Boru Harahap Mengejar Mimpi Lewat UINSU

sentralberita|Medan~Dari kejauhan terlihat sosok gadis polos yang tampak gelisah bersandar pada kursi bambu tua, persis di halaman Rusunwa UIN Sumatera Utara.

Duduk seorang diri dengan berkali-kali bertaya dalam hati kemana kaki hendak melangkah. Sesekali terlihat jari tangannya menyentuh kelopak matanya untuk menghapus air mata, pertanda bahwa gadis itu telah lelah bercampur rindu, dan sepintas berfikir untuk mengaku kalah pada dunia. Namun hebatnya hingga kini gadis itu tetap bertahan dan terus berjuang dalam dunia pendidikannya.

Memiliki cita-cita yang tinggi layaknya remaja seusianya, gadis berkelahiran Simundol, 2 April 1999 ini biasa dipanggil Riski, dengan memiliki nama lengkap Riski Patimah Harahap. Terlahir di keluarga yang sederhana dari pasangan Maradoli Harahap dan Siti Asaro, yang keduanya berprofesi sebagai PNS.

Namun hal itulah salah satu yang menjadi PR dan beban serius bagi Riski, karena riski selalu teringat dengan ucapan gurunya sewaktu duduk di bangku kelas 6 SD “kalau hari ini ayahmu seorang guru, besok kamu harus bisa menjadi kepala sekola”, perkataan gurunya itu memiliki arti bahwa harus bisa menjadi sosok yang lebih tinggi dari ayahnya minimal satu tingkat.

Karena sekarang ayah riski menjabat sebagai KASUBBAG di PEMKAB PALUTA, riski pun bercita-cita menjadi KABID HUMAS sesuai dengan jurusan yang ia tempuh saat ini didunia perkuliahannya. Sehinnga untuk mewujudkan cita-cita itu riski harus menempuh pendidikan yang lebih tinggi tepatnya di UIN Sumatera Utara.

Dikalangan teman sebayanya, riski dikenal dengan pribadi yang pendiam, namun tidak dianggap remeh. Sedari SD riski memperoleh prestasi yang cukup banyak, mulai dari juara 1 dikelas, juara 2 pada OSN (Olimpiade Sains Nasional) tingkat kabupaten dibidang Geografi dan cerdas cermat, hingga prestasi dibidang seni tari diajang FLS2N pada tingkat Provinsi Sumatera Utara.

Dengan prestasi-prestasi itu, Riski menyadari bahwa untuk mencapai sesuatu diperlukan pengorbanan dan usaha keras, dan tentu saja tak luput dengan do’a.

Menjadi KABID HUMAS sudah tertanam dalam dihati riski, profesi yang tak mudah diraih itu menghantarkan riski pada banyaknya tantangan. Seringkali teman-teman riski di bangku perkuliahan menganggap bahwa riski tidak lebih dari seorang gadis kampung yang tidak memiliki kemampuan bersaing dengan anak-anak kota lainnya. Bukan menjadi sakit hati, riski menjadi lebih kuat dan makin berusaha untuk mematahkan opini-opini buruk orang terhadap dirinya.

Pernah suatu hari, ketika riski hendak berangkat kuliah lalu kawan kosnya mengutarakan pandangannya “untuk apa riski kuliah, lebih baik pulang saja ke kampung karena sawah ladang menunggumu”. Hati riski semakin bergetar dan semakin ingin lebih menunjukkan pada dunia bahwa gadis kampung pun memiliki daya saing yang kuat. Lagi dan lagi riski tak merasa berkecil hati.

Gadis berusia 19 tahun yang akrab dipanggil riski ini memiliki jiwa yang membara untuk membuktikan pada orang lain bahwa dirinya bisa. Untuk itu riski selalu aktif dalam berbagai organisasi, riski memulainya dengan aktif dalam organisasi daerahnya yaitu PPM PALUTA (Perhimpunan Pemuda Mahasiswa Paluta). Hingga aktif mengikuti kajian-kajian Islami diluar perkuliahan. Semua itu riski lakukan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing dirinya.

Meninggalkan kampung halaman tercinta yang kaya akan adat budaya dan keunikan alam, demi melanjutkan pendidikan di UIN Sumatera Utara sudah riski lalui sejak dua tahun silam. Berbagai gejolak dan rintangan dalam hati riski sudah biasa dilaluinya, mulai dari mencoba beradaptasi dengan lingkungan barunya, hingga rasa rindu pada ayahanda dan ibundanya yang selalu mengampiri disetiap detik.

Semua keluh kesah di negeri orang ini riski curahkan setiap minggunya lewat via telepon. Dan satu hal yang membuat riski bisa bertahan di tengah pahitnya menahan rindu ini ialah mendengar kabar bahwa ayah dan ibunya masih dalam keadaan sehat dikampung. Dan pesan terindah yang ingin riski capai dari ayahnya ialah “tunjukkan pada dunia bahwa akulah boru harahap dari padang bolak, gadis desa yang beradat dan berprestasi”.

Dengan menjadi mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara, riski si gadis kampung menggantungkan banyak harapan dan yakin bahwa semua manusia memiliki kesempatan yang sama, manusia hanya perlu berusaha dan berdoa hasilnya Allah yang akan menentukan. Untuk itu, hingga kini riski tetap berusaha dan berdo’a dalam menggapai cita-citanya. (SB/Syid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.