Nilai Tukar Petani Sumut Naik 0,53 Persen

sentralberita|Medan~Pada September 2019, Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sumatera Utara tercatat sebesar 97,34 atau naik 0,53 persen dibandingkan dengan NTP Agustus 2019 yaitu sebesar 96,83.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara Syech Suhaimi kepada wartawan Selasa (15/10) mengatakan kenaikan NTP September 2019 disebabkan oleh naiknya NTP subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,71 persen, NTP subsektor Hortikultura sebesar 0,34 persen, NTP subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,72 persen, dan NTP Subsektor Peternakan sebesar 0,25 persen.

“Sedangkan NTP Subsektor Perikanan turun sebesar 0,55 persen,” katanya.

Ia mengatakan selain NTP juga ada Perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) yang mencerminkan angka inflasi/deflasi perdesaan. Pada September 2019, terjadi deflasi perdesaan di Sumatera Utara sebesar 1,04 persen. Hal ini disebabkan oleh turunnya tiga indeks konsumsi rumah tangga, yaitu indeks kelompok bahan makanan sebesar 2,36 persen, indeks kelompok sandang sebesar 0,07 persen, dan indeks kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga sebesar 0,02 persen.

Sedangkan indeks kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik sebesar 0,13 persen, indeks kelompok perumahan naik sebesar 0,10 persen, indeks kelompok
kesehatan naik sebesar 0,02 persen, dan indeks kelompok transportasi dan komunikasi naik sebesar 0,03 persen.

Untuk Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi Sumatera Utara September 2019 sebesar 106,65 atau turun sebesar 0,36 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.

Gabah
Suhaimi menambahkan selama September 2019 dilakukan di 13 kabupaten terhadap 91 observasi. Berdasarkan komposisinya, jumlah observasi harga gabah masih didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 70 observasi (76,92 persen) diikuti Gabah Kualitas Rendah sebanyak 12 observasi (13,19 persen) dan urutan ketiga adalah Gabah Kering Giling (GKG) sebanyak 9 observasi (9,89 persen).

Di tingkat petani pada September 2019, harga tertinggi senilai Rp5.450 per kg berasal dari gabah kualitas GKG varietas Cikarang di Kabupaten Simalungun. Sedangkan harga terendah senilai Rp4.000 per kg berasal dari gabah kualitas GKP varietas Bondowoso di Kabupaten Simalungun.

Di tingkat penggilingan pada September 2019, harga tertinggi senilai Rp5.450 per kg berasal dari gabah kualitas GKG varietas Ciherang di Kabupaten Simalungun. Sedangkan harga terendah senilai Rp4.050 per kg berasal dari gabah kualitas GKP varietas Bondowoso di Kabupaten Simalungun.

Suhaimi menyebut survei harga produsen gabah selama September 2019 dilakukan di 13 kabupaten terhadap 91 observasi. Berdasarkan komposisinya, jumlah observasi harga gabah masih didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 70 observasi (76,92 persen) diikuti gabah kualitas rendah sebanyak 12 observasi (13,19 persen) dan urutan ketiga adalah gabah kering giling (GKG) sebanyak 9 observasi (9,89 persen).(SB/wie)