Ketika Bahar Menikmati Pakpung Melayu

sentralberita|Medan~ Komunitas Kumpulan Pakpung Medan yang setiap bulan mentas di teater terbuka Taman Budaya Sumatra Utara ( TBSU ) telah melenggang memasuki tahun ke 2 . Mereka konsisten menjaga ciri khas Budaya Melayu di kota tercinta ini.

” ini seni budaya peninggalan leluhur orang Melayu yang harus dilestarikan. Salut kepada sejumlah seniman Medan yang tetap semangat menghidupkan pakpung atau ronggeng deli yang memiliki nuansa kekeluargaan saat melantunkan lagu dan pantun mengiringi tarian”, ujar Baharuddin Saputra, SH Ketua Dewan Kesenian Sumatera Utara ( DKSU ).

Menurutnya Pakpung sudah menjadi icon budaya tanah Deli, disamping etnis lainnya juga memiliki ciri khas dalam berkesenian.

Ditengah ramainya generasi milenial terkontaminasi dengan kemajuan teknologi global, bahkan disebut sebut kini sebagai ” generasi merunduk” karena dimana dan kapanpun, tua muda banyak yang merunduk memandang layar handponenya. Asyik sen diri memainkan fitur fitur telepon genggamnya.

Penomena ini harus dibatasi dan di giring bertahap agar tidak terlanjur jauh, seakan hidup asyik sendiri tanpa pedulii orang lain
disekitarnya.

” Demam merunduk asyik sendiri harus diimbangi dengan kegiatan lain yang dapat menumbuhkan rasa peduli dengan lingkungan. Sebab bila terus berlarut larut tidak baik bagi pertumbuhan generasi muda ” ujar Bahar.

Konsep mengedepannkan kegiatan berkesenian menjadi penting, karenanya harus ada campur tangan Pemerintah kota Medan, untuk melakukan terobosan seiring aspirasi warganya yang terus berkembang.

“Kota Medan membutuhkan sentuhan seni dari para seniman tangguh dan tokoh elite yang ada. Agar Medan menjadi lebih indah untuk metropolitan yang mendunia. Dibutuhkan sinergitas yang mantap seluruh komponen masyarakat”, imbuhnya.

Menarik membicarakan iklim berkesenian di Sumatera Utara. Bahar cenderung merangkul segenap seniman dari berbagai cabang seni untuk bangkit bersama, bergairah menanamkan nilai luhur para pendahulunya.

Semangat dan bergelora dalam berkesenian tidak boleh berhenti untuk terus ditingkatkan dengan cara berpikir indah.(SB/01)