Pilkada di Masa COVID-19 Ujian Berat bagi Petahana

sentralberita|Jakarta~Anggapan bahwa Pilkada Serentak 9 Desember akan menguntungkan pasangan petahana adalah keliru dan tidak didasarkan pada dinamika persoalan masyarakat di masa pandemi COVID-19.

Pasangan petahana di daerah justru menghadapi ujian kepemimpinan yang lebih berat dalam Pilkada 2020 karena masyarakat secara nyata dapat menilai kemampuan mereka dalam menangani krisis yang terjadi saat ini.

Hal ini dikatakan oleh Staf Khusus Menteri Dalam Negeri, Kastorius Sinaga, hari ini (30/05/2020) dalam dua kesempatan sebagai pembicara pada webinar yang berbeda, yakni webinar bertema Dialog Pelaksanaan Pilkada

Serentak di Tengah COVID-19 yang diselenggarakan oleh Kemendagri dan PBHI Jakarta dan webinar bertema Haruskah Pilkada Serentak Dilaksanakan 9 Desember 2020 yang diselenggarakan Perkumpulan Gerakan Kebangsaan Provinsi Sumatera Selatan.

“Pilkada Serentak 2020 merupakan ujian kepemipinan bagi para kontestan, terutama untuk petahana, untuk dapat membuktikan mereka mampu memimpin dalam situasi tidak normal,” kata Kastorius, yang pada tahun 1999 menjadi salah satu dari Tim 11, yang mempersiapkan Pemilu demokratis pertama kali setelah jatuhnya rezim Orde Baru.

Kastorius mengatakan justru pada Pilkada kali ini pemilih akan sangat kritis menilai kepemimpinan para petahana dalam mengatasi krisis yang terjadi karena COVID-19 di daerahnya.

“Pilkada ini kita harapkan menghasilkan kualitas pemimpin yang genuine, bukan karbitan, bukan hanya bisa memimpin di masa enak tetapi di masa sulit. Sehingga watak yang sejati muncul. Apakah dia memimpin untuk orang banyak atau hanya untuk dirinya sendiri,” kata Kastorius.

Kastorius mengutip pemikiran Futurolog AS berdarah Jepang, Francis Fukuyama, tentang ciri-ciri negara yang berhasil mengatasi Pandemi COVID-19.

Menurut Kastorius, Fukuyama mngatakan ada tiga unsur penting, yaitu pertama, kemampuan negara menyediakan sistem dan faslilitas kesehatan.

Kedua, adanya social trust atau kepercayaan sosial yang menyebabkan masyarakat percaya dan menaati arahan pemerintahnya. Ketiga, faktor kepemimpinan (leadership) yang menggerakkan upaya menanggulangi pandemi COVID-19.

“Faktor leadership ini lah nantinya yang akan dinilai oleh pemilih dalam Pilkada, Pemilih akan melihat bagaimana kepemimpinan petahana dalam menghadapi COVID- 19.

Apakah akan memiliki terobosan inovatif, atau hanya mengambil keuntungan dari keadaan,” kata Kastorius.

“Apa program kandidat tersebut terhadap pemulihan ekonomi di daerahnya. Karena bila terjadi pemulihan di daerah, akan berkontribusi bagi pemulihan ekonomi nasional,” kata Kastorius. (SB/01)