BI Resmikan Klaster Cabai Merah di Pakpak Bharat

Pj. Bupati Pakpak Bharatu H Asren Nasution, Kepala Perwakilan BI Sumut Wiwiek Sisto Widayat, Ketua DPRD Pakpak Bharat Manasehat Manik, Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi dan UMKM BI Sumut Demina Sitepu serta Ketua Gapoktan Ulu Laena Ermanto Berutu menanam cabai merah di Demplot cabai merah berbasis MA 11 Binaan BI Sumut, Gapoktan Ulu Laena, Desa Ulu Merah, Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Kabupaten Pakpak Bharat Jumat (22/11/2019).

sentralberita|Pakpak Bharat~Komoditi cabai merah sebagai salah satu pemicu inflasi di Sumatera Utara perlu dikembangkan agar harganya terjaga dengan baik di masyarakat sehingga dapat menekan inflasi.

“Untuk itu BI membantu pengembangan budidaya cabai merah di beberapa daerah dengan membentuk klaster seperti di Pakpak Bharat yang diresmikan hari ini,” kata Wiwiek Sisto Widayat, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Sumatera Utara kepada wartawan di Desa Ulu Merah, Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Kabupaten Pakpak Bharat Jumat (22/11/2019).

Wiwiek bersama Pj. Bupati Pakpak Bharat H Asren Nasution meresmikan Klaster Cabai Merah di Demonstration Plot (Demplot) cabai merah berbasis MA 11 lahan Gapoktan Ulu Laena Desa Ulu Merah, Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Kabupaten Pakpak Bharat Jumat (22/11/2019).

Ikut bersama mereka Ketua DPRD Pakpak Bharat Manasehat Manik, Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi dan UMKM BI Sumut Demina Sitepu serta Ketua Gapoktan Ulu Laena Ermanto Berutu.

Wiwiek mengatakan BI kini membantu di salah satu tanah yang potensial di Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Pakpak Bharat, yang diberkahi tanah subur sehingga memiliki sumber daya alam yang kaya tercermin dari sektor utama penopang pertumbuhan ekonominya yaitu pertanian.

Distribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) triwulan III Sumut mencapai 24,95 persen diikuti sektor Perdagangan Besar dan Eceran industri pengolahan 18,01 persen dan Industri Pengolahan 17,99 persen (Berita Resmi Statistik, BPS). Pangsa sektor pertanian yang besar ini juga diikuti pertumbuhan per trwiulan III 2019 sebesar 4,07 persen (yoy), meskipun masih di bawah pertumbuhan PDRB yang tercatat sebesar 5,11 persen.

Selain itu, di sisi penyerapan tenaga kerja, kata Wiwiek, sektor pertanian memiliki penyerapan tenaga kerja tertinggi dengan prosentase sebesar 35,54 persen dari total tenaga kerja yang ada di Provinsi Sumatera Utara, diikuti sektor perdagangan dan industri pengolahan yang masing-masing menyerap 17,67 persen dan 9,91 persen dari total tenaga kerja di Sumut.

“Di sisi lain, volatile food menjadi salah satu kunci penting yang berkontribusi terhadap inflasi. Salah satu komoditas penyumbang inflasi seperti yang kita ketahui adalah cabai merah,” tegas Wiwiek.

Ia menjelaskan per akhir triwulan III 2019, cabai merah menjadi komoditas utama penyumbang inflasi di Sumatera dengan pertumbuhan sebesar 84,18 persen (yoy) dan andil inflasi sebesar 1,26 persen.

Per Oktober 2019 telah mencatatkan deflasi didorong deflasi pada komoditas volatile food sejalan dengan penurunan harga cabai merah dan cabai rawit karena masuknya musim panen (Laporan Rekda, Nov 2019). Hal tersebut semakin menguatkan kita pentingnya menjaga supply dari komoditas cabai merah ini.

“Karena itulah, Bank Indonesia terus berupaya untuk bersinergi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak salah satunya melalui program pendampingan Klaster seperti yang dilakukan saat ini untuk Gapoktan Ulu Laena,” kata Wiwiek.

Sebagai informasi, Bank Indonesia saat ini mendampingi 7 Klaster terkait pertanian dan perkebunan, 3 Klaster terkait kerajinan, yang seluruhnya tersebar di seluruh wilayah kerja Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara. “Tentu saja seluruh pendampingan ini tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari Pemerintah setempat,” ungkapnya.

Sejalan dengan destination statement Bank Indonesia yaitu pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, KPw BI Sumatera Utara turut mengawal pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang stabil melalui program kerja, inovasi dan kerjasama melalui Tim Pengendali Inflasi Derah (TPID). “Melalui rekomendasi dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Pakpak Bharat, maka kami melakukan survei ke kelompok Sada Arih dan Anui yang terletak di Desa Lae Langge Namuseng dan Ulu Merah,” ujarnya.

Dengan total lahan 10 hektar yang masing-masing memiliki 5 hektar. Selanjutnya, kedua kelompok tersebut dijadikan satu menjadi Gabungan Kelompok Tani Ulu Laena, untuk awalnya ditanam di lahan seluas 2,5 hektar.Kita semua sadar bahwa penanaman cabai merah secara organik memiliki tantangan tersendiri untuk kita semua, mengingat hal tersebut belum biasa dilakukan oleh Gapoktan Ulu Laena,” jelasnya.

Wiwiek menambahkan BI memberikan bibit. traktor dan juga pendampingan tenaga ahli pertanian dengan metode pertanian organik.
Sebagai tahap awal pendampingan, BI telah melaksanakan pemberian materi terkait perubahan mindset dengan narasumber certified coaches yaitu tim IMUTS pada tanggal 18 November 2019, selanjutnya juga telah dilakukan pelatihan budidaya cabai merah organik dan pembuatan pupuk organik mulai 19 sampai 21 November 2019 bertempat di lahan petani Gapoktan dengan narasumber Dr Nugroho Widiasmadi, peneliti MA 11 yang sudah sangat berpengalaman mendamping kelompok tani binaan Bank Indonesia.

Demplot penanaman cabai merah pada lahan percontohan seluas 10 hektar yang tersebar di dua desa (Desa Ulu Merah
dan saat ini yang ada di hadapan kita adalah demplot dengan luas lahan 2,5 Ha dengan lokasi penanaman Desa Ulu Merah dan DesaLae Langge Namuseng.

Pj Bupati Pakpak Bharat H Asren Nasution mengatakan potensi sumber daya alam di Pakpak Bharat cukup besar. Selain cabai merah, juga gambir dan jagung. Ia berharap BI mau membantu pembinaan untuk gambir dan jagung.

“Pemerintah dan masyarakat Pakpak Bharat menyambut baik adanya perhatian BI Sumut dalam memberikan bantuan,” ungkap Asren.
(SB/wie)

Comments