Ancam Sebarkan Video Asusila WN Malaysia, Deni Barus Diadili

sentralberita|Medan~Deni Barus, warga Jl. Kepiting, Medan, didakwa melakukan pemerasan dan pengancaman terhadap korban warga negara Malaysia, Zamri Bin Baharin.

Terdakwa mengancam akan menyebarkan video asusila korban dengan seorang wanita dan meminta uang Rp300 ribu untuk keperluan pembangunan kantor.

Dalam sidang lanjutan beragenda keterangan korban di PN Medan,Jum,at (25/9), jaksa menanyakan bagaimana cara terdakwa waktu pertama kali menghubungi korban. Korban menyebut, ia saat itu dihubungi terdakwa lewat handphone.

“Video mu sama saya, kita harus selesaikan kalau tidak saya sebarkan,” kata saksi korban di hadapan jaksa Sri Lastuti dalam sidang di Ruang Cakra 3.

“Ke mana dia mau sebarkan?,” tanya jaksa.

“Dia mau sebarkan ke humas polda. Saya gak nyaman, saya keberatan makanya saya laporkan,” ucap korban.

Menurut penuturan korban, dugaan dia video asusila itu didapat terdakwa dari perempuan yang ada di video bersama korban.

“Dari perempuan itu kayaknya pak,” ucap korban saat ditanya majelis hakim.

Hakim yang merasa penasaran, mencecar lebih jauh korban, memastikan apakah memang ada divideo kan saat berhubungan intim.

“Gak ada pak hakim, saya juga tidak tahu ada video itu, saya gak sadar kalau di video kan,” kilah korban.

“Masa Anda bisa gak tahu kalau sedang di video kan,” “iya pak hakim,” jawab korban.

Perkara pemerasan dan pengancaman yang dilakukan terdakwa berawal pada Desember 2019. Dalam melakukan aksinya, terdakwa menggunakan nomor Whatsapp pribadinya.

Lewat Whatsapp, terdakwa mengirimkan pesan ke korban yang isinya mengatakan kepada korban Zamri Bin Baharin bahwasanya terdakwa memiliki video yang berkaitan dengan kesusilaan milik korban.

Terdakwa mengaku, video tersebut diperoleh dari perempuan yang ada di dalam video. Namun saat itu belum direspon korban.

Kemudian pada 24 Desember 2019, terdakwa kembali menghubungi korban dan mengirimkan video korban saat berhubungan intim dengan perempuan bernama Dina Armadani.

Terdakwa lalu menuntut korban menikahi perempuan itu, bila tidak diindahkan video akan disebarkan ke media sosial maupun instansi-instansi terkait. Selain itu, terdakwa juga meminta uang sebesar Rp300 ribu untuk digunakan membangun kantor milik terdakwa di Sibolga.

Karena merasa terancam, korban lalu melaporkan terdakwa. Perbuatan terdakwa diancam Pidana melanggar Pasal 27 ayat (4) jo Pasal 45 Ayat (4) UURI Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas UURI Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronika. (SB/ FS )