Ekonomi Sumut Semester I 2020 Tumbuh 1,11 Persen

Kabid Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Sumut Taulina Anggarani memberikan.keterangan kepada wartawan melalui live streaming Rabu (5/8/2020).


sentralberita|Medan~Ekonomi Sumatera Utara semester I-2020 dibanding semester I-2019 tumbuh 1,11 persen (c-to-c). Khusus ekonomi triwulan II 2020 mengalami kontraksi sebesar 2,37 persen (-2,37 persen) dibanding posisi sama tahun 2019.

Kabid Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara Taulina Anggarani mengatakan hal itu kepada wartawan melalui live streaming Rabu (5/8/2020).

Dari sisi produksi, katanya, pertumbuhan tertinggi pada lapangan usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 7,65 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi pada komponen PMTB yang tumbuh sebesar 2,87 persen.

Ia menjelaskan perekonomian Sumatera Utara berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga
berlaku triwulan II-2020 mencapai Rp197,64 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp130,23 triliun.

Menurutnya, pandemi Covid-19 sangat berdampak pada ekonomi Sumut triwulan II-2020 dibanding triwulan II-2019 mengalami kontraksi sebesar 2,37 persen (y-on-y).

“Kontraksi tersebut disebabkan oleh kontraksi beberapa lapangan usaha akibat pandemi Covid-19,” kata Taulina.

Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 5,42 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) yang tumbuh sebesar 1,54 persen.

Jika dibanding triwulan II 2019, ekonomi Sumut triwulan II-2020 menurun sebesar 4,75 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, penurunan disebabkan oleh kontraksi yang terjadi pada sebagian besar lapangan usaha.

Sementara dari sisi pengeluaran, penurunan disebabkan oleh kontraksi pada seluruh komponen kecuali Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah.

Struktur ekonomi di Pulau Sumatera secara spasial pada triwulan II-2020 didominasi oleh beberapa provinsi diantaranya Provinsi Sumatera Utara memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB di Pulau Sumatera sebesar 24,35 persen, diikuti oleh Provinsi Riau sebesar 20,71 persen, Provinsi Sumatera Selatan sebesar 13,99 persen, serta Provinsi Lampung sebesar 11,03 persen.

Sementara itu, kontribusi terendah ditorehkan oleh Provinsi Bengkulu sebesar 2,21 persen dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 2,20 persen.

Taulina menambahkan beberaps peristiwa berkaitan dengan ekonomi yang terdampak Covid-19. Produksi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan kehutanan melambat. Produksi peternakan dan perikanan menurun.

Pertambangan migas, bijih logam dan penggalian menurun. Industri makanan dan minuman melambat. Industri pengolahan
tembakau, industri karet dan industri logam dasar menurun. Realisasi pengadaan semen mengalami penurunan.

Realisasi Belanja Pegawai meningkat karena ada THR Bulan Mei 2020 bagi ASN/TNI/Polri. Perdagangan mobil dan sepeda motor, perdagangan besar daneceran menurun.

Transportasi dan pergudangan mengalami penurunan tajam.Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum mengalami penurunan tajam.Informasi dan komunikasi mengalami perlambatan. Jasa keuangan mengalami penurunan. Jumlah wisatawan mancanegara menurun tajam.

Pengeluaran konsumsi rumah tangga turun karena menurunnya pengeluaran pada semua sektor, terutama pada sektor transportasi, rekreasi dan budaya, serta penginapan dan hotel turun tajam. Pengeluaran lembaga non-profit yang melayani rumah tangga turun terutama pada lembaga keagamaan dikarenakan adanya imbauan beribadah di rumah sesuai Fatwa MUI Pusat Nomor 14
Tahun 2020.

“Pengeluaran pemerintah meningkat karena besarnya belanja bantuan sosial untuk pandemi Covid-19,” kata, Taulani.

Pertumbuhan ekspor dan impor turun karena adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan pemerintah. (SB/Wie)