Terdakwa Busungkan Dada Usai Divonis Ringan

 sentralberita|Medan~Pemandangan aneh saat hakim menghukum terdakwa terjadi di Pengadilan Negeri ( PN ) Medan. Christian (52) terdakwa pengerusakan lapak pedagang pasar pagi Polonia, membusungkan dadanya,sambil tersenyum usai divonis ringan hakim. Majelis hakim yang diketuai Gosen Butarbutar memutus bersalah terdakwa, dengan hukuman 8 bulan penjara.

Putusan tersebut, sesuai dengan tuntutan Jaksa Penunut Umum (JPU), yang sebelumnya menuntut terdakwa 8 bulan penjara ( Confirm).

“Memutuskan menghukum terdakwa Toni Christian dengan vonis 8 bulan penjara, dan memerintahkan terdakwa tetap ditahan,” ucap hakim Gosen di ruang Cakra 4 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (24/1).

Atas putusan tersebut, hakim memberikan waktu kepada terdakwa Toni untuk berfikir. “Siap pak hakim,” tegasnya sambil membusungkan badan didepan hakim.

Sementara, perwakilan pedagang pasar pagi Polonia yang turut menyaksikan jalannya sidang hingga usai tampak kecewa dengan putusan hakim tersebut. Mereka tampak keluar dari ruangan sidang, begitu hakim menjatuhkan vonis sesuai dengan tuntutan.

“Jelas ini tidak adil, nanti akan kami bicakarakan dengan DPD (SBSI 1992) langkah yang akan ditempuh,” ucap Jansen.

Terpisah, JPU Jakcy Siahaan menyebut, jika putusan terhadap terdakwa telah sesuai dengan rasa keadilan. “Ini sudah sesuai dengan rasa keadilan, bagi terdakwa dan bagi pedagang,” katanya.

Menurutnya lagi, jika pasal 170 KUHP yang di junto kan pasal 406 KUHP yang dipermasalahkan pedagang tersebut telah sesuai. “Kalau cuma pasal 170 KUHP pasti bebas dia (Toni) karna tidak terbukti, makanya kami sematkan pasal 406 KUHP biar bisa dia ditahan,” tandasnya.

Sebelumnya, berkaitan dengan kasus ini, puluhan pedagang pasar pagi melakukan unjukrasa ke PN Medan, atas terdakwa Toni Christian, yang dituntut 8 bulan penjara. Pedagang yang mengaku sebagai korban lapak dagangannya dirusak terdakwa, menuding hakim dan jaksa tidak berlaku adil.

“Terdakwa itu jelas-jelas telah melakukan pengerusakan sebanyak dua kali, di daerah pasar pagi Polonia, terhadap lapak-lapak pedagang,” ungkap Jansen, Rabu (23/1) kemarin.

Dia menjelaskan, bila pengerusakan itu dilakukan terdakwa, yang mengaku sebagai pemilik lahan. “Sementara sipemilik tanah mengaku, dia membeli tanah itu dari seseorang. Orang tersebut sudah melaporkan dia (Toni), bahwa tanah itu tidak dijual kepada dia (Toni). Indikasinya ini surat palsu,” terang Jansen.

Sementara dalam dakwaan JPU disebutkan, pada tanggal 15 Agustus 2018, saksi korban Syahputra El Taqwa mendapat kabar bahwa lapak dagangannya di pasar pagi Polonia, Jalan Pekong I Kelurahan Polonia Kecamatan Medan Polonia, dirusak oleh Toni Christian bersama orang suruhannya Juli Sitanggang, Saragih dan Simanjuntak (DPO).

Korban yang mengetahui barang-barang dagangannya dirusak oleh orang-orang suruhan terdakwa, lalu mempertanyakan perihal pengerusakan itu. Namun, terdakwa tak menghiraukan korban dan tetap meminta orang suruhan menghancurkan dagangannya.

Akibatnya, tak hanya lapak dagangan korban saja yang hancur, namun tujuh kios milik saksi korban lainnya juga turut dihancurkan.

Sementara, atas perbuatannya, JPU menetapkan terdakwa melanggar pasal 170 ayat (1) KUHPidana dan pasal 406 ayat (1) Jo Pasal 55 ayat (1) KUHPidana.( SB/FS ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.