Cendikiawan Lintas Agama : Tidak Boleh Kekerasan Mengatasnamakan Agama di Indonesia


Irwansyah Putra Nasution, perwakilan dari ICMI yang membacakan statement di Gedung Pusat Pendidikan Pancasila didampingi tokoh lintas agama lainnya. (f-SB/Ib)

Sentralberita| Bogor~ Tokoh cendekiawan lintas agama se- Indonesia menggelar pertemuan di Balai Pusat Pendidikan Pancasila Mahkamah Konstitusi, di Cisarua , Bogor, Jawa Barat. Dalam pertemuan ini, cendikiawan membahas kondisi terkini mengenai banyaknya issu SARA, persekusi dan kekerasan yang mengatasnamakan agama belakangan terjadi dibelahan bumi Indonesia.

Dalam pertemuan, sebanyak 150 tokoh lintas agama bersepakat dan menghasilkan enam point, Jumat, (16/2/2018).

Irwansyah Putra Nasution, perwakilan dari ICMI yang membacakan statement di Gedung Pusat Pendidikan Pancasila didampingi tokoh lintas agama lainnya menyatakan, Cendikiawan Lintas Agama menolak segala bentuk kekerasan yang mengatasnamakan agama, menolak setiap tindakan persekusi dan ujaran kebencian, menolak politisasi agama untuk kepentingan pribadi, kelompok dan golongan.

Termasuk menolak semua bentuk issu SARA dalam kontestasi politik di Indonesia, menolak prilaku masyarakat yang tidak cerdas dan bijak dalam menggunakan media sosial, dan meminta kepada penegak hukum untuk menindak tegas pelaku kekerasan terhadap pemeluk agama manapun.

“Kita tidak mau Indonesia terpecah dan hancur, apalagi tindakan kekerasan mengatasnamakan agama tidak boleh terjadi di Indonesia,” ucapnya.

Dalam pertemuan ini, dihadiri oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Profesor Arif Hidayat, Profesor Jimly Asshiddiqie, Sejarawan dan juga tenaga professional Lemhanas Republik Indonesi Dr Anhar Gonggong, Dosen Filsafat di Universitas Gajah Mada, Dr Arqom Kuswanjono, Perwakilan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI), Ikatan Sarjana Katolik, Ikatan Cendikiawan Hindu Indonesia (ICHI), Keluarga Cendikiawan Budha Indonesia (KCBI), Divisi Cendikiawan, Sarjana,Sejenis pada Majelis Tinggi Indonesia (MATAKIN)

Dengan adanya pertemuan ini, tokoh cendikiawan lintas agama berharap persatuan dan kemajemukan di bumi Nusantara dapat terus terjaga. Apalagi, Kata Irwansyah, beberapa daerah di Indonesia akan melaksanakan pemilihan Gubernur, Bupati dan Wali Kota. “Kita minta semua pihak dapat menjadi penyejuk dan pemersatu. Khususnya penegak hukum dalam menjaga keamanan dan ketertiban,” ucapnya.

Aktivis Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Ariejon Manurung menambahkan jangan jadikan agama untuk kepentingan politik meraih kekuasaaan, tapi jadikan agama sebagai pemersatu keutuhan bangsa.

Cendikiawan lintas agama juga menghimbau kepada masyarakat luas untuk menggunakan media sosial dengan cerdas dan bijak, karena informasi yang beredar (share) di media sosial belum tentu memiliki kebenaran. “Mari kita jaga keutuhan negara ini, dengan cermat menggunakan media sosial,” pinta Jon.

Sebagai follow up pertemuan ini, rencananya, aktivis cendikiawan lintas agama akan membuat deklarasi disetiap daerah agama sebagai pemersatu bangsa. (SB/ib)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.