Hati-Hati Obat Penenang ke Pelajar, Polisi Ciduk Pengedarnya

Ilustrasi

Sentralberita| Jakarta~Hati-hati obat penenang beredar, pasalnya Polres Siak telah menangkap tiga orang penjual ribuan obat penenang secara ilegal tanpa resep dokter.

Para pelaku yaitu Samilah (56) perempuan warga Kelurahan Perawang Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak Riau. Serta Maxi Astriyanto Langie (48) pria warga Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Painem (32) wanita warga Kecamatan Tualang.

“Ada beberapa obat yang kita sita dari para pelaku serta uang hasil penjualan. Mereka menjual obat ini tanpa resep dokter sehingga membahayakan penggunanya. Pembelinya kebanyakan remaja dan pelajar,” ujar Kapolres Siak AKBP Barliansyah kepada merdeka.com, Selasa (6/3).

Penangkapan dilakukan polisi di dua lokasi yang berbeda. Lokasi pertama, polisi menyita barang bukti dari pelaku berupa obat merk Tramadol HCI/tablet 50 Mg sebanyak 1.660 butir, Neo Protifed/tablet 60 Mg sebanyak 27 butir.

Polisi juga menyita uang hasil penjualan Rp 4.527.000, 4 telepon genggam berbagai merek. Sedangkan dari lokasi kedua, polisi menyita obat merek Hexymer 2 warna kuning 683 butir, obat Tramadol HCI/tablet 50 Mg 63 butir, obat Trihexyphenidyl 129 butir, dan uang hasi penjualan sebenyak Rp 108.000, serta 1 telepon genggam merek Vivo.

“Penangkapan tersebut berdasarkan informasi dari masyarakat. Setelah dilakukan penyelidikan, petugas berhasil menangkap para tersangka dan barang bukti,” kata Barliansyah.

Kepada polisi, Samilah mengaku memperoleh obat tersebut dari Medan, Sumatera Utara dan diedarkan kepada para remaja dan pelajar dengan harga Rp 5.000 per butir dan sudah menjual selama 3 bulan. Sedangkan tersangka Painem juga memberikan pengakuan yang sama.

“Obat-obatan yang dijual pelaku adalah obat dengan resep dokter dan digunakan untuk obat penenang dan disalahgunakan remaja untuk mabuk atau ‘fly’ dan menyebabkan kecanduan,” terang Barliansyah.

Atas perbuatan mereka, para tersangka dijerat Pasal 196 jo pasal 98 ayat (2) UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Polisi melakukan penahanan terhadap mereka untuk mempermudah proses hukum selanjutnya. (SB/mc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.