Di Tengah Pandemi, BNI Syariah Mampu Raih Laba Rp267 Miliar

Banyak perusahaan global yang menawarkan saham kepada pekerjanya agar sense of belonging pekerja terhadap perusahaan semakin kuat. Branch Manager PT BNI Syariah Kantor Cabang Medan Imam Samekto

sentralberita|Medan~ Kondisi pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia, juga terimbas pada semua sektor di Indonesia, termasuk perbankan. Namun BNI Syariah masih mampu meraih laba pada Juni 2020 sebesar Rp 267 miliar.

Hal itu dikatakan Branch Manager PT BNI Syariah Kantor Cabang Medan Imam Samekto Jumat (24/7/2020).

Imam menyebut kinerja BNI Syariah pada Juni 2020, aset Rp50,86 triliun, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) Rp43,64 triliun, pembiayaan Rp31,32 triliun, persentase pembiayaan bermasalah (NPF) 3,78 persen
dan laba Rp267 triliun.

Sedangkan kinerja tahun 2019, aset Rp49,98 triliun, DPK Rp43,77 triliun, pembiayaan Rp32,58 triliun, NPF sebesar 3,33 persen dengan laba selama setahun sebesar Rp603 miliar.

Menurutnya, kondisi bank syariah secara umum tergolong mampu bertahan dan bersaing di tengah krisis ekonomi, termasuk pandemi Covid-19.

Ia mencontohkan tahun 1998 ketika terjadi krisis moneter, dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia -13,13 persen, nilai tukar Rp16.300 per dolar AS, namun Bank Syariah survive karena bagi hasil.

Begitu pula pada krisis ekonomi tahun 2008 yang dipicu case subprime Mortgage di Amerika Serikat berdampak pada perekonomian Indonesia tumbuh 4,5 persen tahun 2009, nilai tukar merosot hingga 32 persen. “Lagi-lagi Bank Syariah survive karena bagi hasil,” katanya.

Akan halnya kondisi ekonomi tahun 2019 hingga semester I 2020, market share perbankan syariah per April 2020 justru naik menjadi 9,03 persen dari posisi 2019 sebesar 8 persen.

“Namun pada saat pandemi Covid-19 ini banyak tantangan yang dihadapi perbankan syariah,” ungkap Imam.

Kondisi dan tantangan saat ini antara lain haji dan umroh ditunda, BI mengoreksi asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5 – 5,4 persen menjadi 4,2 – 4,6 persen. Perkembangan fintech P2P Lending 2019 meningkat hingga 186,67 persen yoy dengan nilai Rp74,54 triliun. Fintech payment e-wallet tumbuh dengan transaksi Rp20,7 triliun.

Untuk itu, jelas Imam, BNI Syariah membuat enam strategi menghadapi pandemi Covid-19 ini yakni menjaga likuiditasi “Cash is the King”, menjaga kepercayaan masyarakat “Ultimate Service”, percepatan proses digitalisasi “Application”, menjaga kualitas pembiayaan “Quality Growth”, adaptasi terhadap perubahan pola transaksi “Cashless” dan kolaborasi “Sustanability Inovation”.

Imam menyebut di era sekarang ini, kita harus mampu berinovasi seperti kemampuan untuk tanggap dan menemukan peluang pada produk dan pelanggan dalam perubahan yang terjadi.

Harus ada keberanian mencoba hal baru, mencari timing dan peluang yang ada. “Harus bisalah melihat kondisi pasar secara keseluruhan,” ungkap Imam.

Ia menambahkan BNI Syariah juga mengeluarkan berbagai produk digital seperti buka rekening dengan e-Form Hasanah, transaksi dengan Hasanah Card, melalui BNI Mobile Banking dapat melakukan transaksi Hasanah #DiRumahAja transfer online hingga Rp400 juta.

“Masyarakat yang mau berqurban bisa melalui BNI Syariah,” katanya.(SB/Wie)