Mahasiswa USU Didakwa Melakukan Penistaan Agama di Medsos Diadili di PN Medan

sentralberita|Medan~Agung Kurnia Ritonga (22) mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) ini menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (15/1). Dia didakwa Jaksa Penuntut Umum (JPU), lantaran melakukan penistaan agama melalui media sosial (medsos) akun instragram miliknya.

Dalam dakwaan yang dibacakan JPU Rahmi Shafrina, menyebutkan pada tanggal 24 Oktober 2018, disebuah kedai kopi di Jalan Laksana Medan, terdakwa memosting melalui akun instagram miliknya tentang pembakaran Tauhid.

“Kemudian terdakwa membuat kalimat di instastory instagramnya dengan isi kalimatnya berupa ‘Kenapa rupanya kalo bendera tauhid dibakar? Tuhan kalian ikut terbakar rupanya? Makanya, jangan banyak kali ikut pengajian yang ngajarkan budaya, jadi tolol bangsad. Tuhan kalian aja anteng diatas lagi gitaran sambil mabuk amer dan nulis puisi bokep, klen pulak yang sibuk’,” ucap JPU Rahmi dihadapan Majelis hakim yang diketuai Feri Sormin di ruang sidang Cakra 3.

Lebih lanjut kata JPU, terdakwa nekat melakukan perbuatan itu, lantaran protes terhadap orang-orang yang marah dengan bendera Tauhid dibakar. Sebab dengan marah-marahnya mereka tersebut, menurut terdakwa tidak menyimbolkan ajaran Islam karena hanya dengan dibakarnya bendera nilai keislaman tidak hilang.

Selain itu, sebut JPU, berdasarkan keterangan ahli ITE, bahwa perbuatan terdakwa masuk kedalam tindakan pidana yang menjurus  ke SARA. Sementara, berdasarkan keterangan ahli bahasa, bahwa postingan terdakwa pada akun instagram Patipadam, merupakan penistaan agama.

“Dari pengakuan terdakwa Agung Ritonga sendiri yang menyatakan, bahwa postingan tersebut ditujukan kepada umat Islam,” kata JPU.

Atas perbuatannya, terdakwa melanggar Pasal 28 ayat (2) Jo Pasal 45 A ayat (2) UU RI No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Usai membacakan dakwaan, majelis hakim menunda sidang hingga Rabu (23/1) pekan depan, dengan agenda keterangan saksi.

Sementara itu, penasehat hukum terdakwa, Hamda Hasonangan Harahap menyatakan usai sidang, bahwa terdakwa telah melakukan permintaan maaf secara tertulis.

“Dia (terdakwa) sudah meminta maaf kepada umat islam, dan itu dilakukan secara tertulis,” ujarnya, sembari menunjukkan secarik kertas bermaterai bertuliskan permohonan maaf atas nama terdakwa.

Hasonangan menjelaskan, jika terdakwa memang memiliki hobi berdebat menyangkut tentang apapun. “Anak ini memang hobi berdebat. Apalagi saat itu lagi marak-maraknya pembakaran bendera tauhid. Jadi dia buat statemen itu bukan maksud melecehkan, dia hanya berdebat saja,” tandasnya.( SB/FS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.