Tiga Kurir 170 Kg Sabu Tetap Dihukum Seumur Hidup di Pengdilan Tinggi

sentralberita|Medan~Pengadilan Tinggi (PT) Medan menghukum tiga pria asal Aceh masing-masing selama seumur hidup penjara. Ketiganya yakni Boi Haky alias Boi (35), Darman Bustaman (34) dan Mukhlis (30) dinyatakan terbukti menjadi kurir narkotika jenis daun ganja kering seberat 170 kilogram.

Putusan terhadap ketiganya dibacakan oleh majelis hakim tinggi berbeda pada Senin tanggal 20 April 2020.

Untuk terdakwa Boi Haky, putusan Nomor: 450/Pid.Sus/2020/PT MDN itu dibacakan oleh Ketua Majelis Hakim Tinggi, Sahman Girsang didampingi hakim tinggi anggota, Erwan Munawar dan Ahmad Ardianda Patria. Majelis hakim tinggi sama juga membacakan putusan Nomor: 457/Pid.Sus/2020/PT MDN, untuk terdakwa Mukhlis.

Sementara terdakwa Darman Bustaman, putusan Nomor: 452/Pid.Sus/2020/PT MDN itu dibacakan oleh Ketua Majelis Hakim Tinggi, Ronius didampingi hakim tinggi anggota, Poltak Sitorus dan Suwidya. “Menjatuhkan hukuman pidana kepada ketiga terdakwa oleh karena itu selama seumur hidup penjara,” tulis website PT Medan yang dikutip wartawan, Senin (24/8) sore.

Perbuatan ketiga terdakwa dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Putusan ini senada dengan hukuman yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri (PN) Medan.

“Menjatuhkan hukuman pidana penjara kepada ketiga terdakwa selama seumur hidup,” tandas majelis hakim yang diketuai oleh Irwan Effendi pada Selasa (28/1) sore. Namun, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Septebrina Silaban menuntut ketiga terdakwa dengan pidana mati.

Dalam dakwaan JPU Septebrina Silaban, pada Rabu tanggal 15 Mei 2019 sekira jam 15.00 WIB, terdakwa Boi Haky disuruh oleh Hendrik (belum tertangkap) untuk mengantarkan ganja kering sebanyak 170 kilogram ke Medan. Dimana, Hendrik akan memberikan kepada terdakwa uang sebesar Rp 2.000.000 yang diserahkan oleh Darman Bustamam (berkas terpisah).

Kemudian, terdakwa merental mobil avanza berwarna hitam BK 1895 GV dan langsung berangkat. “Ketika perjalanan, terdakwa dihubungi Darman dan disuruh berhenti di pinggir jalan untuk menerima uang ongkos jalan sebesar Rp 600.000. Setelah menerima uang tersebut, terdakwa berangkat lagi menuju ke Jalan Banda Aceh Medan tepatnya lewat jembatan Indra Puri Aceh Besar,” ujar JPU.

Lalu, terdakwa dihubungi oleh Jumadi (belum tertangkap) dan kembali disuruh berhenti di pinggir jalan. Karena, Jumadi akan meletakkan ganja kering di mobil yang terdakwa gunakan. Sedangkan terdakwa menunggu di warung pinggir jalan. Satu jam menunggu, Jumadi datang dan menemui terdakwa dengan membawa mobil Avanza yang telah memuat 5 karung goni berisi 170 kilogram ganja kering.

Sebelum berangkat, Jumadi berpesan kepada terdakwa agar berhati hati. “Terdakwa tidak sendirian berangkat ke Medan karena dia akan diiringi oleh mobil Avanza warna putih B 1401 NYN yang dikemudikan oleh Darman bersama Mukhlis (berkas terpisah),” cetus Septebrina.

Saat perjalanan, Darman menghubungi terdakwa dan menyuruhnya untuk berhenti karena ada petugas lalu lintas sedang melaksanakan razia di jalan raya. Selang setengah jam kemudian, Darman Bustamam menyuruh terdakwa untuk melanjutkan perjalalan karena razia sudah selesai.

Pada Kamis tanggal 16 Mei 2019 sekira jam 07.00 WIB, terdakwa dihubungi oleh Jumadi untuk menemui tukang becak yang merupakan orang suruhannya ke Jalan Bunga Raya Kecamatam Medan Sunggal. Ketika di lokasi, tiba-tiba datang mobil yang dikendarai oleh petugas Polda Sumut.

Pasalnya, petugas sebelumnya telah melakukan penangkapan terhadap Darman dan Mukhlis. “Saat digeledah dalam mobil yang dikemudikan oleh terdakwa, petugas menemukan ganja kering seberat 170 kilogram,” cetusnya. (FS)