Sisi Dibalik Perlindungan Anak,  Siswi SMP Itu Dijadikan Mawar Berduri…..?

Ilustrasi Mawar Berduri

Sentralberita | Tebingtinggi~Ironis, RAL (sebut saja Mawar) yang usianya masih beranjak 13 tahun seorang siswi pelajar disalah-satu Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMP N) di kota Tebingtinggi yang ditengarai korban pencabulan diduga kuat diperalat oleh keluarga asuhnya untuk dijadikan mesin pencari uang seperti Anjungan Tunai Mandiri (ATM) atau mengambil keuntungan dari kasus akibat hubungan yang dijalin Mawar yang usianya dibawah umur dengan setiap pemuda yang datang menyinggahinya.

Ibarat sebuah syair lagu diera tahun -70 an yang berjudul “Mawar Berduri” dimana terkisahkan sekuntum bunga mawar berduri yang sedang mekar-mekarnya dan merebakkan aroma mewangiannya sehingga dapat memikat setiap kumbang yang melintasinya untuk datang hinggap menghisap madunya,namun kumbang-kumbang itu banyak yang mati gugur akibat tertusuk oleh duri dari si kuntum mawar itu…

Hal demikianlah yang dirasakan ibu Wagini (58) warga Jalan Penghulu Tarif Lingkungan V Kelurahan Tebingtinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebingtinggi Sumatera Utara (SUMUT) kepada Sentralberita.com dikediamannya menceriterakan kasus yang menimpa putra bungsunya BA (20) yang disangkakan melakukan pencabulan terhadap mawar yang tinggal bersama neneknya Sumiati (59) di Jalan Sopian Zakaria Kota Tebingtinggi,Selasa (13/11).

Wagini mengungkapkan,kasus yang dialami anaknya BA yang dilaporkan Sumiati nenek koban dengan Nomor:LP/201/V/2018/SU/RES.T.Tinggi/Reskrim,tertanggal 14 Mei 2018 dengan tuduhan telah melakukan perbuatan cabul terhadap anak dibawah umur itu terasa ganjil dan seperti direncanakan Sumiati karena Wagini meyakini ada beberapa kasus lagi yang serupa dengan kasus BA anaknya yang juga korbannya adalah Mawar dengan pelaku,waktu dan tempat berbeda dan berujung pula pada penyelesaian perdamaian dan pemberian uang yang besarannya berfariasi.

“Selain kejadian dengan anak saya ada lagi yang lain pak,dan sudah damai,orangnya kita tau nama dan alamatnya, juga berapa jumlah uang yang dimintai untuk perdamaian itu supaya kasusnya gak lanjut, “ungkap Wagini lirih dengan wajah murung merenung.

Menyikapi adanya infomasi kasus lain itu, yang sama dengan kasus yang disangkakan terhadap kliennya dengan pelaku lain dan waktu dan tempat kejadian berbeda sementara korbannya adalah orang yang sama, kuasa hukum BA, Faisal Wan ketika ditemui media ini di Pengadilan Negeri Tebingtinggi angkat bicara dan menyatakan rasa kekhhawatirannya terhadap perkara BA,Faisal mensinyalir adanya unsur eksploitasi anak dan human trafficking didalam kasus ini.

Karena itu demi hukum dan perlindungan terhadap anak itu sendiri sebagai korban, Faisal Wan berharap agar pihak kepolisian profesional dan memungkinkan pula bagi pihak kepolisian untuk dapat memeriksa Nenek korban yakni Sumiati.

“Jangan hanya melihat satu kasus saja sementara kasus lain ada terjadi menyangkut kasus ini, “kata Faisal.

“Seperti adanya indikasi eksploitasi terhadap anak dibawah umur untuk mencari keuntungan, hal ini dikuatkan dari adanya informasi yang diduga kuat pihak keluarga korban mawar mengambil keuntungan dari uang hasil perdamaian kasus yang dilaporkan keluarga asuh korban dan itu dikuatkan lagi dengan adanya kasus yang sama terhadap korban yang pelakunya berbeda dan waktu tempat kejadiannya juga berbeda , “terang Faisal Wan.

Sementara Kadis Pemberdayaan Perempuan,Anak,Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPAPPKB) Nina Zahara sepertinya telah mengetahui adanya kejadian serupa dan bukan yang pertama terjadi terhadap mawar namun kejadian itu tidak dilanjutkan proses hukumnya seperti kasus BA terhadap mawar yang saat ini perkaranya akan memasuki persidangannya di PN Tebingtinggi.

“Kalau yang dikatakan anak itu ada undang-undangnya lo yang mengatur, kalau anak misal anak dibawah umur kalau dilecehkan sama satu orang nggak ketahuan kasusnya, itu satu, yang kedua dilecehkan sama satu orang nggak ketahuan, pas yang ketiga ketahuan, kasusnya yang diangkat yang terakhir, hmm.. “kata Nina menegaskan.

Nina Zahara juga tidak menampik jika prilaku dan kepribadian mawar dalam pergaulannya sehari-hari yang dikhawatirkan berbeda dengan anak seusia mawar pada umumnya dan menganggap sikap dan tingkah mawar kesehariannya itu wajar.

“Pak…percayalah bapak,kalau yang namanya anak kalau sekali aja dilakukan perbuatan jahat kepada dia pak, apalagi dia ada kurang-kurangnya, percayalah bapak pasti dia menganggap keq mana ya biasa ya… gitu !”tandasnya enteng seraya menyatakan bahwa kasus mawar selama ini telah didampingi oleh Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Eva Purba.

Sementara Eva Purba ketika dihubungi media ini via seluler berjanji untuk bertemu di Unit Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) Polres Tebingtinggi agar sekaligus bertemu dengan Kanit PPA Iptu Dhoraria S. Simanjuntak, SH untuk mendapatkan informasi terkait kasus tersebut,namun hingga berita ini dimuat,Eva Purba dan Kanit PPA Iptu. Dhoraria belum juga berhasil untuk ditemui dan Eva Purba enggan mengangkat handpone selulernya kembali.(SB/jontob/imran)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.