BI Perkirakan Inflasi Tetap Rendah dan Stabil


Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo menyerahkan cenderamata kepada Gubsu Edy Rahmayadi aula BI Jalan Balai Kota Medan Jumat (19/7).

sentralberita|Medan~ Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo menuturkan bahwa secara nasional prospek inflasi diprakirakan tetap rendah dan stabil yang diprakirakan berada di bawah titik tengah kisaran sasaran inflasi 3,5 lebih kurang satu persen pada 2019.

Hal itu disampaikannya pada acara Diseminasi Perkembangan dan Outlook Perekonomian Terkini di Aula Kantor BI Sumut, Jumat (19/7). Hadir di sana Gubsu Edy Rahmayadi dan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (KPw BI Sumut) Wiwiek Sisto Widayat.

Dody menyebut berdasarkan rapat Dewan Gubernur BI pada 17 dan 18 Juli 2019 lalu, BI mengeluarkan kebijakan dengan menurunkan BI 7-day reverse repo rate menjadi 5,75 persen, suku bunga deposit facility menjadi 5,00 persen dan suku bunga lending facility menjadi 6,50 persen.

Kebijakan tersebut, kata Dody, ditempuh sejalan dengan tetap rendahnya prakiraan inflasi dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi ketidakpastian pasar keuangan global yang menurun.

Ekonomi Sumut
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (KPw BI Sumut), Wiwiek Sisto Widayat menyampaikan bahwa untuk keseluruhan tahun 2019, ekonomi Sumut diprakirakan dapat tumbuh lebih tinggi dari 2018 yakni di kisaran 5,0 hingga 5,4 persen.

Ia menyebutkan, optimisme tersebut utamanya akan datang dari peningkatan pertumbuhan konsumsi pemerintah serta perbaikan net ekspor yang cukup signifikan.

“Ekspor luar negeri tahun 2019 pun diprakirakan tumbuh sedikit lebih rendah dari tahun sebelumnya. Hal tersebut dipengaruhi permintaan eksternal yang menurun sebagai dampak dari kinerja ekonomi dunia yang juga melambat,” ujarnya.

Untuk harga CPO, sambungnya, diprakirakan masih di level yang kondusif seiring dengan adanya peningkatan penggunaan CPO untuk pasar dalam negeri terkait industri biodiesel di Indonesia (B20) dan Malaysia (B10). Sementara, harga karet berpotensi meningkat sejalan dengan kesepakatan Thailand, Indonesia dan Malaysia yang tergabung di dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC) untuk mengurangi ekspor karet sebesar 300.000 ton.

“Selanjutnya, kinerja konsumsi rumah tangga dan investasi diprakirakan tumbuh cukup tinggi pada 2019 meski sedikit lebih lambat dari 2018. Dari sisi lapangan usaha (LU), pertanian dan konstruksi akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi tahun 2019,” jelasnya.

Ia mengatakan, akselerasi lebih lanjut dari pertumbuhan ekonomi Sumut pada 2019 akan tertahan oleh capaian kinerja LU perdagangan dan industri pengolahan yang tidak sebaik tahun 2018. Sementara itu, permintaan eksternal yang diprakirakan melambat menjadi faktor utama penghambat ekspansi industri pengolahan di tahun ini.

“Meski demikian, perkembangan LU perdagangan dan industri pengolahan dinilai masih cukup baik sepanjang 2019. Ke depan, beberapa resiko terhadap perekonomian Sumut tetap perlu menjadi perhatian, terutama dari sisi eksternal,” tandasnya. B/wie)

Comments