Sekda Terima Kunjungan dari Kedutaan Jerman,Sampaikan Potensi Besar Investasi di Sumut


Sekertaris Daerah Provinsi Sumatera Utara Sabrina menerima kunjungan dari Direktur Jenderal Urusan Ekonomi dan Global Isu Kedutaan Besar Republik Federal Jerman, Mr. Hendrik Barkeling, di ruang kerjanya, lantai 9, Kantor Gubernur Sumatera Utara Jalan Diponegoro 30 Medan, Kamis (15/08).

Sentralberita|Medan ~ Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara (Sekdaprov Sumut) Hj R Sabrina menyampaikan bahwa pontensi bagi negara lain berinvestasi di daerah ini sangat besar. Luasnya wilayah dan kayanya sumber alam, menjadikan provinsi dengan 33 kabupaten/kota ini surga bagi penanam modal.

Hal itu disampaikan Sekda saat menerima kunjungan Dirjen Ekonomi dan Global Isu Kedutaan Besar Jerman Hendrik Barkeling beserta Konsul Kehormatan Jerman di Medan Darmadi Liliek di ruang kerjanya, Kamis (15/8).

Dalam perbincangan yang berlangsung, Sabrina mengatakan bahwa Sumut memiliki luas wilayah dengan ukuran lebih dari setengah pulau Jawa. Punya banyak potensi sumber daya alam (SDA), mulai dari kawasan pantai hingga pegunungan, kawasan perkebunan hingga hutan. Termasuk kawasan perindustrian sampai lokasi pariwisata yang eksotis.

“Intinya kami membuka peluang kepada negara asing untuk berinvestasi di sini. Untuk industri saja, kita punya KEK (Kawasan Industri Khusus) Sei Mangkei yang khusus untuk produksi kelapa sawit dan turunannya,” sebut Sabrina.

Untuk keberadaannya sendiri, mendukung investasi karena mudahnya perizinan tanpa harus ke Jakarta. Bahkan di Pemprov Sumut tengah disiapkan sistem yang lebih meringankan, yakni menggunakan barcode (elektronik). Sehingga nantinya jika Kepala Dinas atau pejabat terkait tidak berada di tempat, proses tetap bisa berjalan.

“Kami punya banyak hasil alam. Tetapi produksinya yang perlu dikembangkan. Makanya kami banyak mengirimkan anak-anak muda untuk belajar ke luar negeri sambil bekerja. Setelah dua tahun, mereka kembali ke sini, untuk mengabdi di sini setelah mendapat penidikan di luar,” jelas Sabrina.

Begitu juga soal pariwisata andalan seperti Danau Toba dan lainnya, Sekda mengakui bahwa permasalahan yang masih perlu dibenahi adalah bagaimana mengelola limbah yang dihasilkan dari berbagai tempat, baik produksi maupun domestik.

“Selain itu, kita juga ada Nias yang bisa dijadikan tujuan wisata. Namun keterbatasan di sana karena pulau, memerlukan pembangunan yang lebih maju. Supaya masyarakatnya tidak lagi sibuk merantau ke luar,” kata Sekda.

Untuk itu, Sekda berharap pihak Kedutaan Jerman bisa menyampaikan potensi tersebut. Agar investasi yang lebih banyak mengarah ke Pulau Jawa, bisa dialihkan ke Sumut.

Menanggapi itu, Dirjen Ekonomi dan Global Isu Kedutaan Besar Jerman Hendrik Barkeling menyampaikan terima kasih atas penerimaan Pemprov Sumut kepada investor asing, khususnya negara mereka.

Dirinya mengakui bahwa kondisi infrastruktur selama ini menjadi satu kendala yang membuat investor dari Negaranya enggan berinvestasi di daerah, termasuk Sumut. Namun setelah melihat dan mendengarkan paparan singkat Sekda, dirinya meyakini peluang untuk provinsi ini dilirik pemodal asal Eropa cukup tinggi.

“Saya akan sampaikan ini ke rekan-rekan saya di Jakarta. Selama ini kami membuka peluang untuk bekerja sambil belajar di Jerman. Apalagi dari Indonesia cukup banyak di sana. Tetapi masalahnya dimana-mana adalah pada bahasa. Karena walaupun mereka pintar, tidak begitu efektif kalau tidak menguasai bahasa Jerman,” sebut Hendrik, yang menyebutkan ada program belajar bahasa Jerman yang mereka buka di Jakarta.

Hambatan lainnya adalah kebiasaan orang Indonesia yang mengonsumsi nasi. Sedangkan di Negaranya, makanan utama adalah roti dan kentang. Sehingga meskipun sangat senang jika orang Indonesia mau menetap dan bekerja di Jerman, namun mereka tidak bisa memaksa.

“Banyak yang memilih pulang ke Indonesia. Mungkin karena di sana (Jerman) dingin, dan tidak ada nasi bungkus,” pungkas Hendrik dibalas tawa Sabrina.

Usai bertemu, Hendrik pun diberikan cinderamata berupa plakat dan kain ulos khas Batak dari Sumut.

(SB|01)

Comments