Dampak Covid-19, 397,41 Nasabah Perbankan Sumut Minta Restrukturisasi

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Sumatera Utara Wiwiek Sisto Widayat.

sentralberita|Medan~Sebanyak 397,41 ribu nasabah perbankan Sumatera Utara terdampak wabah Covid-19 dengan nilai kredit mencapai Rp27 triliun.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Sumatera Utara Wiwiek Sisto Widayat mengatakan hal itu kepada wartawan di Medan Selasa (9/6/2020).

Ia menyebut baru 297,48 ribu nasabah yang mengajukan restrukturisasi dengan nilai kredit Rp15,64 triliun.

Dari jumlah itu, sebanyak 250,69 ribu nasabah yang restrukturisasinya disetujui dengan nilai kredit Rp10,66 triliun, paling besar Medan yakni mencapai Rp5,34 triliun. Sedangkan total kredit yang disalurkan posisi April 2020 sebanyak Rp227,2 triliun.

“Paling banyak nasabah bank umum, sebagian besar UMKM,” ungkap Wiwiek.

Menurutnya, restrukturisasi kredit paling tinggi di sektor makanan dan minuman, dengan pangsa 40 persen.

Ia menjelaskan penyaluran kredit UMKM mencapai Rp57 triliun atau sekitar 25 persen dari total kredit keseluruhan. Kredit UMKM tersebut tumbuh negatif 0,4 persen (yoy) seiring dengan kontraksi penyaluran kredit UMKM di sektor Pedagang Besar Eceran (PBE) dan Konstruksi.
Sementara kredit di sektor lainnya seperti pertanian, industri pengolahan dan sektor akmamin masih tumbuh melambat.

Dari sisi risiko, sektor Akmamin terlihat memiliki kenaikan NPL yang signifikan dibandingkan periode sebelumnya diikuti kenaikan sektor konstruksi yang telah melebih threshold 5 persen.

Sebagai pusat ekonomi Sumut, mayoritas restrukturisasi kredit UMKM di Sumut berasal dari Medan (pangsa 48,8 persen terhadap total restrukturisasi kredit UMKM Sumut).

Beberapa kabupaten di wilayah Dataran Tinggi (Tapanuli Utara, Toba Samosir, dan Karo) serta Nias juga perlu diwaspadai mengingat pangsa restru kredit UMKM-nya cukup besar (20 persen-35 persen) dan pertumbuhan kredit restrukturisasi UMKM-nya sangat tinggi (di atas 300 persen, mtm), kendati pangsanya terhadap Sumut relatif kecil (di bawah 5 persen).

Wiwiek menambahkan pelaku UMKM di Lapangan Usaha (LU) Akmamin paling terdampak Covid-19, terbukti dari hampir setengah (40,4 persen) dari total kredit UMKM-nya direstrukturisasi. Sementara LU Jasa
Perorangan juga perlu diwaspadai mengingat pertumbuhan kredit restrukturisasi UMKM-nya sangat tinggi (685,16 persen, mtm).

Di sisi lain, Perdagangan sebagai LU dgn pangsa kredit UMKM terbesar juga perlu diperhatikan, mengingat pertumbuhan restrukturisasi kredit UMKM-nya berada di atas agregat (220,67 persen, mtm).

Untuk restrukturisasi sendiri, Wiwiek menyebut kebijakan bank beragam, ada bunganya disubsidi atau masa cicil kreditnya diperpanjang. Artinya pada masa pandemi ini, nasabah tidak usah mencicil dalam beberapa bulan dan setelah kembali normal baru kembali mencicil seperti biasa.

“Banyak bentuk restrukturisasi. Ada perpanjangan masa kredit, bunganya turun dan sebagainya yang intinya meringankan beban nasabah di masa pandemi Covid-19 ini,” jelasnya.(SB/Wie)