Menoleh Janji-Janji Kampanye Politik “Gagal” Eldin-Akhyar di Belawan

Menoleh Janji-Janji Kampanye Politik “Gagal” Eldin-Akhyar Di Belawan

Janji politik untuk membangun kawasan Medan Utara atau kawasan Belawan menjadi isu yang selalu muncul dalam setiap perhelatan pemilihan kepala daerah seperti Pilkada Medan. Janji membangun Medan Utara ini juga disampaikan oleh pemimpin Kota Medan 5 tahun terakhir Dzulmi Eldin-Akhyar Nasution saat mereka masih berstatus pasangan calon di Pilkada Medan 2015.

Data yang dikumpulkan, sedikitnya ada beberapa janji yang disampaikan pasangan yang dikenal dengan sebutan BENAR kala itu. Janji politiknya adalah dengan menyebut penyelesaian banjir rob, pembangunan infrastruktur Danau Siombak, Pembangunan Belawan Front City hingga pembangunan rumah sakit tipe B sebagai prioritas tahun 2016.

Akan tetapi, janji itu ternyata hingga saat ini belum terealisasi sama sekali. Banjir rob yang terus menjadi momok bagi masyarakat Medan Utara hingga hari ini masih terjadi. Hal yang membuat masyarakat sangat kecewa dengan pemimpin Kota Medan 5 tahun terakhir.

“Yang kami minta itu hanya menyelesaikan banjir rob, dan infrastruktur di Belawan dibenahi. Tapi faktanya sampai sekarang tidak ada perubahan, jalan yang berstatus Jalan Kota masih berlobang-lobang,” kata Ketua Forum Anak Belawan Bersatu, Dedy Satria Ainal kepada Kantor Berita Politik RMOLSumut, Selasa (29/9).

Perihal pembangunan yang mandek di kawasan Medan Utara tersebut terindikasi terjadi karena tidak adanya niat dari Pemko Medan dalam merealisasikan janji pimpinannya. Anggota DPRD Kota Medan, HT Bahrumsyah mengatakan kondisi tanpa perubahan yang terjadi di Belawan disebabkan tidak adanya kebijakan yang mendukung terealisasinya janji politik alias janji kampanye Dzulmi Eldin yang kepemimpinannya terhenti karena kasus hukum dan diteruskan oleh Akhyar Nasution.

“Ada kesalahan cara berfikir mereka dalam menyelesaikan persoalan disana. Banjir rob tidak bisa diselesaikan dengan membendung saja, itu hampir tidak mungkin. Kita tau belawan 6 kelurahan dan dikelilingi paluh yang pinggirannya itu bisa sekitar 25 kilometer panjangnya. Kalau kita kapling semua mau dibuat ditanggul nggak masuk akal,” katanya.

Ironisnya kata, Bahrumsyah saat cara berfikir ini salah dan realisasi dilapangan menjadi nol. Pimpinan Kota Medan justru hanya mendiamkan saja dan tidak memikirkan cara lain. Kebijakan untuk meniru apa yang dilakukan oleh beberapa perusahaan dan instansi yang ada disana tidak dirangsang dalam rangka menyelesaikan banjir rob.

“Banjir rob terjadi karena dataran rendah. Lantas pertanyaannya kenapa seperti Pelindo, Lantamal dan lainnya tidak mengalami banjir rob?, itu karena mereka memanfaatkan bibir pantai dengan baik. Lantas lahan di pemukiman warga, Pemko Medan membiarkannya menjadi lahan tidur dan tidak boleh ada izin apapun keluar,” ujarnya.

Ditambahkannya, perubahan tata ruang di kawasan Medan Belawan menjadi hal yang harus dilakukan oleh Pemko Medan agar investor bisa masuk. Dengan masuknya investor maka, merekalah yang akan melakukan penimbunan-penimbunan sehingga masalah banjir rob bisa selesai.

“Sekarang developer nggak ada yang bisa masuk disana, izin untuk membangun di Belawan itu tidak ada. Padahal saat fungsi tata ruang itu diubah, Belawan akan bisa dibangun. Nah ini yang saya sebut memang pemimpin sebelumnya nggak punya kemampuan menyelesaikan persoalan disana,” ujarnya.

“Jujur sajalah, Eldin dan Akhyar hanya menjadikan Belawan sebagai “halaman belakang” selama ini. Janji membangun Belawan menjadi kota modern dengan konsep Belawan Water Front Ciy, pembangunan Infrastruktur Danau Siombak semua itu omong kosong. Karena memang tidak ada kemauan mengubah kebijakannya,” pungkasnya.(SB/AR)