Dua Pelaku Penjual 9 Ekor Kukang

pukangSentral Berita | Medan ~ Dua pelaku perdagangan hewan yang dilindungi diamankan petugas Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Wilayah Sumatera. Kedua pelaku tertangkap saat akan menjual 9 ekor Kukang satwa liar yang dilindungi, dikawasan Patumbak, Kabupaten Deliserdang.

Sebagaimana dikatakan Kepala Balai Gakkum LHK Wilayah Sumatera, Halasan Tulus, kepada wartawan, menyebutkan penangkapan keduanya berdasarkan informasi dari warga tentang akan adanya transaksi penjualan kukang. Dari situ kemudian pihaknya bersama dengan lembaga mitra melakukan pengembangan dan merencanakan penangkapan di lokasi yang sudah ditentukan.

Keduanya ditangkap tangan di simpang Pantai Kasan, Patumbak, Deli Serdang yang mana ketika itu, penjual kukang tersebut mengendarai sepeda motor membonceng seorang anak yang membawa karung goni berisi sembilan ekor kukang. Penangkapannya berlangsung cepat.

Setelah ditangkap, keduanya dibawa ke Markas Komando Satuan Polisi Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Macan Tutul, di Mariendal untuk diperiksa. Dari hasil pemeriksaan, keduanya berinisial P (54) dan BH (12) yang mana kemudian diketahui keduanya merupakan bapak dan anak.

“Tentunya akan ada perlakuan tersendiri untuk anaknya. Kita lakukan pendalaman sejauh mana keterkaitan anaknya di sini, apakah hanya ikut membonceng atau bagaimana,” katanya.

Dia menduga, P merupakan bagian dari jaringan perdagangan satwa. Dari pemeriksaan nantinya diharapkannya dapat membuka jaringan-jaringan perdagangan satwa liar dilindungi sehingga dapat memutus rantai perdagangannya sehingga bisa mengurangi laju kepunahan satwa liar dilindungi.

Informasi yang diperolehnya adalah bahwa selama ini sudah terjadi perdagangan satwa liar dilindungi antar provinsi. Umumnya para pemburu dan penjual satwa liar dilindungi memiliki jaringan khusus antar provinsi.

“Kita bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam, dan instansi pemerintah lainnya untuk sosialisasi. Nantinya, kita akan lakukan pelepas liaran di habitatnya. Apalagi, di Sumatera Utara, populasinya sudah menurun karena banyaknya perburuan dan perdagangan satwa,” katanya.

Dijelaskannya, atas perbuatannya pihaknya akan menjerat pelaku dengan Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya (KSDAE) dengan ancaman pidana penjara minimal 1 tahun dan maksimal 5 tahun dengan denda sebesar Rp 100 juta.

Koordinator Forest and Wildlife Protection Unit, Indra mengatakan, pihaknya bersama dengan Balai Gakkum LHK Wilayah Sumatera dan juga Indonesian Species Conservation Programme fokus untuk melakukan upaya pencegahan dan penindakan perburuan dan perdagangan satwa. Dalam hal ini pihaknya sudah sejak lama mengamati gerak-gerik P yang merupakan orang lama.

“Ini bukan yang pertama kali dia lakukan, ada setidaknya empat kali dia menjual belikan kukang. Di rumahnya pun ada satwa-satwa lain,” katanya.

Di sela-sela pemeriksaan, kepada Kepala Balai Gakkum LHK Wil. Sumatera, Halasan Tulus, P mengaku baru dua kali menjual kukang. Pertama dia menjual dua ekor dengan harga Rp 100.000/ekor dan yang kedua adalah sembilan ekor yang mana kemudian dia ditangkap. Menurutnya, kukang-kukang tersebut ditangkapnya di kebun pisangnya. “Kukang ini saya tangkap karena makan pisang, dia sering di tanaman pisang pak,” katanya. (DNA/SB ~ 01)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.