Jepang Bantu Pembangunan di Sumut 4,096 Juta Dolar AS

Konsul Jepang di Medan Masamu Yamamori berbicara kepada wartawan di sela press tour Konjen Jepang di Langkat dan Binjai Rabu (20/11).

sentralberita|Langkat~ Rakyat Jepang melalui Konsulat Jenderal (Konjen) Jepang di Medan dalam 19 tahun terakhir ini sejak tahun 2000 sampai 2019 memberikan bantuan hibah grassroots ke Sumatera Utara lebih 4,096 juta dolar AS atau setara dengan 420,735 juta yen lebih kepada 57 proyek untuk mendukung pembangunan di Sumatera Utara.

Wakil Konsul Jepang di Medan, Masamu Yamamori mengatakan hal itu di sela kunjungannya ke dua proyek penerima bantuan hibah Jepang yakni Yayasan Ekosistem Lestari di Bahorok, Langkat, Rabu (20/11). Selain ke sana, dia juga mengunjungi Yayasan Al Fityah Binjai.

Yamamori menjelaskan kedua proyek bantuan hibah Jepang tersebut sampai sekarang terpelihara dengan baik bahkan memberikan peningkatan kinerja setelah mendapat bantuan hibah.

Menurutnya, setelah diberikan bantuan hibah berupa pembangunan gedung dan fasilitas lainnya, Konsulat Jepang terus memantaunya ke lapangan. “Tapi sampai sekarang tidak ada yang berubah fungsi, bahkan terjadi peningkatan kinerja,” katanya.

Dia menjelaskan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) yang berada di Bahorok, Langkat menerima bantuan hibah sebesar Rp829,965 juta yang diresmikan pada 31 Maret 2016.
YEL mempunyai visi dan misi lingkungan untuk membantu pertanian petani di sekitarnya. Mereka juga punya manajemen yang bagus dan dengan dana seadanya bisa melakukan aktivitas di sini.

Bantuan hibah diberikan dengan melihat latar belakang bahaya praktek pertanian kimiawi, pengolahan limbah pertanian untuk sumber bahan bakar dan perlunya media praktek pertanian organik. Setelah mendapatkan bantuan, hasilnya di sana terjadi praktek pertanian organik, pengolahan biogas serta komposisi, fasilitas training dan riset pelajar/riset mahasiswa dan tempat pengolahan hasil pertanian organik.

Sedangkan di Yayasan Al Fityah Binjai, bantuan hibah diberikan sebanyak Rp968,645 juta yang proyeknya diresmikan pada 20 Juni 2014 atau sudah berjalan lebih 5 tahun. Jepang memberikan bantuan karena Yayasan ini kekurangan lokal belajar dan setiap tahun banyak calon siswa yang ditolak. Tahun 2011 ada 30 calon siswa ditolak. “Ini yang melatarbelakangi kami memberikan bantuan untuk menambah pembangunan lokal baru agar banyak calon siswa yang diterima belajar di sini,” ungkap Yamamori.

Bantuan hibah itu untuk membangun gedung sekolah dua lantai terdiri dari 8 ruangan kelas dan 6 ruangan toilet. Total luas bangunan adalah 648 m2 dapat menampung hingga 256 siswa.

Ia menyebutkan bantuan dari pemerintah Jepang disebut Official Development Assistance (ODA) merupakan salah satu kontribusi pemerintah Jepang terhadap negara-negara berkembang sebagai upaya mewujudkan pembangunan ekonomi dan sosial di negara tersebut. Bantuan ini dialirkan dalam berbagai bentuk seperti bantuan aliran dana, teknologi dan bantuan darurat korban bencana alam.

Bantuan ODA terdiri dari tiga hal yakni pertama pinjaman yen seperti proyek MRT di Jakarta dan uangnya harus dikembalikan. Kedua, kerjasama teknik biasanya dalam bentuk pengiriman tenaga ahli dan ketiga bantuan dana hibah termasuk bantuan hibah Grassroots yang dananya tidak dikembalikan tapi berupa hibah.

Bantuan dana hibah grassroots merupakan salah satu skema bantuan hibah dari pemerintah Jepang yang mulai dari tahun 1989 atau sudah 30 tahun yang sudah dilaksanakan di lebih 140 negara seperti China dan Malaysia, namun di Sumatera mulai sejak tahun 2000.

Bantuan ini ditujukan untuk Organisasi Nine Profit dan Non Government Organization yang sudah terdaftar secara resmi di institusi pemerintah sesuai dengan bidang masing-masing. Organisasi yang bisa mendaftar minimal sudah berdiri selama dian tahun dan memiliki kapasitas untuk mengelola proyek.
“Dana hibah itu berasal dari pajak masyarakat Jepang,” ungkapnya.

Masamu Yamamori menambahkan Konsulat Jenderal Jepang di Medan wilayah kerjanya di enam provinsi yakni Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri dan Jambi total bantuan grassroots yang diberikan sejak tahun 2000 hingga Maret 2019 mencapai 5,269 juta dolar AS atau setara dengan 537,970 juta yen kepada 72 proyek. Paling banyak Sumut mencapai 57 proyek senilai 4,096 juta. Disusul Aceh 662.597 dolar AS (setara 64,007 juta yen) kepada 9 proyek, Sumbar 348.575 dolar AS (setara 36,952 juta yen) kepada 4 proyek dan Riau 2 proyek senilai 161.564 dolar AS setara dengan 16,274 juta yen. Sedangkan dua provinsi lainnya yakni Kepri dan Jambi sampai sekarang belum ada dana hibah grassroots yang digelontorkan.

Menurutnya, belum ada realisasi bantuan hibah ke sana karena syarat-syarat yang diajukan pemohon kurang serta kurangnya informasi. “Kami tetap terbuka bagi siapa saja lembaga yang fokus pada pendidikan, kesehatan, lingkungan dan sosial untuk mendapatkan dana hibah grassroots sepanjang syarat-syaratnya dipenuhi dan harus membuat proposal,” kata Yamamori.

Selama ini jenis proyek bantuan grassroots yang diberikan untuk pendidikan 37 proyek, kesehatan 9, lingkungan 12 dan sosial 14.(SB/wie)