Optimalisasi dan Inovasi, Tepis Senjakala Media Cetak?

Presiden RI Joko Widodo didampingi Kepala Staf Kepresidenan RI Jendral TNI (Purn) Moeldoko dan staf dalam satu kesempatan di Medan menerima masukan dari para pemimpin redaksi dan pemimpin umum media cetak menerima masukan melalui Syarikat Perusahaan Pers (SPS) agar pemerintah menurunkan harga kertas koran.

Oleh : Hermansjah-sentralberita|Medan~Belakangan ini topik perbincangan soal “Senjakala Media Cetak” makin ramai dibahas dan diperbincangkan diberbagai forum diskusi di tanah air. Tak hanya di tingkat daerah, tapi secara nasional topik itu selalu jadi bahasan menarik untuk dipersoalkan.

Hal itu tentunya tak terlepas akibat banyaknya media cetak yang berhenti terbit dan tak mampu lagi menenuhi tuntutan operasional sebuah media. tentunya hal itu ditengarai antara lain akibat berkurangnya pendapatan iklan, menyusutnya oplah serta tingginya harga kertas.

Tidak susah mencari biang kerok penyebab tergerusnya oplah dan berkurangnya pendapatan media cetak, sebab hal itu tak lain dampak dari adanya perubahan yang terjadi dalam dunia pers saat ini. Syukurnya dan kenyataan , tidak direspon secara berlebihan oleh para praktisi dan pekerja media, tapi disikapi dengan sikap terbuka menerima perubahan tersebut dan menyesuaikannya dengan situasi saat ini.

Perubahan dalam bidang teknologi dan informasi memang merambah ke segala bidang sisi kehidupan, tidak terlepas juga terhadap dunia pers. Perkembangan tersebut tentu harus disikapi sebagai sesuatu yang positif dan tidak membuat panik. Apalagi sampai apatis terhadap perubahan dimaksud.

Meskipun kemajuan media online bisa saja menyebabkan industri media mati, serta berdampak buruk bagi sektor ekonomi terutama yang berkaitan langsung dengan industri media cetak.

Kenyataan itu telah membuktikan kepada kita bahwa tidak semua media cetak mampu menghadapi perubahan. Padahal jika industri media cetak tidak segera menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang kini telah memfasilitasi dirinya dengan berbagai teknologi.

Konsekwensinya adalah masyarakat akan meninggakan media cetak. Terutama dengan semakin berkembangnya teknologi internet dan gadget. Segala bentukberita terbaru terpusat pada media digital.

Bagi orang-orang tertentu, sudah sangat jarang membeli koran (baca media cetak), dengan alasan lebih praktis dan tidak harus mengeluarkan biaya mahal, tapi cukup memiliki ponsel dan kuota internet, sehingga bisa mengakses informasi dari belahan dunia mana pun.

Dampaknya tentu sangat berpengaruh kepada oplah media cetak yang semakin hari, semakin menurun. Pelaku industri media cetak tidak bisa berdiam diri lagi dan harus segera menentukan sikap dan secara pro aktif untuk menghadapi persoalan ini. Pihak penerbit harus terus mencari inovasi untuk menjawab perubahan yang terjadi.

Ada banyak ramalan yang menyebutkan media cetak akan musnah dan akan tinggal menjadi sejarah. Sebagaimana digambarkan Philip Meyer yang menyebutkan kepunahan media cetak itu benar adanya dan akan menjadi kenyataan. Meyer dalam buku berjudul “The Vanishing Newspaper” meramalkan media cetak terakhir terbit pada April 2040. Itu artinya masa hidup media cetak tinggal 20-an tahun lagi dari sekarang. Adakah ramalan para ahli itu dapat dibuktikan? Tentu waktu yang akan menjawabnya. Kenyatannya, hari ini sudah mulai terbukti satu-satu media, perlahan tapi pasti sudah berhenti terbit. Sebut saja Surat Kabar “Sinar Harapan” yang terbit pada 1961, namun harus menghentikan penerbitannya.

Begitu pula Tabloid Bola berhenti beroperasi pada 2018, sedangkan tabloid Cek&Ricek edisi terakhirnya terbit pada 23 April 2019 dan selanjutnya beralih ke media digital. Tidak saja di ibukota, di Medan senja kala penerbitan media cetak juga terjadi.

Sebagaimana dialami Harian Medan Bisnis yang di antaranya beredar luas tidak saja di Sumut, Aceh, Pekanbaru tapi juga sampai Jakarta harus mengakhiri penerbitan terakhirnya pada 30 Maret 2019 meski versi media onlinenya masih tayang, setelah terbit hampir dua puluh tahun sejak edisi perdana pada Juli 2000 silam di Medan, Sumatera Utara.

Apa yang dialami Harian Medan Bisnis tentu sangat memprihatinkan, karena akibat berhenti operasi tentu paling menderita adalah para pekerja dan wartawan yang akan menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Krisis dialami industri media cetak masih belum berakhir.

Bila situasi buruk itu terus berlangsung dan belum bisa diatasi bukan tidak mungkin ramalan yang diungkap pakar komunikasi itu akan segera terjadi dan menimpa surat kabar yang ada saat ini. Media online yang diharapkan bisa menjadi solusi, ternyata belum juga bisa membuktikan kehadirannya bisa memecahkan persoalan.

Misalnya soal pendapatan iklan yang diperoleh, belum bisa disebutkan dapat mensejahterakan karyawan dan wartawannya. Meski ada satu dua media online yang terbit di Jakarta dinilai berhasil, namun secara umum khususnya di Sumatera Utara kehadiran media online masih belum sebagaimana diharapkan. Apalagi dengan kemudahan mendirikan media online, memunculkan persaingan semakin tajam.

Menyikapi kenyataan itu kita sudah pantas merenung kembali eksisteni media cetak di daerah ini, yang lahir dalam situasi sulit di tengah-tengah perjuangan dalam masa pemerintahan kolonial Belanda. Pers yang kala itu terbit seadanya, namun memiliki cita-cita mulia yakni berjuang melawan penjajahan Belanda.

Pulau Sumatera yang dahulu dikenal dengan sebutan Pulau Perca karena keberadaannya sebagai penghasil merica dan berbagai rempah-rempah serta hasil bumi lainnya, menjadi daya tarik tersendiri bagi saudagar Barat yang semula datang untuk berdagang. Kemudian salah satu dari negara Barat itu yakni Belanda yang kemudian menjajah Indonesia sampai ratusan tahun.

Di tengah situasi itu terjadilah perjuangan bersenjata rakyat melawan penjajah Belanda. Para politisi menggunakan surat kabar dan menggunakannya sebagai sarana untuk menyadarkan dan menanamkan keyakinan menuju tercapainya cita-cita kemerdekaan.

Sejarah juga mencatat pada 1902 di Medan terbit sebuah surat kabar diberi nama “Pertja Timor” yang dicetak pada percetakan milik seorang Belanda bernama J Hallermann, sebagaimana dikutip dari’ Sejarah Pers Sumut dan Pendidikan Dasar Perfilman/Sinetron” diterbitkan oleh Drs. H Muhammad TWH dan H. AR Qamar pada 2013. Surat kabar berbahasa Melayu pertama di Medan yang terbit setiap hari Senin dan Kamis, dengan pemimpin redaksi (Pemred) nya adalah Mangaradja Salembuwe, kehadirannya ternyata mampu m engkritisi berbagai ketimpangan yang terjadi kala itu.

Dimasa penjajahan itu pula di Medan terbit koran nasional, Surat Kabar “Pewarta Deli” yang terbit setelah kebangkitan nasional pada 1910. Kemudian enam tahun setelahnya, di susul terbit lagi Surat Kabar “Benih Merdeka” pada 1916 di Medan. Kedua surat kabar ini merupakan corong kaum pergerakan.

Orang-orang pergerakan juga ternyata adalah wartawan sebagaimana dilakoni Tengku Raja Sabaruddin, Mohd Samin, Abdullah Lubis dan lainnya, sebut penulis Sejarah Pers Sumatera Utara Drs. H Muhammad TWH dalam buku Sejarah Pers Sumut yang diterbitkan Yayasan Museum Pers Sumut pada 2013.

Haruskah sejarah panjang keberadaan media cetak di Medan khususnya, Sumatera Utara pada umumnya yang sudah tumbuh sejak zaman kolonial itu berakhir secara perlahan dan digantikan media online. Sekali lagi perjalanan waktulah kelak yang akan menjawabnya, meskipun sikap optimis tetap harus dibangun bahwa media cetak memiliki karakteristik khas dan memiliki segmen pembaca setia yang tak tergantikan oleh media online, namun pengelola harus bekerja keras agar keberadaan media cetak tetap eksis di era disrupsi (perubahan fundamental) saat ini yang memicu tantangan baru bagi pelaku bisnis menjalankan usahanya termasuk bisnis media.

Salah satu di antaranya dengan meningkatkan kualitas pemberitaan serta mendorong media cetak terus berinovasi salah satu di antaranya melalui digitalisasi koran dalam bentuk e-paper guna menjangkau pembaca yang lebih luas.

Dengan mengoptimalisasikan iklan daring yang mulai dilirik pemasang iklan, Jangkauan pembaca yang meluas, diharapkan jadi daya tarik tersendiri sehingga media cetak dapat eksis dan menyesuaikan diri seiring perubahan zaman yang saat ini tengah berlangsung.

Selain itu dukungan pemerintah untuk menurunkan harga kertas koran serta menghapus pajak pertambahan nilai (PPN) akan sangat besar maknanya mendukung kembali bangkitnya media cetak dari ancaman kepunahan sebagaimana dalam senja kala media cetak.

Hal itu secara langsung sudah disampaikan para pemimpin umum dan Pemred melalui ketua SPS Farianda P Sinik langsung kepada Presiden RI Joko Widodo didampingi Kepala Staf Kepresidenan RI Jendral TNI (Purn) Moeldoko dan staf dalam satu kesempatan di Medan.

Tulisan ini dikutip dari Buku “Bunga Rampai Pers Sumatera Utara; dari Zaman Kolonial hingga Zaman Milenial”. Diterbitkan Pemprovsu dan dijadwalkan diluncurkan, Senin (23/12-2019) di kantor gubernur Sumut. (Penulis adalah Ketua PWI Sumut)

Comments