Depresi Cinta Membuat Dartam Dikurung 24 Tahun

Depresi Cinta Membuat Dartam Dikurung

Jakarta , (Sentralberita)-Depresi setelah cintanya ditolak oleh gadis pujaannya yang lebih memilih laki-laki lain, Dartam (66) warga RT 4 RW 6 Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah terpaksa dikurung dalam sebuah gubuk berukuran 1×1 meter yang berada di belakang rumahnya selama 24 tahun. Bahkan untuk meluruskan kaki atau berdiri saja tidak dapat dilakukannya.

Awalnya semua kehidupan Dartam normal. Tahun 1975, saat masih remaja Dartam sempat jatuh cinta kepada wanita pujaannya asal Desa Jatisaba, Cilongok atau tetangga desa. Karena ditolak cintanya, ia kemudian depresi dan mulai sering mengamuk serta selalu membawa senjata tajam seperti golok dan celurit. Terang saja, warga sekitar jadi ngeri.

Dartam melihat dari balik kurungan
Dartam melihat dari balik kurungan

Sejak tahun 1991 akhirnya Dartam terpaksa dikerangkeng oleh keluarganya di belakang rumah dengan dibuatkan tempat sederhana menggunakan bambu-bambu yang saling diikat mirip seperti kandang kambing. Plastik-plastik juga menempel di ‘kandang manusia’ ini. Bahkan atapnya sangat pendek sehingga Dartam hanya bisa jongkok.

“Setiap hari bawa senjata tajam dan mengancam kepada semua orang yang ada di sekitarnya. Sehingga, keluarga memutuskan untuk mengerangkeng supaya tidak membahayakan tetangga,” kata Karsiwen (52), Adik kandung Dartam, Rabu (25/11/2015) kemarin.

Menurut dia, dahulu kakaknya juga punya banyak pacar, tapi entah kenapa semenjak gadis pujaannya memilih lelaki lain, kakaknya jadi berubah dan sering membuat repot keluarga. Bahkan kakaknya itu dulu sering memukuli orang tuanya saat masih hidup. Beberapa kali orang tuanya sering menjadi sasaran kakaknya.

“Ya kayak gitu saja, kalau tidak dikayak begini (dikurung) sering buat repot, jadi tidak ditaruh di rumah,” ujarnya.

Dirinya mengungkapkan jika kakaknya pernah dibawa berobat ke Rumah Sakit Jiwa di Banyumas, namun pihak rumah sakit tidak mau menerima kakaknya. “Pernah ditaruh ke Rumah Sakit Banyumas, tapi tidak mau terima, ya tidak tahu kenapa itu,” ujarnya.

Menurut Siti Hasanah, tetangga Dartam mengatakan jika Dartam sering menyapa tetangganya yang lewat di depan tempat dia dikurung. Bahkan jika malam tiba, dirinya sering mendengar Dartam bernyanyi-nyanyi dalam tempatnya dikurung.

“Dia sering menyapa warga yang lewat. Awalnya saya sempat merasa takut, tetapi kata suami saya tidak apa-apa. Akhirnya, kami terbiasa juga,” katanya.

Dirinya mengaku tidak begitu mengetahui awal mula Dartam sampai di kurung dalam gubuk kecil tersebut, yang dirinya tahu jika dahulu Dartam sering mengamuk dan melempari setiap mobil yang lewat dengan batu.

“Dulu dia suka melempari kaca mobil orang yang sedang melintas di depan rumah. Sudah beberapa kali pihak kecamatan, serta kapolsek membawanya ke Rumah Sakit Jiwa Banyumas. Tapi tidak bisa disembuhkan karena sepulang dari rumah sakit jiwa tetap kambuh suka mengamuk,” ujarnya.

Saat ditanya, Dartam mengaku jika dirinya sangat ingin keluar dan tidak betah berada di dalam kurungan tersebut. Dia juga mengaku jika malam tiba kurungannya sangat gelap dan sering ada ular.

“Disini tidak enak, pengin keluar, didalam sini juga tidak bisa berdiri, tidak muat. Kalau malam gelap, tidak ada lampunya, pengin keluar, karena sering ada ular. Tidak tahu mengapa dikandangin,” ungkapnya yang mengaku makan tiga kali seharI(SB/DTC)