BPS Sumut Kesulitan Data Industri Besar

Kabid Statistik Produksi BPS Sumut Dwi Prawoto.

sentralberita|Medan~Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara sampai kini tetap mengalami kesulitan untuk mendapatkan data dari industri utamanya industri besar karena mereka kurang respon terhadap setiap petugas BPS yang datang ke sana.

Kepala Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara Dwi Prawoto mengatakan hal itu kepada wartawan sebagai pembicara pada acara Workshop Wartawan Penguatan Publisitas Sensus Penduduk (SP) 2020″ di Hotel Pancur Gading Resort Jumat (29/11/2019). Acara itu dibuka Kepala BPS Sumut Syech Suhaimi.

Dwi menjelaskan kalau mau mengasi quisioner ke industri besar, petugas BPS hanya bisa sampai pintu Satpam aja. Tak banyak tanya dan data apapun yang diperoleh.

Padahal data mereka menggambarkan pertumbuhan ekonomi dan angka tenaga kerja Sumut. Jadi dari 1.200 industri besar di Sumut, kalau bisa masuk 800 saja sudah hebat, bisa 900 sudah Alhamdulillah.

“Jadi sekarang BPS melakukan pendataan melalui website dan mereka sendiri mengisinya lalu mengirim kembali ke BPS,” ungkapnya.

Dwi minta kesadaran industri besar untuk dapat memberikan data-data perusahaan, karena dijamin datanya rahasia, semuanya untuk kepentingan bangsa dan negara.

Data BPS Dikomersilkan

Secara terpisah, Danny Iskandar, peneliti BPS Sumut bagian statistik distribusi.
Badan Pusat Statistik (BPS) di tempat t yang sama mengatakan hasil survei terkini yang mereka kerjakan tetap dilansir di website. Survei itu mencakup berbagai bidang, baik di sektor pertanian, perkebunan, jumlah pengangguran, inflasi, deflasi, harga bahan pokok, dan lainnya.

“Semua data itu, semua hasil survei dan penelitian itu, kami paparkan secara terbuka, baik melalui website BPS, arau pun rilis terbuka setiap awal bulan yang dilakukan BPS secara serentak, dari mulai pusat sampai daerah,” kata Danny.

Jadi masyarakat, termasuk lembaga penelitian, perusahaan, individu, dan lainnya, bisa mengakses hasil survei dan penelitian tersebut.

Namun kata dia, ada yang malah mengkomersialkan data BPS, bahkan menjualnya kepada pihak lain dengan harga yang mahal,. “Mereka mengambil data lalu mengemas dan menjual ke pihak lain yang membutuhkan,” ujar Danny.

Ia mencontohkan satu lembaga internasional yang sering mengomersilkan data BPS. Namun Danny enggan mengungkapkan lembaga-lembaga yang disebut dipublikasikan.

“Saya tidak usah sebutkan nama-nama lembaga itu. Tapi dengan berbasis data kami, mereka menjualnya ke pihak lain. Lembaga-lembaga itu mengemas sedemikian rupa data kami sehingga terkesan itu hasil pekerjaan mereka, dijual ke perusahaan-perusahaan atau lembaga lain,” ujar Danny.

Ia enggan berpolemik soal sikap lembaga dan atau organisasi yang mengomersilkan data BPS. Namun secara pribadi ia justru merasa heran kenapa perusahaan-perusahaan yang membeli data itu malas mengakses langsung ke website BPS.(SB/wie)

Comments