksaan.

“Ini tidak boleh main-main. Kalau seandainya orangtuanya berbohong, kepolisian juga harus memprosesnya sesuai hukum yang berlaku,” tandasnya.

Ia mendorong, agar kepolisian serius mendalami motif dibalik penusukan Syekh Ali Jaber, sebab menurutnya apa yang dilakukan pelaku bukanlah penganiayaan biasa.”Dari info yang beredar yang kita dengar, ada yang menyebutkan kalau pelaku justru disuruh untuk menusuk Syekh Ali Jaber di bagian dada,” ujarnya.

Artinya, kata dia, bila benar pelaku niatnya demikian, maka tidak pantas apa yang diperbuat pelaku disebut sebagai penganiayaan. “Lebih tepatnya ini sudah masuk pada pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP,” tegasnya.

Peristiwa penyerangan terhadap ulama, lanjutnya, tidak bisa dibiarkan begitu saja harus ada perhatian khusus dari kalangan umat Islam untuk terus mengawal kasus tersebut hingga tuntas.

“Sebab apa, kasus-kasus seperti ini seakan ada diskriminasi saat penanganannya. Walau demikian, kita tidak ingin umat Islam dibentur-benturkan atas peristiwa ini,” sebutnya.

“Kasus ini harus terang benderang, jangan jadi terhenti hanya pada pelaku saja, seperti kasus narkotika yang kena hanya kurir saja. Sedangkan bandarnya tetap dibiarkan berkeliaran,” sambungnya.

Ia menambahkan, semakin seringnya terjadi penyerangan terhadap ulama, patut diduga ada kelompok-kelompok tertentu yang ingin melemahkan keberadaan kaum ulama dan memecah belah umat Islam.

“Kita juga mendorong agar kepolisian memberikan jaminan keamanan bagi para tokoh agama, khususnya ulama dan perbuatan yang dilakukan seorang individu jangan selalu dikait-kaitkan dengan agama tertentu,” tandasnya.

Sebelumnya, Syekh Ali Jaber ditusuk menggunakan pisau oleh tersangka yang diketahui berinisial AA saat mengisi ceramah di Bandar Lampung, Minggu (13/9).

Pelaku melakukan penyerangan terhadap Syekh Ali Jaber di atas panggung dengan menggunakan pisau dapur. Pelaku tiba-tiba berlari ke atas panggung dan mengayunkan pisaunya ke arah Syekh Ali dan mengenai lengan tangannya.

Para jemaah di sana langsung berteriak histeris dan memburu pelaku sambil memukulinya sebelum akhirnya diamankan untuk diserahkan kepada kepolisian. (SB/FS).