Penerima Nobel Ekonomi Diumumkan, KPNEJ Optimis Indonesia Tidak Masuk Resesi Ekonomi

Yonge Sihombing

sentralberita|Medan~Komite Pengusul Nobel Ekonomi Untuk Jokowi (KPNEJ)/The Commitee Propose of Nobel Economy for Jokowi (CPNEJ), optimis ekonomi Indonesia tidak masuk ke dalam jurang resesi ekonomi (economy recession).

“Kita harus optimis, karena dengan optimisme akan melahirkan motivasi, selanjutnya akan meningkatkan semangat juang kita, serta meningkatkan kreasi, inovasi, dan produktivitas kita supaya ekonomi kita tidak masuk dalam jurang resesi ekonomi”, kata Yonge Sihombing saat konfrensi pers KPNEJ di kantor sekretariat KPNEJ Jl. Sei Asahan No. 80 Medan, Kamis, 3 September 2020, Pukul 16.00 Wib.

“KPNEJ sebelumnya telah membuat artikel bertajuk resesi ekonomi dunia, yang sudah dipublikasi oleh berbagai media, seperti www.kopitimes.id
www.cendikiawanprotestan.com, www.pendidikankristenri.com, www.protestanpost.com, gramediapost.com, suarakristen.com, www.pilarnkri.com, dan jawapost. com”, kata Yonge didampingi Dra. Murniati Tobing, M. Si (Sekretaris KPNEJ), Amistan Purba, SE, SSi, MM (Litbang KPNEJ), Ir. Hamonangan Manurung, MM (Humas KPNEJ).

Resesi Ekonomi


Resesi kata Yonge adalah suatu keadaan yang menunjukkan suatu negara secara berturut-turut dalam dua kuartal, pertumbuhan ekonominya minus atau di bawah 1 atau di bawah 0.

Profesor Gregory Mankiw, ekonom dari Universitas Harvard menyatakan ada lima indikator resesi ekonomi, yakni; ketidakseimbangan produksi dengan konsumsi; perlambatan pertumbuhan ekonomi; nilai impor melebihi nilai ekspor; inflasi serta deflasi yang tinggi; dan tingkat pengangguran yang tinggi.

Menurut Profesor ekonomi dan statistik Universitas Rutgers, Julius Shiskin pada 1974, resesi adalah kontraksi atau pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut.

National Bureau of Economic Research (NBER) mendefinisikan resesi sebagai penurunan signifikan aktivitas perekonomian dalam jangka waktu lama.

NBER menyatakan indikator resesi harus dilihat secara bulanan, bukan per kuartal. Beberapa indikator resesi antara lain pendapatan per kapita riil, tingkat pengangguran, penjualan ritel, dan produksi industri.

Pendekatan ini dinilai lebih tepat untuk mengindikasikan terjadinya resesi ekonomi di Amerika Serikat, terutama pada 2001 dan 2007-2009.

Pada tanggal 31 Agustus 2020, kata Yonge, berbagai lembaga internasional telah merilis dan mempublikasikan kejatuhan negara-negara ke dalam jurang resesi ekonomi.

“Sebanyak 42 negara di dunia atau hampir seperempat dari jumlah negara di dunia telah jatuh ke dalam jurang resesi ekonomi, tetapi Indonesia tidak masuk dalam jurang resesi ekonomi”, kata Yonge Penulis Buku Jokowinomics.

Berita tentang kejatuhan 42 negara ke dalam jurang resesi ekonomi lanjut Yonge, sontak menjadi tranding topik pemberitaan dunia yang dipublikasi di media cetak, elektronik, dan media sosial.

“Namun Indonesia tidak masuk dalam daftar negara yang sudah dinyatakan resesi. Ini patut kita syukuri”, kata Yonge.

Resesi ekonomi yang terjadi saat ini ungkap Yonge, merupakan sebuah kejatuhan ekonomi dunia yang terbesar sepanjang sejarah perekonomian dunia, utamanya setelah perang dunia kedua.

Menurut Bank Dunia resesi ekonomi tahun ini terdalam sejak Perang Dunia. Demikian terungkap dalam laporan Bank Dunia mengenai prospek ekonomi global Juni 2020.

Yonge mengatakan kejatuhan ekonomi dunia ke jurang resesi sebelumnya telah diprediksi oleh para ekonom, birokrat, politisi, pengusaha, akademisi, dan lembaga-lembaga internasional seperti World Bank, IMF, OECD, ADB, Economist Institute, dan lembaga lainnya.

Karena itu, lanjut Yonge, pasca diumumkannya resesi ekonomi di 42 negara, Presiden Jokowi dengan sigap dan cepat melakukan rapat dan memberikan arahan kepada seluruh Gubernur secara virtual di Istana Bogor, Selasa (1/9). Presiden Jokowi menyebutkan bahwa bulan September ini menjadi harapan dan penentuan Indonesia lolos dari resesi ekonomi. Bulan September ini menjadi kesempatan untuk memacu pertumbuhan ekonomi.

“Kita masih punya waktu satu bulan. Masih ada kesempatan pada September ini. Kalau pertumbuhan ekonomi masih pada posisi minus, kita masuk resesi,” kata Jokowi, berita dilansir oleh CNBC Indonesia, Selasa, 01 September 2020 11:44.

Pemerintah sudah belanjakan Rp 2700 triliun, anggaran yang sudah disiapkan, termasuk anggaran PEN sampai Juni kemarin sudah belanjakan Rp1.000 triliun. Di kuartal III dan dan kuartal IV diharapkan belanja mencapai Rp1.700 triliun.

Sebanyak Rp 700 triliun di kuartal III dan Rp 1.000 triliun di kuartal IV dan bapak Presiden mendorong belanja di tiap Kementerian bisa dipacu maka diharapkan bisa menjadi jalur positif.

Anggota Komisi XI DPR Melchias Markus Mekeng mengemukakan apa yang dilakukan pemerintah saat ini lewat Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sudah benar.

Pemerintah bukan tidak paham angka-angka ekonomi seperti dikritik ekonom Faisal Basri, tetapi yang dibangun adalah optimisme di tengah krisis.

Menurut Mekeng, Pemerintah tidak mungkin hanyut dalam resesi dengan membangun narasi pesimistis, tetapi harus yakin dengan berbagai kebijakan yang diambil.

“Dunia ini memang tidak seindah yang dibayangkan atau yang dikatakan. Tetapi kan optimisme harus dibangkitkan. Kalau pemerintah tidak bangun optimisme dalam situasi seperti sekarang ini, ya rusak negara ini,” kata Mekeng di Jakarta, berita dilansir oleh JPNN.COM Rabu, 02 September 2020, Selasa (1/9/2020)

Menurut Yonge, Indonesia tidak jatuh ke dalam jurang resesi ekonomi karena kebijakan dan program pemulihan ekonomi yang dilakukan sudah baik, benar, dan tepat.

Selain itu, kata Yonge karena adanya pertolongan tangan-tangan tak kelihatan (invisible hand). Karena itu, kita harus tetap bersemangat dan optimis, supaya kita bisa kuat untuk menghadapi ancaman resesi ekonomi saat ini.

Kita tidak perlu takut, kita tidak perlu khawatir, kita tidak perlu bimbang, dan kita tidak perlu panik, dan kita tidak boleh menyerah terhadap gelombang persoalan yang sedang kita hadapi saat ini.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyatakan masyarakat tak perlu khawatir dengan pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga. Mengingat pemerintah telah dan terus berupaya membuatnya menjadi positif.

“Kita jangan mau ditakut-takuti dengan hal buruk terutama pertumbuhan ekonomi,” kata Luhut dalam acara peluncuran Program Bank Indonesia dalam Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia, Minggu (30/8), dilansir oleh Suara.com, CNBC Indonesia, dan kompas.com.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo sudah berupaya setengah mati agar perekonomian Indonesia tidak jatuh ke jurang resesi di masa pandemi virus corona atau Covid-19.

“Dalam kondisi di mana hampir semua negara mengalami pelemahan kinerja perekonomian, lalu kita bandingkan dengan pencapaian pemerintahan kita, maka kita juga harus fair mengatakan kinerja kita tidak terlalu buruk,” kata Rosdiana dalam diskusi bertema Evaluasi Perppu Corona dan Ancaman Resesi Ekonomi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (25/8), dilansir oleh JPNN. Com.

Pengumuman Nobel


Bulan Oktober tahun 2020 Komite Nobel di Oslo Norwegia, akan mengumumkan daftar nama penerima nobel, termasuk penerima nobel ekonomi. KPNEJ semakin optimis, nama Jokowi yang kami usulkan untuk menerima nobel ekonomi tahun 2020 bisa terwujud.

Dengan tidak masuknya Indonesia ke dalam daftar resesi ekonomi, merupakan sebuah pencapaian yang patut diapresiasi oleh masyarakat Indonesia, dan masyarakat dunia, termasuk Komite Nobel.

KPNEJ, kata Yonge, sudah mengirim dokumen dokumen ke Komite Nobel di Oslo-Norwegia pada bulan Nopember tahun 2019, yakni:


– Naskah dan CD Vidio tentang: “Konsep dan Capaian Hasil Implementasi Kebijakan Pembangunan Ekonomi Masyarakat Pinggiran Indonesia Yang Dilakukan Oleh Presiden RI Ir. H. Joko Widodo Selama Kurun Waktu 5 Tahun”.


– Buku Profil Presiden RI Ir. H. Joko Widodo
– Buku Kumpulan Surat-surat Dukungan dan Rekomendasi Kepada Presiden RI Ir. H. Joko Widodo Sebagai Nominator Penerima Nobel Ekonomi Tahun 2020.
– Buku Profil KPNEJ (Komite Pengusul Nobel Ekonomi Untuk Jokowi)/The Committee Propose Of Nobel Economy For Jokowi (CPNEJ).

Adapun judul yang kami usung dalam rangka pengusulan Nama Jokowi dalam kompetisi Nobel Ekonomi di Oslo-Norwegia adalah:

“Konsep dan Capaian Hasil Implementasi Kebijakan Pembangunan Ekonomi Masyarakat Pinggiran Indonesia Dalam Rangka Pemerataan Pembangunan, Penanggulangan Kemiskinan dan Pengangguran, Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi dan Pendapatan Nasional Menuju Indonesia Yang Unggul, Maju dan Sejahtera Yang Dilakukan Oleh Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo Selama Kurun Waktu 5 Tahun”.

“Judul ini yang kita usung, karena sesuai dengan hasil dan capaian kebijakan Jokowi, dan ini akan menggugah hati dan pikiran Komite Nobel, pemimpin dunia, dan masyarakat internasional ini”, kata Yonge.

Semoga nama Presiden Jokowi masuk dalam daftar penerima nobel ekonomi tahun 2020, demikian Ketua KPNEJ,Yonge Sihombing, SE., MBA. (SB/01)