Lintasan Sejarah Kenagarian Ranah Nata (Sambungan-2)

Oleh: Heri Sandra, S. SOS-sentralberita~

3. Tuanku Besar yang berdaulat di Nata dan Linggo Bayu.

Melihat kembali kepada perjalanan Kerajaan Linggo Bayu yang dipimpin oleh Tuanku Besar Rajo Putih dan Kerajaan Nata dibawah duli Tuanku Besar Datuk Imam Basa terbukti bahwa tali persaudaraan antara keduanya berlanjut terus hingga akhir hayat. Tuanku Besar Datuk Imam Basa mangkat di Nata. Tidak lama berselang menyusul pula Tuanku Besar Indera Sutan yang dimakamkan di Tapus.

 Pasca wafatnya Rajo Putih, Kepala Pemerintahan di Lingga Bayu digantikan oleh kemenakannya yang bernama Tuanku Besar Datuk Bandaro sebagai raja ke II. Datuk Bandaro mangkat, terjadilah sebuah peristiwa teragis dimana tahta kerajaan Linga Bayu diambil alih dua orang yang tidak diketahui asal usulnya dalam artian tidak berhak untuk mewarisi tahta kerajaan sebagaimana mestinya.

Keduanya sempat memerintah berturut turut meskipun masyarakat Lingga Bayu tidak mengakui keberadaan kedua orang tersebut (illegal). Berakhirnya masa kedua orang ini maka kerajaan Linggo Bayu kembali dipimpin oleh waris yang syah yaitu Tuanku Besar Marajo Gunung yang dinobatkan sebagai raja ke III dan Tuanku Besar Rajo Mudo sebagai raja ke IV.

Ketika Tuanku Besar Rajo Mudo mangkat, tahta kerajaan Lingga Bayu menjadi kosong. Menyikapi situasi kerajaan yang rumit ini maka Puteri Baroe Atjikemenakan Tuaku Besar Datuk Bandaro yang menikah dengan Tuanku Besar Datuk Basa Nan Tuo ( Raja Kerajaan Nagari Nata ke dua ) dipanggil pulang ke Lingga Bayu untuk menduduki tahta kerajaan dan menjadi raja ke V.

Raja selanjunya yang memerintah di Lingga Bayu adalah Tuanku Besar Rajo Boejang sebagai raja ke VI. Beliau mempunyai dua orang saudara perempuan yang bernama Puti Nawi dan Puti Kambut. Puti Kambut melahirkan dua orang putra yang bernama Sutan Larangan dan Sutan Mara Himpun.

Setelah Tuanku Besar Rajo Bujang wafat, tahta kerajaan diduduki oleh Sutan Larangan sebagai Raja ke VII dan dilanjutkan Sutan Mara Himpun sebagai raja ke VIII yang terkenal dengan nama kebesarannya Tuanku Sambah Alam Sutan Mara HimpunbergelarSutan Johan.    

Tuanku Besar Datuk Imam Basa adalah raja I (pertama) di Nagari Nata. Beliau mempunyai empat orang saudara perempuan yakni Puti Siti Ratiah, Puti Raani,Puti Gumila dan Puti Handum. Puti Ratiah mempunyai dua orang putera yaitu Datuk Basa Nan Tuo dan Datuk Basa Nan Mudo. Datuk Basa Nan Tuo diangkat menggantikan mamaknya Tuanku Besar Datuk Imam Basa sebagai raja Nagari Nata ke II.

Beliau menikah denga Puti Baroe Atji kemenakan dari Tuanku Besar Datuk Bandaro raja ke II Lingga Bayu. Pada masa pemerintahan Tuanku Besar Datuk Basa Nan tuo inilah istana dan pusat pemerintahan Kerajaan Nata dipindahkan dari Malako ke Kampung Bukit di dekat Tapian Batu.[Sumber :Puti Balkis Alisyahbana Natal Ranah Nan Data].  Selanjutnya Raja Nagari Nata yang ke III adalah Tuanku Besar Datuk Basa Nan Mudo.

Puti Gumila mempunyai seorang putera yaitu Sutan Tamamusi. Beliau menggantikan saudara sepupunya Tuanku Besar Datuk Basa Nan Mudo menjadi Raja Nagari Nata yang ke IV dengan gelar Tuanku Besar Nan Kusuik.

Puti Tuo atau Puti Raso menikah dengan orang Padang, mempunyai tiga orang anak yakni Puti Tune, Puti Rumbuk dan Sutan Sailan. Setelah masa pemerintahan Tuanku Nan Kusuik berakhir maka Raja Kerajaan Nagari Nata selanjutnya diteruskan oleh Tuanku besar Sutan Sailan sebagai raja ke V.

Puti rumbuk tidak mempunyai anak namun beliau mengadopsi seorang anak secara adat, yang bernama si Lengah yang menikah dengan orang Goegoeng Terapoeng dan mempunyai anak kelak terkenal dengan nama Soetan Salim.[Sumber : Soetan Noer Alamsyah red.]

Puti Tune mempunyai seorang putri yaitu Puti Nan Kalam. Puti Nan Kalam mempunyai dua orang putera yakni Sutan Iskandar gelar Sutan Gembok dan Sutan Intan. Setelah wafatnya Tuanku Besar Sutan Sailan pemerintahan diteruskan oleh Tuanku Besar Sutan Iskandar gelar Sutan Gembok sebagai Raja Nagari Nata yang ke VI.

Namun Sutan Iskandar tidak berminat menjabat sebagai raja untuk waktu yang terlalu lama karena beliau ingin menekuni ajaran agama islam. Pemerintahannya cuma berlangsung selama enam bulan saja maka seterusnya tahta kerajaan diserahkan kepada adik kandungnya Sutan Intan dengan nama kebesaran“Tuanku Besar Sutan Si Intan” selaku raja yang ke VII di Nagari Nata.

Pada masa inilah puncak keemasan Kerajaan Nagari Nata bahkan pada masa ini juga akan terjadi Putus Waris sebagai penerus Tuanku di Nata. Menyikapi akan hal ini Tuanku Besar Sutan Si Intan mengambil langkah preventif untuk menjaga agar penerus tahta kerajaan tetap berkesinambungan. Maka diputuskannya untuk nikah menjujur dengan seorang perempuan yaitu anak Mangaraja Uhum dari Pidoli Lombang Panyabungan yang bernama Nahi Mangatas kelak di Nagari Nata dikenal dengan nama Puti Junjung. 

Mangaraja Uhum mempunyai saudara kandung yaituMangaraja Tinanting yang merupakan ayah kandung dari Willem Iskandar (Tokoh Pendidikan Tanah Mandailing). Hubugan antara Puti Junjung dengan Willem Iskandar adalah bersaudara ayah.

Sebelum Tuanku Besar Sutan Si Intan nikah dengan Puti Junjung, beliau telah mempunyai seorang isteri yaitu Puti Siti, anak Tuanku Besar Sutan Larangan Raja Lingga Bayu ke VII. Dari perkawinannya dengan Puti Siti lahirlah tiga orang anak yaitu Zam Zam yang bergelar Sutan Kabidun,Sutan Anjung dan Puti Samsiah. Sedangkan dari perkawinannya dengan Puti Junjung memperoleh seorang putera yang bernama Sutan Muhammad Nata. 

Pada masa pemerintahannya ini Tuanku Besar Sutan Si Intan menugaskan anaknya Sutan Kabidun untuk memerintah di daerah Tabuyung, Singkuang hingga ke Batu Mundam.[Sumber : TaromboSoetan Noer Alamsyah red.]

Tuanku Besar Sutan Si Intan magkat tanggal 22 Mei 1823. Tahta Kerajaan dilanjutkan oleh anaknya dari perkawinan dengan Puti Junjung sebagai penerus waris yang syah yaitu Tuanku Besar Sutan Muhammad Nata sebagai raja yang berdaulat.

Oleh karena Sutan Muhammad Nata masih kecil maka pemerintahan dikendalikan oleh ayah tirinya Sutan Salim, sebagai Wali Pemegang Kekuasaan dan diangkat sebagai Raja yang ke VIII. Setelah mangkatnya Tuanku Si Intan, Puti Junjung menikah dengan Sutan Salim dengan istilah menggantikan lapiek. 

Sutan Salim adalah cucu dari Puti Rumbuk sedangkan Tuanku Si Intan cucu Puti Tune. Puti Rumbuk dan Puti Tune adalah kakak beradik kandung. Keberadaan Sutan Salim di sisi Puti Junjung membuat kompeni gerah karena Sutan Salim tidak mau terpengaruh politik Belanda dalam menetapkan pajak perdagangan dengan orang asing.

Kompeni menganggap kebijakan ini dapat merugikan pihaknya maka dicarilah dalih dengan menuduh Sutan Salim melawan kepada kompeni. Sutan Salim dituduh membangun benteng pertahanan aur duri untuk melawan kompeni di tapian batu, dengan alasan ini beliau ditangkap dan dibuang ke Cianjur Jawa Barat di Pulau Jawa. Sampai akhir hayatnya Sutan Salim tidak pernah kembali lagi ke kampung halamannya di Kenagarian Ranah Nata.          

Setelah Tuanku Sutan Muhammad Nata menginjak usia dewasa maka tahta kerajaan diserahkan kepadanya sebagai raja yang ke IX. Masa pemerintahannya tidaklah berjalan dengan mulus karena sering bentrok dengan kompeni sebab penciutan wilayah pemerintahan, akhirnya Sutan Muhammad Nata bernasib sama dengan ayah tirinya, beliau dibuang ke Sibolga pada tahun 1855. Semenjak itu tamatlah riwayat Tuanku Besar di Kenagarian Ranah Nata yang bebas dari pengaruh intimidasi Belanda.

Raja Kerajaan Kenagarin Ranah Nata yang wilayah kekuasaannya sudah semakin menciut adalah Tuanku Sutan Raja Hidayat sebagai Raja yang ke X pada tahun 1855 – 1867.

Beliau adalah anak Puti Junjung dengan Sutan Salim. Masa pemerintahannya berlangsung selama dua belas tahun. Kemudian beliau diangkat oleh belanda sebagai jaksa ke Nagari Air bangis, Pulau Telo dan Padang karena dikhawatirkan kelak mengikuti jejak ayahnya Sutan Salim dan saudara tirinya Sutan Muhammad Nata.

Seterusnya Kepala Pemerintahan di Kenagarian Ranah Nata tidak lagi berdasarkan jalur keturunan menurut sepanjang adat. Namun tergantung kepada kepentingan politik yang dimainkan oleh Belanda. Bahkan ada yang bernuansa kepentingan pribadi dengan melakukan pendekatan pedekatan tertentu kepada pihak Belanda untuk mencapai pucuk pemerintahan di Nagari. (Penulis adalah penggiat soasial dan penah menjadi jurnalis).

Comments