Buku-Buku Terbaik Internasional dan Tanah Air Tahun 2015

Jakarta, (Sentralberita)-Tahun 2015 menyimpan daftar panjang dari buku-buku terbaik terbitan internasional dan Tanah Air. Mulai dari kehebohan perilisan ‘Go Set a Watchman’ karya Harper Lee di pertengahan tahun sehingga hak terbitnya diperebutkan banyak negara. Sampai peluncuran novel ‘Hujan Bulan Juni’ yang diadopsi dari puisi ternama Sapardi Djoko Damono.

Lagi membaca uku terbaik dunia (iulustrasi/SB)
Lagi membaca buku terbaik dunia (iulustrasi/SB)

Berikut 10 buku favorit 2015 pilihan detikHOT berdasarkan isi buku, profil penulis sampai kisah di balik peluncuran bukunya:

1. Go Set a Watchman; Harper Lee
Setelah menunggu hampir 55 tahun, akhirnya novel ‘Go Set a Watchman’ karya Harper Lee diterbitkan secara serentak di 70 negara. Sebanyak dua juta kopi disebar ke setiap toko-toko buku. Lee yang kini berusia 89 tahun dan tinggal di sebuah panti jompo di Monroeville, Alabama awalnya menulis buku ini di tahun 1957 silam, sebelum penerbitan ‘To Kill a Mockingbird’. Bab pertama ‘Go Set a Watchman’ dibocorkan Jumat pekan lalu dan mendapatkan respons beragam.

Buku ini disebut sebagai novel terbaik sepanjang masa, bahkan berita penemuan naskah sampai perilisannya dibaca oleh penggemarnya. Novel ini juga mengalahkan ketenaran dari novel erotis E.L James ‘Fifty Shades of Grey’. Di Indonesia sendiri, hak terbitnya dipegang oleh Penerbit Mizan dan dicetak sebanyak 70 ribu kopi.

  1. Girl on The Train; Paula Hawkins
    Nama Paula Hawkins makin mencuat ketika peluncuran buku ‘Girl on The Train’ menjadi daftar buku terlaris di toko buku. Melalui novel terbarunya ‘The Girl on the Train’, Paula bertengger selama lebih dari 20 minggu berturut-turut. Survei yang dilakukan oleh Nielsen BookScan ini baru saja diumumkan pertengahan Juli 2015 lalu.
\

Buku ini mengisahkan tentang perjalanan pasangan di dalam kereta api. Mereka percaya sesuatu yang mengerikan terjadi di luar kereta api. Keduanya pun berada di antara dua pilihan, berada dalam zona nyaman atau keluar dan merasakan petualangan. “Apa yang terjadi di kereta, melihat sesuatu yang tak diinginkan dari jendela kereta. Bisakah saya tetap berada dari zona nyaman dan keluar dari kehidupan sehari-hari?” ungkap Paula.

3. Career of Evil; Robert Galbraith
Cerita mengenai detektif handal Cormoran Strike tak berhenti sampai seri kedua saja. Penulis asal Inggris JK Rowling meluncurkan novel ketiganya yang berjudul ‘Career of Evil’ pada 22 Oktober 2015. Sejam setelah pengumuman tanggal perilisan, penjualan di situs Amazon drastis melonjak. Bahkan selama 24 jam terakhir, di berbagai situs buku online laris manis terjual.

Di seri ketiganya, detektif Cormoran dan Robin akan menerima paket misterius mengenai kaki wanita yang putus. Ia percaya ada empat orang dari masa lalunya yang bertanggung jawab terhadap paket tersebut.

4. War’s Unwomanly Face; Svetlana Alexievich/ Peraih Nobel Sastra 2015
Namanya muncul sebagai nominasi yang diunggulkan selain penyair Korea Ko Un dan penulis Hungaria Krasznahorkai. Svetlana Alexievich melesat jauh dan berhasil memenangkan Nobel Prize 2015 kategori sastra. Diumumkan di Stockholm, Ketua Akademi Swedia sebagai penyelenggara Sara Danius menyebutkan buku pemenang sebagai monumen untuk keberanian dan penderitaan di waktu yang sama.

Salah satu karyanya adalah ‘War’s Unwomanly Face’ yang tertunda penerbitannya karena larangan otoritas Soviet. Negara asalnya melihat bukunya sebagai subversif dan merusak mitos kemenang tentara Soviet di Perang Dunia ke-2.

Dalam buku itu, penulis kelahiran 1948 silam menulis cerita perang yang tak biasa. Ia bergerak dalam narasi militer dan mengisahkan para perempuan Soviet yang mengambil peran laki-laki, berjuang di garis depan, membunuh dan terbunuh, dan mengalami kondisi yang emosional. Menurut perwakilan Akademi Swedia, Sara Danius, Alexievich menciptakan genre sastra bru. “Ia melampaui format penulisan jurnalistik dan membuat genre yang lain,” kata Sara.

5. A Brief History of Seven Killings; Marlon James/ Peraih Man Booker Prize 2015
Jerih payah penulis asal Jamaika Marlon James berbuah hasil. Setelah bertahun-tahun berjuang menerbitkan novel, akhirnya ia berhasil meraih penghargaan sastra bergengsi setelah Nobel Sastra yakni Man Booker Prize 2015. Lewat novel tentang usaha pembunuhan Bob Marley di tahun 1970-an, Marlon James meraih penghargaan ‘Man Booker 2015’.

Ketua dewan juri Michael Wood mengatakan novel ‘A Brief History of Seven Killings’ merupakan buku paling menarik yang pernah diterbitkan. Novel setebal 680 halaman tersebut penuh kejutan dan berbahaya di setiap halaman. Setting novel memakai waktu selama tiga dekade. Menggunakan kisah nyata dari upaya pembunuhan yang pernah terjadi dari hidup bintang reggae, Bob Marley, James menelusuri geng-geng yang ada di Jamaika. Sekaligus pergolakan politik di negara asalnya.

6. Critical Eleven; Ika Natassa
Novelis Ika Natassa kembali membuat kejutan dengan karya terbarunya ‘Critical Eleven’. Awal Juli lalu, di enam toko buku online pilihan, ‘Critical Eleven’ laris manis terjual dalam waktu 11 menit. Bahkan beberapa waktu lalu, novelnya masuk dalam trending topic di Twitter. Wow!

Antusiasnya pre-order tersebut membuat sebagian para penggemarnya tak kebagian membeli. Padahal, penerbit Gramedia Pustaka Utama mencetaknya sebanyak 1.111 novel. Dalam keterangan yang diterima detikHOT, Ika tak menyangka novelnya akan habis dalam waktu 11 menit.

Penulis yang dinominasikan menjadi Penulis Muda Berbakat di Khatulistiwa Literary Award pada 2008 ini menulis kisah dunia penerbangan ini terbilang unik. Novel yang menceritakan tentang kehidupan cinta pasangan Ale dan Anya, yang pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Perkenalan itulah yang akhirnya mendatangkan beragam pengalaman bagi mereka berdua, baik menyenangkan maupun tidak.

7. Hujan Bulan Juni; Sapardi Djoko Damono
Puisi ‘Hujan Bulan Juni’ menjadi fenomenal sejak diterbitkan 1989 silam. Penyair yang terkenal puitis dalam sajak-sajaknya itu kali ini menerbitkan novel berjudul sama dengan salah satu puisinya yang paling terkenal itu.

Novel setebal 144 halaman tersebut mengisahkan hubungan yang pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang. Tentang seseorang yang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkira jumlahnya dalam selembar sapu tangan. Sapardi hanya membutuhkan waktu lima bulan untuk menulis novel tersebut dan tak kesulitan mengadaptasinya. Sebelumnya, ia telah merampungkan trilogi ‘Soekram’ pada Maret 2015.

Selain soal cerita, kesenduan yang hadir dalam novel ‘Hujan Bulan Juni’ juga diterjemahkan dengan baik secara visual oleh Iwan Gunawan. Gambar tetesan air mata atau hujan mengundang banyak pujian dari para pembaca.

8. Sisi Gelap Cinta; Mira W
Merayakan 40 tahun kiprah novelis Mira W di Tanah Air dan usia yang menggenapi 64 tahun, ‘Sisi Gelap Cinta’ diluncurkan 13 September 2015. Mengisahkan tentang kehidupan Andien bersama keluarganya. Bahtera perkawinan yang selama ini berlayar nyaris tanpa terpaan gelombang, tiba-tiba karam. Suaminya ditahan, anak laki-lakinya menghilang, anak perempuannya koma. Dari kaki Gunung Kilimanjaro di Afrika sampai Lembah Baliem di Papua, Andien harus mencari jawabannya.

Di ‘Sisi Gelap Cinta’, perempuan keturunan Tionghoa yang memiliki nama asli Mira Widjaja ini harus menjelajah ke Gunung Kilimanjaro di Tanzania. Traveling ke Raja Ampat dilakukannya pada 2011 silam. Namun, untuk setting Lembah Baliem, Mira hanya mencarinya dari situs penelusuran Google.

9. Kambing dan Hujan; Mahfud Ikhwan
Sebuah novel berjudul ‘Kambing dan Hujan’ yang menceritakan kisah remaja antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah menjadi juara pertama sayembara novel DKJ 2014. Nama Mahfud Ikhwan tiba-tiba menjadi pemberitaan luas di pengujung tahun lalu, ketika diumumkan sebagai Pemenang I Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Kini, naskah tersebut diterbitkan dan telah beredar di toko buku sehingga bisa dinikmati oleh sidang pembaca.

Dalam berbagai pemberitaan kala itu disebutkan bahwa naskah berjudul ‘Kambing dan Hujan’ tersebut mengangkat kisah cinta remaja NU dan Muhammadiyah. Dari sinilah, cerita “yang sesungguhnya” bergulir. Dengan panggung sebuah desa santri di Jawa Timur, keluarga Mif dan keluarga Fauzia adalah Montague dan Capulet dalam kisah cinta abadi karya Shakespeare. Bapak-bapak mereka dulu, Is dan Mat, berseteru, awalnya karena perbedaan “ideologi”. Namun, novel ini memberi pembacanya lebih dari yang bisa diharapkan. Pertentangan dua sahabat di tengah drama ketegangan antara tradisi versus modernitas berkembang secara tak terduga menjadi persaingan memperebutkan seorang perempuan.
10. Dilan 2: Pidi Baiq
Masih ingat dengan kisah percintaan dari Dilan dan Milea yang mengambil setting kota Bandung? Pasangan muda dari masa putih abu-abu itu digemari para pembaca dari penulis Pidi Baiq.

Seri kedua dari Dilan tersebut sudah ditunggu-tunggu. Pidi Baiq menyambut antusiasme dari penggemarnya dan memastikan seri berikutnya akan rilis Juni 2015. Sebelumnya, Pidi telah menerbitkan sejumlah buku seperti ‘Drunken Monster: Kumpulan Kisah Tidak Teladan’, ‘Drunken Molen: Kumpulnya Kisah Tidak Teladan’, ‘Drunken Mama: Keluarga Besar Kisah-kisah Non Teladan’ dan ‘Drunken Marmut: Ikatan Perkumpulan Cerita Teladan’. (SB/DTC/01)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments