Dialog Pembangunan Tapanuli Selatan

Oleh : Suheri Harahap|sentralberita~Catatan bagi pemerhati pembangunan di Tapsel akan terus menarik perhatian ditengah pergantian kepemimpinan dan siapa yang akan melanjutkan dan fiigur seperti apa?

Tentu yang memiliki pengalaman dan track record, kematangan, kecerdasan memimpin, usia yang matang, menguasai berbagai persoalan baik eksekutif, legislatif dan yudikatif akan jauh lebih baik untuk melanjutkan apa yang sudah ditorehkan para bupati di Tapanuli Selatan.

Berbagai keberhasilan tentu kita apresiasi dan kita dukung, tapi kekurangan dan belum tersentuhnya pembangunan diberbagai bidang akan menarik untuk dikaji dan dihadirkan dalam dialog pembangunan di Tapsel.

Apa yang menjadi perhatian kedepan oleh para calon bupati sehingga sisi keberlanjutan dapat diwujudkan.

  1. Pembangunan infrastruktur, ada kemajuan di zaman Syahrul Pasaribu dan kelanjutan dari zaman Ongku P. Hasibuan untuk menggelontorkan dana yang cukup besar baik jalan nasional, propinsi dan kabupaten.
  2. Baik membuka jalan baru antar desa, kecamatan, daerah terisolir, tetapi kita masih ada terlihat ketimpangan antar wilayah dan manfaat jalan apakah untuk akses masyarakat meningkatkan ekonomi di desa sudah meningkat atau pemerintah yang butuh jalan atau rakyat? Kedepan di Tapsel jauh lebih bisa dipercepat pembangunan infrastruktur jalan lewat kemampuan seorang Doli Sinomba Siregar untuk melobi ke propinsi dan ke pusat agar jalan-jalan di Tapsel lebih baik lagi. Istilah ‘anak tiri’, kesenjamgan masih ada, lihatlah di Saipar Dolok Hole misalnya, kenapa di Marancar seolah-olah seperti ibukota Tapsel, kenapa bukan di Sipirok?
  3. Pembangunan kawasan Danau Siais, ketika zaman Ongku P. Hasibuan bupati wilayah ini sudah dibangun dan dimajukan sebagai tujuan destinasi wisata, seperti apa sekarang? Ketika jalan sudah bagus, sementara di sekitar danau sudah dibangun berbagai fasilitas seperti kantor perikanan, pramuka, tapi zaman Syahrul Pasaribu, seolah terlantarkan, padahal potensi disini cukup besar, baik wisata alam yang tak kalah dengan Danau Toba, bisa dikembangkan budi daya ikan mas, sehingga ikan mas tak perlu lagi kita datangkan dari Sumatera Barat dan Danau Toba (Taput, Samosir), ditambah penataan kawasan di sekitar danau siais tidak menjadi kawasan hutan yang bukan milik pribadi, tapi pemerintah hadir menata lewat berbagai program kehutanan sosial bagi masyarakat adat. Terjadi perpindahan penduduk lokal bukan mendatangkan penduduk pendatang.
  4. BUMD Tapsel sebagai pilot projek peningkatan PAD. Jika kemajuan sebuah daerah tidak mengoptimalkan sumber pemasukan lewat penguatan BUMD, maka sulit kita mendorong percepatan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan dan peningkatan lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal. Selama ini Tapsel terus mengandalkan sumber deviden dari Bank Sumut dan tambang emas Martabe, maka kita lebih optimis dengan visi keberlanjutan dan strategi pembangunan yang akan dilanjutkan oleh Bapak Doli Sinomba Siregar untuk memberi penguatan BUMD, yang akan diisi oleh Putra/i terbaik Tapsel, lihatlah selama ini siapa di BUMD kita Tapsel ini, apa yang menjadi kebanggaan kita? Padahal banyak potensi seperti pemberdayaan kopi Sipirok (masih banyak lahan kosong untuk petani bisa menanam kopi), pendayagunaan kayu, jangan lagi kita mendatangkan dari Jawa untuk bahan Jepara padahal di tempat kita ada bahannya untuk bahan kursi, lemari dll. Begitu juga batik tenun Tapsel. Kawasan yang tetapkan PemkabTapsel sebagai agro pertanian, kawasan energi baru terbarukan (EBT) dan kawasan strategis lainnya dengan potensi yang ada masih belum banyak menguntungkan ekonomi dan kesejahtetaan masyarakat lokal. Daerah Muara Opu daerah terluar yang memiliki pasir pantai dan penyu dengan pantai yang indah, destinasi wisata yang belum menggembirakan dalam mununjang PAD dan ekonomi rakyat di lokasi tersebut. Masih banyak lagi potensi sumber daya alam batubara, emas di perut bumi Tapsel yang bisa digali, inilah yang diharapkan bagi pemimpin Tapsel kedepan bukan ajang bagi kroni-kroni penguasa (perebutan kekuasaan sumverdaya alam baik tambang emas dan PLTA) tapi bagaimana untuk rakyat Tapsel bisa sejahtera dan bahagia warganya.
  5. Peningkatan sumberdaya manusia (SDM) Tapsel, kita boleh bangga dengan jumlah alokasi dana pendidikan 20%, ada penambahan pembangunan gedung-gedung sekolah baik SD, SMP, SMA/SMK. Meski masih ada SMK di seluruh kecamatan. Ada bantuan bagi guru lewat APBD dan CSR oleh tambang dan perkebunan serta bantuan lewat lembaga perbankan dan lainnya. Tapi kita juga bangga punya perguruan tinggi Universitas Graha Nusantara ( UGN), seperti apa selama 10 tahun ini, kenapa tidak bIsa diwujudkan menjadi perguruan tinggi negeri, siapa pengelola yayasan ini? seberapa besar dana APBD Tapsel dialokasikan untuk memajukan pendidikan di Tapsel saat ini, katanya sudah memiliki pertapakan, kenapa pemerintah tidak sunggug-sungguh menyiapkan sumber daya lewat pendidikan? bisa menyediakan tenaga kerja terdidik dari Putra/i terbaik Tapsel. Bapak Doli Sinomba Siregar diharapkan mampu menerobos ke pemerintah pusat untuk ini. Tapsel punya prioritas pembangunan yang diandalkan dan disegani kabupaten lain, kalau punya perguruan tinggi di bidang pertambangan, pertanian, perkebunan, perikanan yang unggul.
  6. Pembangunan dengan penguatan komunitas. Apa yang dimsjukan oleh pemerintah Tapsel sekarang ini kepada masyarakat adat. Dearah kita ini sejak dulu dihuni oleh komunitas marga dan suku Angkola, memiliki wilayah teritori tanah ulayat. Hampir kita saksikan adanya konflik pembangunan dengan masyarakat adat lokal. Lihatlah misalnya pembangunan pertapakan gedung kantor bupati, ada masyarakat adat yang protes, pembangunan tambang enas, PLTA, sekolompok masyarakat adat marga Sitompul menggugat dan protes ganti rugi, perkebunan dan lain-lain, kita punya harapan kedepan ada keberpihakan pemimpin, menjaga keseimbangan bukan membela swasta, apalagi terdapat ajang menguasai ekonomi atas kehadiran PLTA? Pemerintah memberi ruang kompetisi masyarakat lokal bisa berusaha, bekerja dan menyiapkan dari hulu sampai hilir rakyat berdaulat atas sumberdaya alam untuk sebesar-besar kemakmuran, prakteknya jangan ada monopoli apalagi motif kekuasaan. Memang kita butuh Petda Masyarakat Adat Angkola seperti Perda Masyarakat Batak di Tapanuli Utara, tapi ada harapan bagi Bapak Doli Sinomba Siregar lebih memperhatikan kemajuan dan eksistensi masyarakat adat.(SB).