Pesona Terpendam Candi Tandihat Binanga: Hampir Tinggal Cerita Belaka

Oleh: Akhmad Japar Hasibuan|sentralberita~Memanfaatkan dan mengembangkan suatu kawasan atau tempat bersejarah yang mempunyai potensi terhadap perlindungan, pemeliharaan dan pembangunan ekonomi masyarakat serta pendapatan daerah

adalah tugas dan kewajiban yang tidak boleh dianggap enteng oleh pemerintahan daerah, pemerintahan daerah yang telah diberikan mandat dan amanat oleh rakyat melalui peraturan perundang-undangan dalam hal ini Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia pasal 18

menyebutkan bahwa pemerintahan daerah dalam menjalankan pemerintahannya mengurus urusan pemerintahan dan mengurus urusan administrasi diberikan ruang yang seluas-luasnya dan diberikan pula kewenangan mengatur mengenai penetapan peraturan-peraturan yang

bisa mendukung terlaksananya prinsip-prinsip otonomi daerah guna kepentingan masyarakat yang berakhir pada cita-cita bangsa dalam menegakkan keadilan yang menyeluruh bagi seluruh rakyat.
Nostalgia Daya Tarik Candi Tandihat Binanga.

Candi Joreng Balanga atau lebih dikenal dengan nama candi tandihat binanga merupakan candi yang masih terletak dalam wilayah Kecamatan Barumun Tengah Kabupaten Padang Lawas, candi ini merupakan satu-satunya candi Buddha yang ada di Provinsi Sumatera Utara.

Fakta mencatat bahwa pada tahun 2002 rombongan yang datang dari negara Thailand dan warga beragama Buddha dari seluruh provinsi di pulau sumatera mengunjungi dan melaksanakan perayaan hari raya waisak dengan jumah romongan sekitar 102 orang.

Rombongan yang datang mengunjungi kawasan percandian ini mengetahui informasi percandian ini berdasarkan penelitian dan data atau dokumen yang mereka miliki, hal ini berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh salah seorang warga desa tandihat yang merupakan sebagai pemegang kunci atau pemelihara candi ini.

Selain itu pada tahun 2005 telah dilaksanakan kegiatan pramuka oleh sekolah-sekolah yang ada di kebupaten Tapanuli Selatan (waktu itu masih merupakan kabupaten Tapanuli Selatan), dengan jumlah peserta sebanyak 750 orang.

Dilema Pembangunan Infrastuktur Menuju Kawasan Percandian
Dapat dikatakan masalah Infrastuktur menjadi masalah awal bagi masalah-masalah lain terkait kawasan budaya ini, dikatakan demikian karena maasalah infrastuktur ini menjadi penyebab bagi kalangan masyarakat malasa untuk mengunjungi kawasan pariwisata ini.

Padahal jarak yang harus ditempuh dari jalan lintas atau simpang percandian ini ke kawasannya hanya perlu menempuh perjalanan sekitar 5 km saja, namun jarak tempuh yang hanya 5 km ini seperti menempuh perjalanan 10 km, akibatnya tidak lain karena pembangunan infrastuktur yang tidak bijak dan tidak merata dari hulu atau simpang percandian sampai hilir atau desa kawasan percandian.

Pembangunan infrastuktur yang tidak bijak dan tidak merata maksudnya adalah pembangunan jalan lintas desa menuju kawasan percandian tersebut berjarak-jarak antara satu wilayah dengan yang lainnya. Jika awal menuju perjalanan jalannya mulus dan lancar-lancar saja maka 100-200 meter jalannya pasti rusak, dan begiu seterusnya sampai memasuki kawasan percandian ini.

Padahal candi tandihat binanga ini bukan hanya satu percandian saja akan tetapi kita dapat menemui 3 kawasan percandian, sebagaimana candi situngir-tungir atau lebih dikenal dengan istilah candi bahal yang memiliki 3 kawasan percandian.

Menjadi persoalan berikutnya adalah langkah pemerintah yang belum layak untuk mendapatkan pujian. Maksudnya adalah inisiatif warga desa yang sudah terimplementasikan membangun jalan penghubung antara candi tandihat binanga dengan candi sipamutung binanga menggunakan anggaran dana desa (add) walaupun masih jalan krikil untuk menghubungkan kedua candi ini, sedang peran pemerintah daerah hanya ikut membantu membuat jalan layang (rambin) melintassi sungai barumun di desa sihaborgoan sebagai penghubung kedua desa.

Padahal jika jalan penghubung antara kedua desa ini dibangun dengan sungguh-sungguh dan sebagaimana mestinya serta dengan keuntungan dan kelebihan-kelebihan yang dihasilkan nantinya jika kedua infrastuktur desa ini terhubung maka sektor pariwisata akan terangkat dan perekonomian masyarakat akan terbantu serta pemanfaatan budaya akan tercapai beriring dengan tugas dan kewenangan pemerintah daerah dapat terlaksana.

Pariwisata yang Terseok-seok

Bagaimana pariwisata dapat menjadi roda penggerak ekonomi masyarakat jika infrastuktur jalannya saja amburadul. Tapi tidak sampai disitu saja, kondisi candi tandihat binanga ini betul-betul sangat memprihatinkan.

Bagaimana tidak melihat kondisi candi yang tidak terawat, tidak ada pemugaran dan terancam kerusakan yang semakin parah tanpa ada peran yang berarti dari pemerintah daerah sehingga jika dikatakan candi tandihat binanga ditelantarkan oleh pemerintah daerah adalah pernyataan yang mungin tidak salah.

Amanat yang disampaikan oleh Undang-undang Cagar Budaya terhadap peran dari pemerintah daerah untuk menjadi pemegang kewenangan dan merupakan garda terdepan dalam melindungi, mengembangkan dan memanfaatkannya, melindungi yang seharusnya sudah lama dilakukan oleh pemerintah daerah adalah dengan melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan dari kerusakan, kehancuran atau kemusnahan.

Jelas bahwasanya langkah yang selanjutnya yang dilakukan oleh pemerintah daerah adalah langkah penyelamatan dari segala ancaman yang dapat mengakibatkan reputasi candi tandihat binanga ini tinggal cerita atau dongeng pengantar tidur.

Namun pada fakanya apakah peran penting pemerintah dalam melakukan penyelamatan kekayaan cagar budaya yang sudah mendunia ini sudah terlaksana sebagaimana perannya?

Peran pemerintah daerah sangat jauh dari kata terlaksana, pemugaran dan penyelamatan kawasan percandian serta candi itu sendiri nyatatanya lebih banyak peran dari satuan balai pelestarian cagar budaya aceh dan Sumatera Utara, mulai dari pendanaan hingga pada proses pemugaran, pemeliharaan, dan pelindungan.

Hal ini terbukti dengan didirikannya kantor balai pelestarian cagar budaya aceh dan sumatera utara di dekat kawasan percandian ini, dan begitulah ondisi candi tandihat 1 berdasarkan keterangan yang didapatkan dari sumber terpercaya yakni hatobangon (orang yang dituakan) di desa tempat keberadaan candi tandihat binanga ini. Lantas bagaimana dengan candi tandihat 2 dan candi tandihat 3 tersebut?

Candi tandihat 2 kondisinya sudah 50% kehancuran dengan tambahan telah digerayangi oleh rumput-rumput liar yang menyelimuti hampir sekujur tubuh candi itu, dan untuk candi tandihat 3 kondisinya jauh lebih parah dari kondisi candi tandihat 2,

Sebagai bukti yang harus dipertanyakan kepada pemerintah tentang komitmen dan upaya apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah daerah tersebut terhadap kekayaan budaya bangsa dan negara yang kebetulan berada dalam wilayah pemerintah daerah kaupaten padang lawas.
Kegelapan Informasi Pariwisata

Sebagai Ketua Pengurus Cabang Angkatan Muda Padang Lawas organisasai perantaaun pemuda Pdang lawas yang kebetulan kampung dan kawasan percandian candi tandihat binanga dan candi sipamutung binanga berdekatan sangat meyangkan setelah melakukan pengecekan langsung kelapangan yang sebenarnya bukan hanya pertama kalinya meyayangkan kondisi candi yang memprihatinkan,

akses lokasi yang susah, dan informasi yang keberadaan pariwisata yang masih sangat minim. Sehingga dapat dipastikan masih banyak warga kabupaten padang lawas maupun kabupaten padang lawas utara yang mengetahui keberdaan candi ini dan mengunjunginya.

Maka sudah selayaknya amanat yang sudah diamanatkan oleh undang-undang dalam undang-undang pemerintahan daerah yang menganut asas otonomi daerah tentang kewenangan mengurus urusan pemerintahan dan administrasinya serta amanat yang diberikan oleh undnag-undang cagar budaya yang member kewenangan bagi pemerintah daerah untuk

melakuakn penyelamatan, pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan dpat diwujudkan berbentuk fakta yang dapat menunjang tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.(Mahasiswa Universitas Sriwijaya/ Ketua PC Angkatan Muda Palas Palembang/ Pemuda Luat Huristak)