Sibolga Inflasi 0,78 Persen

Sibolga, (Sentralberita)- Setelah tiga bulan berturut-turut, Kota Sibolga mencatat deflasi secara bulanan (mtm), pada bulan November 2015, Kota Sibolga mencatat inflasi sebesar 0,78% (mtm). Secarakeseluruhan, Provinsi Sumut juga mencatat inflasi sebesar 0,51% (mtm).

“Selain Sibolga, Kota Padangsidimpuansebagai daerah yang dihitung indeks harga

konsumen (IHK)-nya di Wilayah Kerja Kantor Perwakilan BI Sibolga juga mencatat inflasi sebesar 0,41% (mtm). Tak hanya itu, Kota IHK di luar wilayah kerja Kantor Perwakilan BI Sibolga juga mengalami inflasi, Kota Medan

sebesar 0,53% (mtm) dan Kota Pematangsiantar sebesar 0,28% (mtm),” kata Kepala Perwakilan BI Sibolga, Mohammad Junaifin, didampingi Manager Unit Komunikasi

dan Koordinasi Kebijakan BI Sibolga, Agni Alam Awirya, kemarin di Sibolga.

  • Secara tahunan, inflasi Kota Sibolga mencapai 2,94% (yoy) dan Kota Padangsidimpuan

mencapai 2,52% (yoy). Laju inflasi secara kumulatif hingga bulan November 2015 untuk

Kota Sibolga adalah 1,20% (ytd) dan KotaPadangsidimpuan 0,22% (ytd). “Melihat

kenyataan ini, Inflasi Kota Sibolga dan Kota Padangsidimpuan hingga akhir tahun 2015,

diperkirakan masih dibawah sasaran inflasi nasional sebesar 4 ± 1% (yoy),” katanya.

Mohammad Junaifin menambahkan, factor pendorong inflasi bulan November 2015 di Kota Sibolga berasal dari harga kelompok volatile food terutama pada sub kelompok bumbu bumbuan, sub kelompok ikan segar, dan sub kelompok daging dan hasil-hasilnya.

.Pada kelompok inti, Kota Sibolga dan Kota Padangsidimpuan justru mengalami deflasi. Di Sibolga deflasi itu disebabkan penurunan harga obat-obatan, ikan yang diawetkan dan

perlengkapan pendidikan. Sementara deflasi kelompok inti di Kota Padangsidimpuan disebabkan menurunnya harga barang pribadi dan sandang wanita.

Pada kelompok administered prices, Kota Sibolga mengalami inflasi 1,02% (mtm). Begitu juga di Kota Padangsidimpuan inflasi sebesar 1,02% (mtm) pada bulan November 2015. Halitu diakibatkan kenaikan harga pada sub kelompok minuman beralkohol dan tembakau.“Meskipun demikian, tekanan inflasi pada tahun 2015, diperkirakan lebih rendah disbanding tahun sebelumnya. Namun, perkembangan kondisi cuaca serta dinamika ekonomi global berpotensi memberi risiko tekanan inflasi dalam negeri,” katanya.(SB/01/J)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.