PDAM Tirtanadi Lahirkan Konsep Tata Kelola Limbah Domistik di Kawasan Danau Toba

DSC_1465 copy-1Medan, (Sentralberita)- Mewujudkan Danau Toba menjadi Monaco of Asia tidak bisa lepas dari kajian lingkunganhidup atau khususnya tata kelola limbah domestik di kawasan Danau Toba yang selama ini ditenggarai menajdi salah satu penyebab tercemarnya Danau Toba.

PDAM Tirtanadi merupakan operator pengelola limbah domestik atau limbah rumah tanggayang beroperasi di kawasan Danau Toba Parapat sampai saat ini hanya mengelola limbah dari306 sambungan rumah.Jumlah pelanggan air limbah di kelola PDAM Tirtanadi selama bertahun-tahun tidak mengalami peningkatan.

Hal tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang salah satunya sikap apatis terhadap pencemaran Danau Toba.

  • Sebagaimana data yang kita peroleh dilapangan, limbah domestik dari rumah tangga, peternakan bahkan hotel-hotel
    sampai saat ini masih banyak yang dibuang secara langsung ke Danau Toba. Hal diatas
    disampakan Oleh Direktur Air Limbah PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatra Utara, Ir. Heri
    Batangari Nasution, M.Psi pada Rapat Konsultasi dan Edukasi Air oleh Anggota Pakar
    UNESCO di Hotel Niagara Parapat, Kamis, 26 Mei 2016.
    Ir. Heri Batangari Nasution, M.Psi menuturkan kepada para peserta yang hadir mengenai
    beberapa kendala yang dihadapi dalam pengelolaan limbah domestik di Parapat seperti
    minimnya pertumbuhan sambungan limbah. Instalasi Pengolahan Air Limbah PDAM
    Tirtanadi disini memiliki kapasitas pengelolaan untuk 2000 sambungan, jadi masih mampu
    untukmengelolalimbahdari1700sambunganlagidanselamainikapasitastersebutbisa
    dikatakan mubazir.
    Kedepannya,PDAM Tirtanadi akan kembali melakukan pendekatan ke semua pihak agar
    limbah domestik dikawasan ini bisa kita kelola agar outputnya bisa kita salurkan ke Danau Toba sesuai dengan baku mutu yang ditentukan oleh Kementrian Lingkungan Hidup.
    Para pakar-pakar dari Unesco ini sudah kita bawa ke tempat pengolahan limbah domestik kita
    untuk melihat secara langsung proses yang kita lakukan. Masukan-masukan dari mereka
    terutama dari Profesor Shahbaz Khan selaku Direktur Unesco Asia Pasifik sangat berharga
    untuk direalisasikan dalam waktu dekat.
    Begitu juga sumbangan pemikiran yang disampaikan oleh Chairman World Water Forum asal Korea Selatan, Profesor Sontak Lee tentang konsep peduli lingkungan kawasan Danau Toba.
    “Saya dan beberapa pakar dari Unesco telah bersepakat, kita akan berkolaborasi juga dengan
    7 kabupaten yang berada di kawasan Danau Toba ini untuk fokus ke penanganan limbah
    domestik demi tercapainya tujuan Presiden untuk membuat kawasan Danau Toba menjadi
    “Monaco of Asia” Ujar Mantan Kepala Divisi Produksi PDAM Tirtanadi ini.
    Masih dalam kesempatan yang sama, Direktur Air Limbah juga menyinggung tentang peran
    serta PDAM Tirtanadi di dalam Badan Otorita Danau Toba yang akan menaungi kawasan
    kaldera tersebut. Pada pertemuan ini juga, PDAM Tirtanadi mengharapkan rekomendasi dari
    UNESCO agar PDAM Tirtanadi dapat mendapat peran disana untuk mengelola limbah
    domestik karena didasarkan pada kesiapan dan perencanaan yang sudah dipersiapkan. Semua
    nya hanya bertujuan untuk pelestarian kawasan Danau Toba di masa depan. Program-
    program pengelolaan limbah domestik kawasan Danau Toba akan disusun dan segera
    diusulkan ke Badan Otorita Danau Toba.
  • “Kita ingin berperan dalam rencana pengembangan kawasan Danau Toba ini, PDAM
    Tirtanadi ingin membangun lingkungan hidup yang lebih baik” Ditutup oleh Ir. Heri
    Batangari Nasution, M.Psi.
    Sementara itu, pada kunjungan ke IPAL PDAM Tirtanadi, Direktur UNESCO Asia Pasifik
    Profesor Shahbaz Khan memberikan masukan yang paling mendasar kepada masyarakat dan
    pengunjung Danau Toba untuk tidak membuang sampah secara langsung ke Danau Toba.
    “Kami mohon, mari kita hentikan pembuangan sampah dan limbah ke Danau Toba. Lihatlah
    betapa beruntungnya masyarakat disini diberi keindahan oleh Tuhan, mari kita jaga bersama
    agar semua ini terus terjaga keindahannya. Dan kepada PDAM Tirtanadi saya telah
    mengatakan untuk meningkatkan kembali instalasi pipa air limbah komunal terutama di
    kawasan Ajibata, Parapat.” Ujarnya.
    UNESCO mengatakan mereka tidak akan hanya berhenti pada pertemuan ini saja, setelah ini
    kami akan mengeluarkan rekomendasi kepada Pemerintah yang juga melibatkan PDAM
    Tirtanadi sebagai satu-satunya operator pengelola limbah domestic di kawasan ini.
    Menurut Profesor Sontak Lee, pakar air dari Korea Selatan “ Selama lebih dari dua puluh
    tahun menurut saya kawasan Danau Toba ini belum ada peningkatan kepedulian terhadap
    lingkungan dan konservasi”. Profesor ini bisa berkata demikian karena dia pernah berkunjung
    kesini 20 tahun yang lalu dan saat ini kondisi nya semakin parah.
    “Saya dan kita semua berharap kepada PDAM Tirtanadi jangan berhenti untuk mengelola
    limbah domestik disini. Meski tadi disampaikan bahwa pengelolaan limbah domestik disini
    secara financial masih jauh dari profit, tapi dari segi lingkungan hidup ke depannya kita akan
    banyak di untungkan” ujar Prof. Sontak Lee.
    Pertemuan konsultasi yang dihadiri oleh Profesor dan Ahli air dari berbagai Negara itu
    berlangsung selama dua hari di Medan dan Parapat. Dihadiri oleh Direktur Adm. Keuangan
    Arif Haryadian, M.Si, Direktur Air Limbah Ir. Heri Batangari Nasution, M.Psi, Direktur
    UNESCO Asia Pasifik Profesor Shahbaz Khan, Profesor Sontak Lee yang saat ini menjabat
    Gubernur Konsul Air Dunia, DR. Olivia Castello dari United Nation Secretary General
    Advisory Body Filipina, Profesor Basant Maheshwari dari Australia, Profesor Demin Zhou
    dari China, DR. Thariq Rana dari Australia, DR. Anthony Sales dari Filipina, DR.
    Mohammad Roseli dari Malaysia, Profesor Ramadhan Hamdani Harahap dari USU. Dan
    berbagai akademisi partisipan lainny (SB/0/rel)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.