Investor Pasar Modal BRI Meningkat

sentralberita|Medan ~ Pertumbuhan jumlah investor pasar modal BRI mengalami tren kenaikan, terlihat dari tahun 2018 berjumlah 1,6 juta investor, pada tahun 2019 sebanyak 2,5 juta investor, kemudian hingga Juni 2020 mencapai 3,02 juta.     

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan hal itu pada Public Expose Live 2020 yang diselenggarakan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) secara virtual Kamis (27/8/2020).

Saat itu, Sunarso didampingi Direktur Keuangan Haru Koesmahargyo dan Direktur Manajemen Risiko Agus Sudiarto. Webinar Public Expose Live 2020 ini diikuti 50 emiten.   

Harga saham BRI (kode saham BBRI) saat ini Rp3.800 dan naik 43,4 kali, kemudian nilai reinvestasi dividen naik 25,6 kali. 

Sunarso menyebut investor retail BRI juga mengalami tren kenaikan khususnya di tengah pandemi Covid-19, yang didorong oleh kesadaran masyarakat untuk berinvestasi utamanya.

Ditengah krisis dan meningkatnya akses ke pasar modal melalui online trading app dan perubahan perilaku masyarakat dengan menjadikan aktivitasinvestasi/trading sebagai hiburan.   

Saat ini kepemilikan investor Retail BBRI tumbuh signifikan dari 2018 menunjukkan angka 0,82 persen. Tahun 2019 diangka 1,07 persen. Pada bulan Maret 2020 kembali meningkat 1,48 persen. Hingga Juni 2020 semakin meningkat 2,21 persen.   

Kemudian untuk pemulihan ekonomi nasional BBRI lakukan relaksasi restrukturisasi kredit yang mencapai Rp183,7 triliun untuk 2,9 juta nasabah. Sedangkan penjaminan kredit untuk nasabah UMKM senilai Rp 1,3 triliun untuk 2,317 nasabah.

Selain itu untuk subdisi bunga capai Rp1,2 triliun untuk 7,1 juta nasabah. Dan penempatan dana pemerintah capai Rp35,8 triliun untuk 836,261 nasabah.   

Sedangkan untuk produktif bagi pengusaha bisnis mikro mencapai Rp1,02 triliun untuk 425,950 pengusaha mikro.Pada penjaminan kredit untuk nasabah korporasi masih dalam proses. Diharapkan segera terealisasi.
     

“Semua ini adalah yang dilakukan pihak BBRI dalam pemulihan ekonomi nasional, dan mendukung percepatan ekpansi kredit BRI dengan biaya dana yang rendah,” kata Sunarso. 
   

Kemudian disaat pandemi tren restrukturisasi menurun seiring dengan pelonggaran PSBB dan kembalinya aktivitas ekonomi masyarakat. (Wie)