Diduga, Kampus UNPRI Pecat Mahasiswa Tanpa Alasan, Kuasa Hukum Minta Rektor Ditetapkan Sebagai Tersangka

Kuasa Hukum Dahsat Tarigan

sentralberitaMedan~Medan Kuasa hukum pemohon praperadilan Dahsat Tarigan berharap Rektor UNPRI ditetapkan sebagai tersangka.

Hal itu tercetus ketika kliennya Muhammad Ghozi Doohan Manurung mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) di Yayasan Universitas Prima Medan (UNPRI) diberhentikan tanpa alasan yang sah.

Dalam persidangan hari ini, tim pemohon praperadilan diwakili kuasa hukum menyerahkan bukti-bukti kepada hakim tunggal Ahmad Sumardi. Setelah penyerahan bukti, hakim menunda persidangan sampai esok hari dengan agenda keterangan saksi.

Usai persidangan, Kuasa hukum Dahsat menuturkan kasus ini bermula sejak tahun 2018, Muhammad Ghozi dipanggil untuk menghadap ke ruangan administrasi kampus UNPRI untuk diminta keterangan terkait adanya dugaan pemalsuan user account dalam komunikasi melalui aplikasi sosial media Whatsaap (WA) antara sesama dosen UNPRI.

Dalam komunikasi melalui WA tersebut, user Account tersebut seakan milik dosen FGK UNPRI Wilvia dan meminta kepada Juwita Isabella Siregar yang bertugas menampung soal-soal yang dikirim oleh para dosen UNPRI. Karena yakin bahwa permintaan itu dari dosen Wilvia, kemudian Jumita mengirim soal serta jawabannya.

“Namun, saat memeriksa Ghozi Doohan, oknum dosen Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UNPRI memaksa agar klien kami mengakui bahwa itu adalah sebagai perbuatannya. Tapi, klien kami tetap pada pendiriannya dan menolak tuduhan terhadap dirinya,” bebernya.

Akan tetapi, lanjutnya, dengan cara semena-mena tanpa dasar hukum dan alasan yang disertai alat bukti permulaan tidak cukup, oknum dosen tersebut berasumsi dan mengambil kesimpulan dan langsung menuding bahwa Ghozi sebagai pelakunya dan dijatuhi sangksi cuti perkuliahan.

Karena keberatan atas tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oknum dosen, Ghozi meminta klarifikasi atas tuduhannya. Setelah pertemuan, Ghozi dinyatakan tidak bersalah seperti yang dituduh sebelumnya.

“Pada saat itu, Dr Florenly dengan tegas berjanji segera memulihkan dan merehabilitas nama baik Ghozi. Namun, sampai saat ini tidak ada niat baik dari pihak kampus untuk menepati janjinya, bahkan klien kami tidak dapat mengurus KRS karena accunt telah diblokir pihak kampus dan tiba-tiba mengeluarkan pernyataan yang menyatakan bahwa status Muhammad Ghozi ditingkatkan dari cuti menjadi non-aktif, lebih berat dari pernyataan sebelumnya.

Tidak hanya itu, Dahsat juga mengatakan, uang kuliah semester 3 sebesar Rp35 juta dan diterima pihak kampus dengan bukti pembayaran yang dikirim melalui email Ghozi. Sedangkan untuk bukti pembayaran biaya pembangunan dan uang kuliah semester II, dengan total Rp265 Juta tidak ada sama sekali diberikan kwintasi tanda terima.

“Sekarang bagaimana cobak, anak itu udah berhenti, dia fakultas kedokteran gigi, hancur gak itu (masa depannya), dia udah berhenti, mau jadi apa cobak. Kita berharap, proses ini harus tetap dilanjutkan, kalau perlu tetapkan tersangka rektornya,” tutupnya.(SB/ FS)