Sisi Lain Akhyar Nasution, Hobi Tebang Sawit, Tanam Jengkol, Durian, Melinjo dan Manggis

sentralberita |Medan~Usai menumpangi uji coba jalur Buy The Service Bus Rapid Transit (BRT), Plt Walikota Medan Ir H AKhyar Nasution MSi sempat mengajak makan para undangan dan penumpang di Restoran Sederhana di Jalan Tritura, Medan, Rabu (26/2/2020).

Usai makan, Akhyar terlebih dahulu berpamitan untuk pergi. Usai bersalaman, Akhyar masuk ke mobil. Setelah mobil berjalan sekitar 500 meter, Akhyar langsung bilang ke ajudan menuju ke ladangnya.

Dari Jalan Tritura mobil melaju sekira pukul 12.10 WIB tanpa pengawalan, terus menuju ke Desa Tanah Gara Hulu, Kecamatan STM Hulu, Deli Serdang. Jalan yang berliku, tanjakan yang meninggi dan pinggiran jurang tak menjadi penghalang.

Akhirnya, sekitar pukul 13.40 WIB sampailah di warung kerabat Akhyar. Warung tersebut merupakan tempat masuk ke ladangnya yang dibeli pada tahun 2002 lalu. Akhyar pun langsung turun dari mobil dengan mengangkat tangan kanan sembari menyapa. “Kulonuwon, sehat mbak yu,” sapanya.

“Wah wes suwi yo gak teko nang ladang,” jawab istri pemilik warung.

“Iyo mbak yu, wes 6 bulan. Ikilah atek delok-delok ladang, sambil guris-guris. Nyileh kamar mandi yo, atek ganti baju yo,” ucap Akhyar.

“Iyo wes, pakek aja nang kono iku. Alah nyileh-nyileh, segolo. Wes melebu aye,” jawab istri pemilik warung lagi.

Akhyar pun senyum-senyum saja sambil jalan ke kamar mandi. Selesai ganti baju, Akhyar dengan memakai kaos coklat tangan panjang dan celana pendek di bawah lutut, serta memakai sepatu boot, topi dan menyandang tas ransel kecil lalu berjalan.

Namun, karena cukup jauh jaraknya untuk menuju ke ladang sehingga Akhyar meminjam sepeda motor trail milik pemilik warung. “Mbak yu, iso nyilih kereto trail iki,” katanya.

“Ya wes, anggo aye, iki kunci ne. Bentar, tak isii bensine,” sebut pemilik warung sambil mengisikan minyak satu botol bekas minuman air mineral.

Mesin sepeda motor trail tersebut langsung dihidupkan oleh Akhyar dan menuju ladang. Dalam perjalanan, Akhyar sebentar-sebentar menyapa sejumlah warga. “Yo Pak Lek, atek ke ladang,” celoteh Akhyar dari atas sepeda motor.

Sebagian warga ada juga yang mengejar untuk meminta Akhyar singgah. Namun, karena sudah cukup lama tak ke ladang sehingga Akhyar mengucapkan berterima kasih atas tawaran warga dan melanjutkan perjalanan.

Sekitar 15 menit melaju, Akhyar pun tiba di ladang. Sebelum masuk ke ladang, alat berat sedang meratakan jalan sekitar 200 meter lagi selesai.

Akhyar lalu berdialog dengan mandor alat berat. Sekira 15 menit, Akhyar pun langsung bergegas ke ladang. Sesampainya di ladang seluas 35 hekter, ia langsung senang karena tanaman melinjo, manggis, durian, jengkol, dan pisang tampak sudah mulai membesar.

“Pohon-pohon ini akan nikmat nanti di atas lima tahun lagi, kalau sawit ya gitulah. Makanya, banyak saya tumbangi pohon sawit,” ujar Akhyar sambil menunjukkan pohon durian.

Ladang yang dimiliki Akhyar tak rata, melainkan menanjak-nanjak. Dari satu titik ke titik lainnya harus pakai sepeda motor juga berjalannya. Misalnya, dari tanaman karet menuju ke tempat durian, masih bisa ditempuh jalan kaki. Tapi, saat dari durian ke daerah kebun melinjo dan manggis harus naik sepeda motor dan jalan kaki menanjak-nanjak.

“Saya senang kalau di sini. Sewaktu saya belum Plt, masih sering kemari sama anak-anak istri, bahkan menginap di ladang ini,” tuturnya sembari melayangkan parangnya ke rerumputan yang menjalar pohon melinjo.

Dia menyebutkan, alasannya memilih memperbanyak tanam durian, ini dikarenakan ada banyak kebutuhan durian yang belum dipenuhi dari Sumatera Utara. Bahkan, ada seorang eksportir durian di Medan, belum mampu memenuhi permintaan durian di China. Karenanya, inilah peluang yang mungkin bisa jadi jangka Panjang.

“Kalau di sekitar sini banyak kali pohon sawit. Rata-rata ladangnya ditanami sawit, saya pun sempat diketawai saat menumbangi pohon sawit dan menanam manggis dan durian. Tapi saya diam aja, senyum-senyum,” ceritanya.

Akhyar mengakui, di Kota Medan sebagai ibukota Sumatera Utara saja kebutuhan duriannya sudah sangat besar. Terlebih, para pedagangnya mencari durian sampai ke Bengkulu. Jika terus terjadi, maka durian memang sudah menjadi kebutuhan. “Inilah yang membuat niat saya semakin mantap menanam durian. Ya alhamdulillah sekarang pohon duriannya semakin tumbuh dan membesar. Insya Allah tiga sampai lima tahun lagi mendapatkan hasilnya,” sebutnya.

Setelah berkeliling dari satu pohon ke pohon lainnya, Akhyar pun tampak sudah mulai lelah. “Pohon jengkol ini liar dan saya biarkan tumbuh. Enak juga rasanya ini, kalau dibakar di sini tapi buahnya sudah habis pula,” ungkapnya sambal tertawa.

Sekitar tiga jam di ladang, Akhyar kembali ke warung. Sesampainya di warung, Akhyar langsung bilang perut terasa lapar. “Ngeleh iki mbak yu, iso jumuk sendiri iki,” kata AKhyar.

“Yo Wes, se karep pe aye jumuk e yar,” jawab pemilik warung.

Akhyar kemudian makan dengan lauk ikan dencis sambal sembari mengajak sejumlah warga yang duduk di warung. Akhirnya, semua pun ikut makan, ada yang makan nasi goreng, nasi ikan dan lainnya.

Setelah selesai makan, adzan maghrib berkumandang dan melaksanakan shalat. Selesai shalat maghrib, Akhyar berpamitan pulang ke rumahnya di Medan.

“Inilah enaknya pulang dari ladang, badan capek, pikiran tambah segar. Ini langsung tidur enak kali,” ucapnya sambal jalan masuk ke dalam rumah. (SB/01/Ris)

Comments