BI Wilayah Sumut: Pertumbuhan Kredit Meningkat di Saat New Normal

Kepala Perwakilan BI Wilayah Sumut Wiwiek Sisto Widayat berbicara kepada wartawan Selasa (8/9).

t

sentralberita|Medan~Pertumbuhan kredit pada bulan Juli mencapai 5,2 persen (yoy), lebih tinggi dari triwulan II 2020 diindikasi terkait dengan situasi ekonomi yang membaik pada fase normal baru.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Sumatera Utara Wiwiek Sisto Widayat Selasa (8/9) mengatakan kredit yang disalurkan perbankan Sumut pada Juli 2020 mencapai Rp228,4 triliun, naik 5,2 persen (yoy).

Juni 2020 sebesar Rp226,1 triliun, naik 3,7 persen (yoy), sedangkan Desember 2019 sebesar Rp226,0 triliun, naik 2,2 persen (yoy).

Wiwiek menyebut kredit bermasalah (NPL) juga masih terjaga baik di posisi 3,6 persen pada Juli 2020, Juni 3,7 persen dan Desember 2019 sebesar 3,0 persen.

“Sebagian lapangan usaha mendorong perbaikan kinerja kredit secara keseluruhan,” ungkap Wiwiek.

Dari total penyaluran kredit itu, untuk Usaha Mkro Kecil Menengah (UMKM) pada Juli 2020 sebesar Rp57,6 triliun (turun 4,8 persen yoy),
Juni Rp56,9 triliun (turun 3,1 persen yoy) dan
Desember 2019 sebesar Rp59,2 triliun, naik 4,8 persen yoy. NPL UMKM Juli 2020 sebesar 5,1 persen, Juni 5,1 persen dan Desember 2019 sebesar 4,5 persen.

Jika dibandingkan dengan dana pihak ketiga (DPK), maka persentase kredit yang disalurkan pada Juli 2020 sebesar 86,5 persen, Juni 87,8 persen dan Desember 2019 sebesar 96,1 persen.

DPK yang dihimpun perbankan juga mengalami kenaikan pada Juli 2020 sebesar Rp250,7 triliun (naik 8,2 persen yoy), Juni sebesar Rp248,9 triliun (naik 7,8 persen yoy) dan Desember 2019 sebesar Rp235,3 triliun (naik 6,9 persen yoy).

“DPK meningkat terutama didorong oleh giro pemerintah dan swasta yang membaik,” kata Wiwiek.

Risiko kredit juga dalam dalam tren menurun, dan dibawah batas 5 persen, terlebih
dengan adanya dukungan program restrukturisasi kredit UMKM.

Sedangkan untuk kredit sektoral, sebagian lapangan usaha mendorong perbaikan kinerja kredit keseluruhan berdasarkan lapangan usahanya. Seperti kinerja kredit pertanian, industri pengolahan, dan PBE meningkat dibandingkan triwulan II 2020. Sehingga mendorong kinerja kredit keseluruhan .

“Perbaikan kinerja kredit juga diikuti risiko kredit yang menurun sehingga mengindikasikan perbaikan ekonomi sejak berlangsung terutama pada Lapangan Usaha tersebut,” jelasnya.

Sementara itu kinerja kredit UMKM masih mengalami penurunan menyentuh 3,8 persen
(yoy). Kontraksi kredit terutama didorong oleh kredit jenis menengah dan mikro.

Di sisi lain, sebaran kredit UMKM masih sejalan dengan kredit secara umum, dimana fokus penyerapan masih berada di Medan dan Deli Serdang. Risiko kredit UMKM juga masih sedikit diatas ambang batas 5 persen.(SB/Wie)