Kurban Simbol Komunikasi

Oleh:  A Rasyid
Oleh: A Rasyid

Medan, (Sentralberita)-Manusia boleh jadi akan mati, atau setidaknya merasa sengsara manakala dikucilkan dari sesama manusia sehingga ia tidak bisa melakukan komunikasi dengan dunia sekelilingnya. Oleh karena  itu komunikasi merupakan tindakan manusia yang lahir dengan penuh kesadaran, bahkan secara aktif manusia sengaja melahirkannya karena ada maksud atau tujuan tertentu.

Berkurban yang dilakasakan setelah shalat ied adalah bagian terpenting bagi manusia untuk menumbuhkan dan membangun komunikasi sosial kita yang kuat,jujur dan ikhlas dengan sesama kaum muslimin sehingga diharapkan dapat menjembatani kesenjangan sosial antara yang mampu dengan tidak mampu dalam ekonomi.
Salah satu tujuan komunikasi sosial adalah terbentuknya suatu aktualisasi diri pribadi, stabilitas sosial, tertib sosial, penerusan nilai-nilai lama dan baru di masyarakat sehingga dapat memupuk, membina dan memperluas kesadaran bermasyarakat.
Komunikasi sosial berkaitan erat dengan komunikasi antar satuan/institusi dalam pembangunan di bidang keamanan serta bagaimana komunikasi harus dilakukan, sehingga berperan sebagai penunjang pelaksanaan program-program pembangunan lain, dalam rangka menciptakan perubahan pada suatu sistem sosial yakni perubahan sosial (sosial changes) yang aman.
Memang pada awalnya kurban yang kita kenal hari ini bermula dari kisah nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya yakni Nabi Ismail. Ibrahim berkata:
“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (Qur’an Surat Ash Shaffat : 102 – 107).
Tetapi pemahaman lebih jauhnya adalah membangun komunikasi yang harmonis antara yang berkurban (mampu) dengan yang tidak mampu. Komunikasi ini cukup penting artinya sebagai upaya memupuk kesalehan sosial kita. Dengan berqurban, kita dididik untuk memiliki karakter untuk senang berbagi. Berbagi rejeki, berbagi kebahagiaan, dan berbagi kebersamaan. Fakir-miskin dan kaum dhuafa yang jarang makan daging, bisa merasakan nikmatnya memakan daging. Sedangkan bagi yang berkurban, bisa menghilangkan ketamakan dan cinta harta berlebihan.
Sesungguhnya peristiwa kurban sarat akan makna simbolik, dan termasuk didalamnya adalah proses komunikasi, di antaranya menghargai harkat martabat manusia untuk tetap hidup dan menekankan kehidupan sosial sebagai wujud kepasrahan yang total kepada Allah SWT. Namun, dalam segala perwujudannya, dulu dan sekarang, makna kurban telah bergeser menjadi sebuah tradisi ritual belaka yang tidak memiliki nilai apa-apa. Memaknahi komunikasi simbolik ibadah kurban bisa dilihat dari pemahaman akan makna simbolik kurban itu sendiri.
Dalam ibadah kurban yang menjadi simbolnya adalah mengorbankan binatang ternak. Mengagapa binatang ternak yang harus dikurbankan? Disini bisa dipetik makna bahwa Islam berupaya mengkomunikasikan kepada manusia menggunakan simbol-simbol universal berupa binatang yang dipahami sebagai simbol kejahatan, keburukan dan kerakusan yang akan berimplikasi kepada kehancuran dan kebinasaan. Melalui momentum Ibadan kurban ini Islam melakukan komunikasi universal kepada umat manusia bahwa dengan memotong binatang ternak diharapkan sifat-sifat dan karakter kebinatangan yang terdapat pada diri hamba bisa terkikis seiring dengan lenyapnya darah dari binatang tersebut.
Momentum kurban ini tidak bisa dipahami sebagai ibadah ritual belaka yang gersang akan makna. Dalam nuanasa Idul Adha ini Islam mengkomunikasikan kepada sekalian alam bahwa ini adalah wujud kepasrahan (tawakkal) Nabi Ibrahim secara totalitas kepada Allah Tuhan Sekalian Alam. Bahkan lebih dari itu, qurban mempunyai makna pembebasan manusia dari sifat-sifat kebinatangan, dari kesemena-menaan dan kesewenang-wenangan terhadap manusia.
Mohammad Asrori Mulky berpendapat bahwa melalui ibadah kurban, Islam ingin mengkomunikasikan secara simbolik bahwa Tuhannya Ibrahim bukanlah Tuhan yang haus darah dan suka berperang. Dia adalah Tuhan yang ingin menyelamatkan dan membebaskan manusia dari tradisi yang tidak menghargai manusia dan kemanusiaan, dan dari tradisi yang suka mempersembahkan nyawa manusia untuk para dewa dan roh suci. Dia adalah Tuhan yang ingin menyelamatkan manusia dari tradisi yang sering menumpahkan darah kepada tradisi yang penuh dengan rahmat dan anugerah.
Dalam kurban, seperti juga zakat, haji, puasa dan sadaqah, terkandung di dalamnya nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Islam adalah agama yang tidak dapat dipisahkan dari dimensi sosialnya. Dalam konteks ini, ibadah qurban tidak boleh hanya dipahami sebagai upaya untuk mencapai kemaslahatan ukhrowi belaka, tapi lebih dari itu bertujuan untuk terciptanya kemaslahatan dan kebaikan duniawi. Karena setiap pensyariatan dalam Islam, terkandung tujuan syariat (maqhasid as-syari’ah), yaitu tercapainya kemaslahatan dan kebaikan bagi umat manusia di dunia dan akhirat. Sehingga tidak berlebihan bahwa ibadah Qurban akan mewujudkan kesalehan social bagi pelakunya.
Jika dikaitkan ibadah kurban dengan fenomena sosial di negara kita, Indonesia, sesungguhnya persoalan paling mendasar yang sedang kita hadapi adalah persoalan kemiskinan dan ketidakadilan. Kita melihat, kemiskinan lebih banyak dirasakan orang, sementara kekayaan hanya dicicipi segelintir orang. Karena itu, persoalan utama yang harus kita perjuangkan adalah bagaimana kita bisa menegakkan keadilan dalam struktur sosial. Kalau persoalan itu yang kita hadapi, maka relavansi Idul Qurban saat ini adalah mewujudkan keadilan sosial diantara manusia, memberantas kemiskinan, sehingga kekayaan tidak menumpuk pada sekelompok orang saja. Inilah komunikasi Simbolik ajaran islam dalam tataran keadilan sosial. (Penulis adalah Dosen UINSU)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.