Pengamat: Jika Tidak Segera Fokus Reformasi Birokrasi, Medan akan Semakin Tertinggal

sentralberita|Medan~ Kacaunya fungsi layanan birokrasi di Pemko Medan sudah menjadi rahasia umum. Apakah masih ada solusi?

Pemerhati politik dan pemerintahan asal Universitas Sumatera Utara (USU), Dadang Darmawan mengaku terus mengamati hal ini.

Menurutnya, dalam lima tahun terakhir tidak terjadi perbaikan menonjol dalam hal pelayanan publik di Kota Medan.

“Sejauh yang kita amati, pelayanan publik di Kota Medan, utamanya pelayanan wajib seperti pendidikan, kesehatan, adminduk, infrastruktur, kesejahteraan, selama lima tahun terakhir cenderung tidak ada yang menonjol. Bahkan, terkait infrastruktur Medan cenderung banyak dikritik masyarakat,” kata Dadang belum lama ini.

Apa yang dikerjakan Pemko Medan lima tahun terakhir, simpul Dadang, nampaknya belum sesuai dengan prinsip melayani. Faktor penyebabnya adalah mentalitas aparatur di lingkup Pemko Medan yang masih belum terbenahi.

“Banyak prinsip pelayanan publik yang belum dipenuhi, seperti prinsip keterbukaan, kecepatan/kemudahan, maupun kenyamanan. Soal utamanya adalah mentalitas aparatur yang belum sepenuhnya berjiwa sebagai pelayan rakyat yang tulus dan ikhlas,” papar Dadang lagi.

Lantas, seberapa penting reformasi pelayanan masyarakat dilakukan sebagai bagian dari reformasi birokrasi untuk Kota Medan?

“Reformasi birokrasi sungguh sangat penting. Terlebih di tengah era globalisasi yang semuanya menuntut pelayan yang lebih inovatif di seluruh bidang kehidupan, yang akan berpengaruh terhadap nasib kesejahteraan suatu bangsa,” lanjutnya.

Dadang optimistis, jika ada yang punya konsep bagus untuk mereformasi birokrasi di Pemko Medan, maka kemajuan akan terbuka.

“Tentu saja reformasi birokrasi akan membuat Kota Medan Bangkit, setidaknya Kota Medan bisa berkaca dari reformasi yang dilakukan di kota-kota besar, seperti Surabaya, Bandung, Makasar ataupun Jakarta,” kata Dadang.

Jika tidak segera fokus pada reformasi birokrasi, Dadang meyakini Medan akan semakin tertinggal dari kota lainnya. Warga pun semakin sengsara. Sebab, inti pemerintahan adalah pelayanan yang prima kepada rakyatnya.

Reformasi birokrasi, tukas dia, sangat bergantung pada kemauan politik (political will) pemimpin, dalam hal ini Wali Kota Medan terpilih nantinya,” pungkas Dadang.

Di sisi lain, Pasangan Calon Wali Kota/Wakil Wali Kota Medan, Bobby Nasution-Aulia Rachman menyatakan akan berkonsentrasi pada reformasi birokrasi di awal-awal kepemimpinannya, jika kelak diamanahi masyarakat untuk memenangi Pilkada Medan 2020 ini.(SB/01)